Sikap Orang Tua atau Senior.

This item was filled under [ Article, Education, Life, Opinion ]

Dalam menghadapi anak-anak muda, generasi penerus bangsa, maka yang dibutuhkan adalah sikap yang tepat dari para senior dan atau orang tua mereka. Anak muda membutuhkan sikap yang mendidik, satu sikap yang mempunyai nilai edukasi, agar pertumbuhan para anak muda bangsa itu menjadi sehat dan sejahtera. Ada dua pedoman penting yang seyogyanya menjadi pegangan para orang tua dalam hal ini yaitu memberikan bimbingan atau guidance dan contoh atau keteladanan atau set the example. Pilihan atau alternatif akhir hendaknya diberikan kebebasan kepada para anak muda itu untuk memutuskannya. Proses pengambilan keputusan ini adalah juga merupakan bagian dari pendidikan terutama dalam konteks menentukan sikap. Proses bagaimana decision making itu berjalan.
Dengan demikian secara utuh mereka juga berhadapan dengan tindak lanjutnya yang akan berujud dengan tanggung jawab. Belajar mengambil keputusan, haruslah berjalan dengan keleluasaan yang besar, agar tuntutan tanggung jawab terhadap pilihan yang telah diambil menjadi bagian yang utuh dari proses pengambilan keputusan tersebut. Dalam konteks ini akan berjalan relatif sejajar antara berlatih mengambil keputusan yang berangkai dengan tumbuhnya rasa tanggung jawab sebagai risiko dari proses pengambilan keputusan tersebut.
Decision making, can be regarded as the mental processes (cognitive process) resulting in the selection of a course of action among several alternative scenarios. Every decision making process produces a final choice. The output can be an action or an opinion of choice.
Dalam hal ini, action dan atau opinion of choice itulah yang akan selalu berhadapan atau diikuti dengan tanggung jawab.
Khusus mengenai bagaimana mendidik dalam hal pengambilan keputusan , menarik untuk diikuti ilustrasi berikut ini:
Mengambil keputusan adalah sesuatu yang harus dilatih. Latihan mengambil keputusan seharusnya sudah dimulai dari sejak usia dini. Professor Diran, guru besar Institute Teknologi Bandung, dalam salah satu ceramahnya, memberikan satu ilustrasi yang sangat menarik.
Prof. Diran mengatakan, salah satu kelemahan orang Indonesia adalah dalam mengambil keputusan. Mereka pada umumnya selalu kalah cepat dengan rekan-rekannya dari negara lain, terutama dari negara maju tentu saja. Mengapa? Sebabnya sederhana sekali. Beliau memberikan contoh bagaimana anak-anak kecil orang Indonesia, seolah tidak boleh menentukan sendiri kemauannya. Dari sejak kecil sudah “familiar” bahwa hanya orang tua lah yang memutuskan segala sesuatunya dalam setiap aspek kehidupan. Mungkin, lebih kurang, kita semua juga mengalami hal seperti itu.
Contoh sederhana adalah bila kita bersama-sama makan di sebuah restoran, maka biasanya yang memilih menu terlebih dahulu, akan kemudian diikuti oleh seluruh teman-temannya. Apalagi bila itu terjadi di Luar Negeri. Satu orang memilih “orange Juice”, maka biasanya diikuti dengan “same” dan akhirnya semua nya “same” Celakanya, walaupun ada juga yang tidak doyan dengan “orange juice” ya tetap saja memesan “same” juga alias “orange juice”. Mengapa? ya itu tadi, tidak biasa mengambil keputusan sendiri, dan juga merasa sungkan untuk menjadi lain sendiri. Tapi yang inti adalah “tidak biasa mengambil keputusan”
Nah, setelah beliau berkeluarga, atas persetujuan dengan isteri, maka beliau melatih anak-anaknya dari sejak usia dini untuk mengambil keputusan sendiri terhadap segala sesuatu yang menyangkut kepentingan mereka sendiri, tentunya. Disinilah, mereka belajar memutuskan sesuatu dan kemudian dipersilahkan menikmati hasil keputusannya itu.
Memutuskan masalah dengan solusi “A”, yang kemudian berakibat enak atau tidak enak, atau memutuskan dengan solusi “B”, juga dengan akibat yang dihadapi kemudian senang atau tidak menyenangkan. Inilah proses pembelajaran yang kemudian menjadi bekal pengalaman bagi sang anak untuk mengambil keputusan selanjutnya atau yang akan datang. Demikianlah, tentu saja dengan bimbingan yang mendidik dari orang tuanya, anak-anak pak Diran menjadi terlatih dalam soal mengambil keputusan sendiri. Kesemuanya tentu saja melalui tahapan-tahapan yang diperkirakan sesuai dengan usia sang anak. Mereka menjadi “well trained” dalam soal mengambil keputusan. Celakanya, masih kata Prof Diran, pada satu waktu anaknya ulang tahun, dibawa ke satu toko dan disuruh menentukan sendiri kadonya mau apa, dan keputusan yang diambil oleh sang anak adalah sesuatu barang atau mainan yang digemarinya, yang…cukup mahal harganya?! Apaboleh buat, saya harus konsisten dan harus konsekuen, karena ini adalah proses mendidik anak, dimana faktor tanggung jawab juga harus paralel diberikan dengan contoh atau keteladanan. Jalan keluarnya, ya kalau sang anak ulang tahun selalu dibawa ke toko yang kira-kira harganya terjangkau, he he he he , lanjut beliau sambil bergurau.
Ilustrasi itu sangat sederhana, namun mengandung makna yang sangat dalam. Saya sendiri, kemudian mencontoh apa yang disampaikan Professor Diran. Anak saya, alhamdullilah sudah terbiasa dengan mengambil keputusan sendiri, sepanjang yang menyangkut diri mereka sendiri. Saya dan isteri hanya memberikan saran, pertimbangan dan berbagi pengalaman dengan mereka dan kemudian mereka putuskan sendiri. Tentu saja pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Manusia tidak ada yang sempurna, namun paling tidak, kemudian terlihat bedanya anak saya dengan beberapa anak teman saya. Semasa anak-anak masih sekolah dan kuliah, beberapa teman dekat saya, sering mengeluhkan selalu banyak pertanyaan dari anaknya yang nyaris tiada henti tentang apa-apa yang harus dia putuskan dalam beberapa kegiatan disekolahnya. Anak-anaknya selalu gagal untuk dapat memutuskan sendiri pilihan-pilihan yang mereka hadapi selama sekolah dan kuliah. Anak-anak mereka selalu menunggu orang tuanya mengambil keputusan untuk dirinya. Beda sekali dengan anak saya, mereka hanya bertanya, bila betul-betul dibutuhkan kepada ayah dan ibunya untuk mendapatkan pertimbangan, lalu segera saja mereka memutuskan sendiri keinginannya. Tidak ada sedikitpun keraguan baginya, karena mereka sudah sangat “biasa” mengambil keputusan. Tentu saja melalui proses panjang “trial by error” untuk dapat mencapai kemantapan diri yang seperti itu. Sebagai manusia biasa, terkadang ada juga beberapa hal yang kami sesali sebagai orang tua terhadap keputusan yang telah diambil oleh anak-anak. Lho, kenapa yang itu yang dipilih? Lho kenapa begitu diputuskannya dan lho, lho yang lainnya. Saya kemudian selalu menghibur isteri saya, sambil juga sebenarnya menghibur diri sendiri, bahwa semakin dewasa anak-anak kita, maka akan semakin berbeda dalam melihat referensi yang digunakannya untuk mengambil keputusan. Ini tidak dapat kita hindari, namun paling tidak didalam hati saya bersukur, bahwa anak-anak saya sanggup megambil keputusan sendiri. Berbeda? saya pikir itu alamiah dan manusiawi sekali, dan mungkin itulah yang kerap terdengar sebagai “generation gap”. Minimal dalam memberikan bimbingan kepada anak, kami, saya dan isteri sudah membekalinya dengan“visi” yang ideal. Demikian pula pada proses pengambilan keputusan salah satu hal yang juga sangat penting sebagai bekal bagi sang anak adalah sikap yang “selalu berfokus pada misi“, sifat yang “mission oriented”. Itulah: Visi dan misi, dan bukan popularitas!

