Benci tapi Rindu
Hubungan Indonesia–Australia kerap digambarkan sebagai benci tapi rindu. Perbedaan prinsip yang mendasar antara kedua negara, terutama dalam hal bahasa dan kultur, telah menjadi salah satu akar yang membuat jarak psikologis di antara mereka menjadi sulit meskipun secara geografis hanya dipisahkan oleh laut yang relatif sempit. Indonesia Australia adalah laksana pasangan yang tak bisa memilih tetangga. Kedekatan geografis memaksa keduanya hidup berdampingan, tetapi sejarah menunjukkan hubungan ini lebih sering diwarnai kecurigaan dari pada kepercayaan. Dari solidaritas buruh Australia yang memboikot kapal Belanda pada 1945, hingga kesepakatan kapal selam nuklir AUKUS pada 2021, relasi kedua bangsa seolah berputar dalam siklus yang sama. Kedekatan yang rapuh, mudah diguncang oleh persepsi ancaman dan kesalahpahaman strategis.
Tulisan berikut ini menawarkan peta lengkap tentang pasang-surut hubungan tersebut. Yang menarik, ulasan ini tidak berhenti pada narasi heroik Black Armada atau Armada Hitam. Gerakan buruh Australia yang menolak mengangkut pasukan Belanda ke Indonesia pada 1945–1949. Ia melacak bagaimana solidaritas itu perlahan tergantikan oleh dinamika kecurigaan strategis yang bertahan puluhan tahun, bahkan hingga hari ini.
Solidaritas yang Dilupakan
Armada Hitam adalah salah satu episode paling cerah dalam hubungan bilateral. Ketika Belanda berusaha merebut kembali Indonesia setelah proklamasi 1945, pelaut dan buruh Australia menolak memuat kapal-kapal Belanda. Mereka melihat kemerdekaan Indonesia sebagai perpanjangan dari hak menentukan nasib sendiri yang mereka perjuangkan di negeri sendiri. Solidaritas lintas kebangsaan ini bukan sekadar sentimen antikolonial, melainkan cerminan kesadaran kelas pekerja Australia yang merasa senasib dengan rakyat Indonesia, tetangga terdekatnya.
Dalam perkembangannya, Warisan Armada Hitam justru menjadi ironi. Ketika Indonesia merdeka, Australia yang semula mendukung mulai melihat Jakarta sebagai ancaman. Sengketa Irian Barat pada 1960-an, Konfrontasi dengan Malaysia, dan kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet dan China membuat Canberra gelisah. Dokumen-dokumen pertahanan Australia pada era itu, menunjukkan pergeseran persepsi, dari sahabat antikolonial menjadi tetangga yang harus diwaspadai.
Kamaria dan Musuh yang Diciptakan
Yang paling menarik dari ulasan berikut ini adalah pembahasan tentang “Kamaria”, negara fiktif yang digunakan Australia dalam skenario latihan militer Kangaroo 89. Kamaria digambarkan sebagai kekuatan dari utara yang mengancam Australia. Dalam imajinasi strategis Canberra, “utara” hampir selalu berarti Indonesia. Meskipun tidak disebut secara eksplisit, skenario Kangaroo 89 mengirim pesan yang sulit disalahtafsirkan bahwasanya Australia sedang berlatih menghadapi ancaman dari Indonesia.
Inilah inti persoalan hubungan bilateral. Ketidakmampuan Australia untuk melihat Indonesia sebagai mitra setara, dan ketidakmampuan Indonesia untuk sepenuhnya mempercayai niat Australia. Ketika Timor Timur lepas dari Indonesia pada 1999 dan Australia memimpin pasukan internasional, kecurigaan itu mencapai puncaknya. Hubungan bilateral jatuh ke titik terendah. Perjanjian Lombok 2006 memang memulihkan kerja sama pertahanan, tetapi luka lama secara alamiah memang akan sulit hilang.
Siklus yang Berulang
Pola yang terlihat dari dokumen ini adalah siklus yang berulang. Solidaritas berubah menjadi kecurigaan yang kemudian berlanjut menjadi krisis. Setelah berhasil dicapai tahap pemulihan, ternyata muncul kecurigaan yang lain lagi. AUKUS adalah bab terbaru dari siklus itu. Ketika Australia memutuskan membeli kapal selam bertenaga nuklir dengan bantuan Amerika Serikat dan Inggris, Indonesia,meskipun tidak secara langsung menyatakan permusuhan, tetap menyampaikan kekhawatiran. Pertanyaannya sederhana saja. Untuk apa Australia membutuhkan kapal selam bertenaga nuklir? Jawaban Canberra adalah untuk menghadapi antisipasi krisis Laut China Selatan. Tetapi di Jakarta, pertanyaan lain muncul, sebuah pertanyaan yang wajar. Apakah kapal selam itu juga dipersiapkan untuk menghadapi Indonesia? Di sinilah pentingnya transparansi mengenai perlunya “pencegahan salah perhitungan.” Tanpa komunikasi strategis yang jujur, setiap pembelian senjata atau latihan militer akan selalu ditafsirkan sebagai ancaman. Dilema keamanan, di mana satu negara memperkuat diri, negara lain merasa terancam dan ikut memperkuat diri. Sebuah siklus yang akan terus berputar.