Disamping uraian atau ilustrasi tersebut, dalam konteks yang berbeda dapat juga dicermati ilustrasi lainnya, masih tentang pengambilan keputusan. Kisah ini dikutip dari pengalaman Jenderal George Smith Patton, lulusan Akademi Militer West Point tahun 1909. Seorang Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat, terkenal dengan gaya kepemimpinannya sepanjang perang dunia kedua. Populer karena dianggap sebagai Jenderal eksentrik dengan banyak pernyataan-pernyataannya yang kontroversial. Dia punya pemahaman sendiri mengenai bagaimana seharusnya mengambil keputusan sebagai berikut:
Ada yang mengatakan bahwa hidup adalah hanya berupa untaian dari proses pengambilan keputusan. Nah, bagaimana seseorang itu mengambil keputusan, maka itulah warna hidup yang akan dinikmatinya. Banyak sekali teori tentang bagaimana seharusnya kita mengambil keputusan, dan demikian pula banyak sekali permasalahan yang kita hadapi yang harus segera diambil keputusannya. Khusus mengenai hal ini, ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa: “sekali anda mengambil keputusan, jangan coba untuk melihat kembali kebelakang lagi”. Maksudnya, mungkin agar anda tidak kemudian menyesalinya, menyesali keputusan yang sudah anda ambil.
Bagaimana agar kita tidak kemudian menyesali keputusan yang telah diambil? Disinilah gabungan dari pengetahuan seseorang dengan karakter pribadi yang sedikit banyak akan dominan mempengaruhinya. Untuk sekedar menambah wawasan dan sedikit pengetahuan, akan saya uraikan kutipan dari, bagaimana saran Jenderal George Smith Patton dalam salah satu bukunya yang mengatakan sebagai berikut:
Ada saat yang tepat untuk membuat keputusan. Berusaha menemukan saat yang tepat adalah faktor terpenting dari semua keputusan. Merupakan kesalahan jika membuat keputusan terlalu dini, dan merupakan kesalahan jika membuat keputusan terlalu lambat. Kesalahan terbesar adalah tidak pernah membuat keputusan! Sebagian manajer adalah orang yang suka menunda-nunda, yang menunda pengambilan keputusan hingga keadaan memaksa, dan hingga “keputusan” menjadi mudah, mereka tidak mempunyai pilhan, tetapi sekedar bereaksi, apapun yang akan terjadi, terhadap tuntutan keadaan. Manajer lainnya terlalu gelisah, dan mengambil keputusan -keputusan apa saja- sesegera mungkin, dan kemudian bersusah payah menanggung akibatnya. Jenderal Patton beranggapan bahwa: “kebijakan terbaik adalah menunda keputusan selama mungkin sehingga lebih banyak fakta dapat dikumpulkan” Akan tetapi harus selalu diingat: ”Bila keputusan harus dibuat, tidak boleh lagi ada keraguan!”
Dengan menyimak uraian Patton diatas, maka akan sangat tepatlah apa yang dikatakan pada awal dari tulisan ini yaitu: “sekali anda mengambil keputusan, jangan coba untuk melihat kembali kebelakang lagi”.
Lebih dari itu, sebagai seorang pemimpin, maka anda harus lebih tegas lagi dalam mengambil keputusan. Ragu-ragu akan merefleksikan kelemahan anda, merefleksikan “ketakutan” anda, padahal, pemimpin itu harus “berani”, berani berbuat dan berani bertanggung jawab! Untuk itu, yang paling dan maha penting adalah sebagai “bos” anda tidak mungkin untuk dapat menyenangkan semua orang, dan jangan pula pernah mencobanya, karena: “If you want to please everybody, you please nobody”.

Jakarta 15 Januari 2012
Chappy Hakim

Anak Muda !

This item was filled under [ Article, Case, Education ]

Anak muda selalu identik dengan sesuatu yang dinamis, energik, penuh semangat atau spirit. Di samping itu juga menyimpan kekuatan yang dapat diandalkan, memiliki tenaga yang kuat, stamina dan ausdauer. Mereka menyimpan impian atau dream atau cita-cita yang nun jauh disana. Anak muda selalu saja di lihat berada pada masa yang penuh dengan pemikiran-pemikiran ideal. Anak muda pada umumnya adalah idealis, mereka relatif masih bersih dari pikiran-pikiran yang menyimpang. Anak muda selalu menginginkan yang terbaik, yang the best yang dapat mereka peroleh.
Keistimewaan dari kondisi anak muda ini tergambar jelas dari misalnya saja satu tim Sepak Bola. Mereka pasti berusia muda, sampai dengan usia 25 atau 30 tahun, biasanya mereka sudah harus berhenti karena faktor umur. Hampir semua kegiatan yang menyangkut terutama sekali dengan kekuatan fisik, pasti dikuasai oleh para pemuda. Dalam perang dunia, RAF, Angkatan Udara Inggris bahkan mempunyai satu skadron bomber yang para Pilotnya harus berusia 17 sampai dengan 23 tahun saja dan belum kawin. Disini memang diperlukan semangat dan kekuatan fisik prima dari anak muda untuk dapat menjalankan misinya dengan tidak terkendala banyak pertimbangan. Usia muda seseorang adalah memang merupakan “golden period of time” dimana mereka yang dapat memanfaatkannya dengan baik, maka dia akan berguna bagi orang lain dan sekaligus sebagai bekal hidupnya nanti di hari tua.
Seiring dengan perjalanan hidup, tidak dapat dihindarkan bahwa mereka akan berhadapan dengan banyak hambatan, aral melintang dan banyak lagi yang kesemuanya itu berujud sebagai satu realita, satu kenyataan hidup. Disinilah kemudian, wajar saja muncul keluhan-keluhan dan atau komplain terhadap apa yang mereka hadapi itu. Disinilah kemudian muncul protes atau sejenis pemberontakan terhadap apa saja yang dianggap oleh mereka sebagai hambatan atau halangan atau bahkan mungkin sebagai satu ketidak-adilan.
Dari pertemuan di persimpangan jalan antara keinginan dan kenyataan itulah maka muncul satu sikap yang secara umum dapat disimpulkan sebagai satu keinginan untuk berubah. Mereka mendambakan satu perubahan.
Tentang pemuda dan anak muda, Bung Karno menguraikannya seperti ini: “Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang dilangit.” dan juga dikatakan dengan “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, akan tetapi satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”