Bahasa yang Hilang, Pengetahuan yang Menyusut
Salah satu hal paling menyentuh adalah perkembangan terakhir yang beredar tentang bahasa Indonesia di Australia. Jumlah pelajar yang mempelajari bahasa Indonesia di Australia terus menyusut. Laporan parlemen Australia menyebut kemampuan Asia warga Australia berada dalam krisis. Ini bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan persoalan strategis. Tanpa kemampuan berbahasa Indonesia, bagaimana Australia bisa memahami Indonesia? Tanpa pemahaman, bagaimana kepercayaan bisa dibangun? Sebaliknya, di Indonesia, pengetahuan tentang Australia juga dangkal. Media massa lebih sering memberitakan Australia ketika ada krisisTimor Timur, Papua, atau AUKUS dari pada membahas kerja sama sehari-hari. Pendidikan sejarah di kedua negara jarang menempatkan hubungan bilateral dalam konteks yang seimbang. Akibatnya, citra tetangga dibentuk oleh prasangka dan berita episodik, bukan oleh pemahaman mendalam.
Dari Kedekatan Geografis menuju Kepercayaan Strategis
Ulasan ini akan ditutup dengan judul yang tepat. “Dari Kedekatan Geografis menuju Kepercayaan Strategis.” Judul ini menyiratkan bahwa kedekatan geografis tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Kepercayaan harus dibangun melalui kerja keras antara lain dengan dialog yang jujur, transparansi pertahanan, pertukaran pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat yang berkelanjutan.
Perjanjian Lombok 2006 dan berbagai kerja sama antiterorisme, keamanan maritim, serta bantuan bencana adalah fondasi yang baik. Tetapi fondasi itu rapuh jika tidak diperkuat oleh pemahaman budaya dan bahasa. Australia perlu kembali serius mengajarkan bahasa Indonesia. Indonesia juga perlu lebih terbuka mempelajari Australia, bukan hanya sebagai negara Barat, tetapi sebagai tetangga dengan dinamika politik dan sosialnya sendiri. Yang paling penting, kedua negara perlu berhenti menciptakan “Kamaria-Kamaria” baru. Skenario latihan militer yang secara implisit menargetkan tetangga hanya akan memperkuat siklus kecurigaan. Sebaliknya, latihan bersama, pertukaran perwira, dan komunikasi informal antarperwira, seperti yang selama ini telah berjalan adalah cara yang lebih produktif untuk membangun kepercayaan.
Di sinilah sebenarnya peran IKAHAN (Ikatan Alumni Pertahanan Indonesia–Australia) dan SAG (Senior Advisory Group) menjadi krusial. Didirikan pada 2011, IKAHAN adalah asosiasi alumni pertahanan pertama Indonesia dengan lebih dari 5.000 anggota dari semua pangkat dan angkatan, yang bertujuan memelihara hubungan antarwarga yang telah dibangun antara TNI dan Australian Defence Force serta memberikan informasi tentang perkembangan hubungan pertahanan bilateral. Sejak awal IKAHAN dan SAG memang dimaksudkan sebagai jembatan komunikasi di semua tingkatan, dari kadet hingga pemimpin pertahanan senior.
Warisan Armada Hitam sebagai Pelajaran
Armada Hitam mengajarkan bahwa solidaritas antara rakyat Indonesia dan Australia pernah ada, dan itu nyata. Tetapi solidaritas itu dibangun oleh buruh, pelaut, dan aktivis, bukan oleh para elit di pemerintahan. Hari ini, ketika hubungan bilateral lebih banyak ditentukan oleh elite politik dan militer, warisan Armada Hitam seharusnya menjadi pengingat. Hubungan yang kuat tidak dibangun di atas dokumen pertahanan, melainkan di atas rasa saling pengertian antara masyarakat.
Indonesia dan Australia tidak bisa mengubah geografi. Mereka akan selalu bertetangga. Yang bisa diubah adalah cara mereka memandang satu sama lain. Dari Armada Hitam hingga AUKUS, kita belajar bahwa kecurigaan adalah pilihan, dan begitu pula kepercayaan. Sudah waktunya kedua bangsa memilih yang terakhir. Kedua negara harus segera mengakhiri pola hubungan yang tampak sebagai hubungan yang Benci tapi Rindu !
Jakarta 9 Oktober 2026
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia (Tulisan ini adalah opini pribadi)