Jakarta 15 Januari 2012
Chappy Hakim

Negeri Autopilot ?

This item was filled under [ Article, Case, Flight ]

Belakangan ini beredar istilah Negeri Autopilot. Apa sebenarnya yang dimaksud?
Terminologi dalam dunia penerbangan, sebagaimana dunia penerbangan itu sendiri memang selalu menarik perhatian. Dunia penerbangan yang dikenal sebagai hal yang Glamour dan Luxurious telah menyebabkan semua yang berhubungan dengan penerbangan menjadi kelihatan “keren”. Termasuk didalamnya adalah , orang lalu merasa lebih “keren” bila berkomunikasi menggunakan istilah-istilah penerbangan.
Mencari padanan bahasa Indonesia dari terminologi penerbangan yang pada umumnya berbahasa Inggris itu sebenarnya tidak mudah. Keterbatasan kosa kata yang dimiliki bahasa Indonesia menyebabkan cukup sulit untuk menemukan padanan istilah atau terminologi penerbangan, apalagi yang bersifat teknis. Sekedar contoh saja bahwa “lepas landas” tidak dapat dipadankan dengan kata “take off” karena “lepas landas” sendiri sudah ada istilah lainnya yang dikenal dengan “air-borne”.
Lalu, bagaimana dengan Autopilot ! Autopilot adalah satu peralatan di pesawat terbang yang dapat membantu Pilot dalam menerbangkan pesawat. Autopilot yang biasanya bekerja dengan tenaga mekanik atau elektrik atau hidraulik atau kombinasi dari ketiganya dapat menerbangkan pesawat tanpa dikemudikan oleh sang Pilot. Autopilot ini bila dihubungkan dengan Flight Management System, maka dia akan menerbangkan pesawat sesuai dengan Flight Plan yang sudah diprogram didalamnya. Jadi pesawat yang sedang terbang dengan Autopilot, tidak ada yang salah , justru hal tersebut dapat membantu Pilot menjadi lebih relaks dan dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan lebih baik karena hanya tinggal mengawasi atau mengamati dan “cross-check” pada panel instrument di kokpit. Dengan kemajuan teknologi, bahkan kini sudah ada Autopilot yang dapat menerbangkan pesawat sampai landing dengan selamat yaitu dibantu oleh peralatan yang bernama ILS, Instrument Landing System.
Jadi istilah Negeri Autopilot agak kurang jelas apa maksudnya. Bila hal itu dimaksudkan sebagai negeri yang tidak jelas tujuannya, maka istilah itu menjadi salah besar. Menjadi salah yang lebih besar lagi , bila mengatakan bahwa Autopilot itu adalah istilah Angkatan Udara, karena Autopilot adalah terminologi dalam dunia penerbangan pada umumnya.
Demikian semoga pengertian tentang Autopilot tidak menjadi rancu beredar dimana-mana.

Mengambil Keputusan !

This item was filled under [ Article, Education ]

Mengambil keputusan adalah sesuatu yang harus dilatih. Latihan mengambil keputusan seharusnya sudah dimulai dari sejak usia dini. Professor Diran, guru besar Institute Teknologi Bandung, dalam salah satu ceramahnya, memberikan satu ilustrasi yang sangat menarik.

Prof. Diran mengatakan, salah satu kelemahan orang Indonesia adalah dalam mengambil keputusan. Mereka pada umumnya selalu kalah cepat dengan rekan-rekannya dari negara lain, terutama dari negara maju tentu saja. Mengapa? Sebabnya sederhana sekali. Beliau memberikan contoh bagaimana anak-anak kecil orang Indonesia, seolah tidak boleh menentukan sendiri kemauannya. Dari sejak kecil sudah “familiar” bahwa hanya orang tua lah yang memutuskan segala sesuatunya dalam setiap aspek kehidupan. Mungkin, lebih kurang, kita semua juga mengalami hal seperti itu. Contoh sederhana adalah bila kita bersama-sama makan di sebuah restoran, maka biasanya yang memilih menu terlebih dahulu, akan kemudian diikuti oleh seluruh teman-temannya. Apalagi bila itu terjadi di Luar Negeri. Satu orang memilih “orange Juice”, maka biasanya diikuti dengan “same” ! dan akhirnya semua nya “same” ! Celakanya, walaupun ada juga yang tidak doyan dengan “orange juice” ya tetap saja memesan “orange juice”. Mengapa ? ya itu tadi, tidak biasa mengambil keputusan sendiri, dan juga merasa sungkan untuk menjadi lain sendiri. Tapi yang inti adalah “tidak biasa mengambil keputusan”!
Nah, setelah beliau berkeluarga, atas persetujuan dengan isteri, maka beliau melatih anak-anaknya dari sejak usia dini untuk mengambil keputusan sendiri terhadap segala sesuatu yang menyangkut kepentingan mereka sendiri, tentunya. Disinilah, mereka belajar memutuskan sesuatu dan kemudian dipersilahkan menikmati hasil keputusannya itu. Memutuskan masalah dengan solusi “A”, yang kemudian berakibat enak atau tidak enak, atau memutuskan dengan solusi “B” , juga dengan akibat yang dihadapi kemudian senang atau tidak menyenangkan. Inilah proses pembelajaran yang kemudian menjadi bekal pengalaman bagi sang anak untuk mengambil keputusan selanjutnya atau yang akan datang. Demikianlah, tentu saja dengan bimbingan yang mendidik dari orang tuanya, anak-anak pak Diran menjadi terlatih dalam soal mengambil keputusan sendiri. Kesemuanya tentu saja melalui tahapan-tahapan yang diperkirakan sesuai dengan usia sang anak. Mereka menjadi “well trained” dalam soal mengambil keputusan. Celakanya, masih kata Prof Diran, pada satu waktu anak nya ulang tahun, dibawa ke satu toko dan disuruh menentukan sendiri kadonya mau apa, dan keputusan yang diambil oleh sang anak adalah sesuatu/barang/mainan yang digemarinya, yang…cukup mahal harganya?! Apaboleh buat, saya harus konsisten dan harus konsekuen, karena ini adalah proses mendidik anak, dimana faktor tanggung jawab juga harus paralel diberikan dengan contoh atau keteladanan. Jalan keluarnya, ya kalau sang anak ulang tahun selalu dibawa ke toko yang kira-kira harganya terjangkau, he he he he , lanjut beliau sambil bergurau.

Ilustrasi itu sangat sederhana, namun mengandung makna yang sangat dalam. Saya sendiri, kemudian mencontoh apa yang disampaikan Professor Diran. Anak saya , alhamdullilah sudah terbiasa dengan mengambil keputusan sendiri, sepanjang yang menyangkut diri mereka sendiri. Saya dan isteri hanya memberikan saran, pertimbangan dan berbagi pengalaman dengan mereka dan kemudian mereka putuskan sendiri. Tentu saja pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Manusia tidak ada yang sempurna, namun paling tidak, kemudian terlihat bedanya anak saya dengan beberapa anak teman saya. Semasa anak-anak masih sekolah dan kuliah, beberapa teman dekat saya , sering mengeluhkan selalu banyak pertanyaan dari anaknya yang nyaris tiada henti tentang apa - apa yang harus dia putuskan dalam beberapa kegiatan disekolahnya. Anak-anaknya selalu gagal untuk dapat memutuskan sendiri pilihan-pilihan yang mereka hadapi selama sekolah/kuliah. Anak-anak mereka selalu menunggu orang tuanya mengambil keputusan untuk dirinya. Beda sekali dengan anak saya, mereka hanya bertanya, bila betul-betul dibutuhkan kepada ayah dan ibunya untuk mendapatkan pertimbangan, lalu segera saja mereka memutuskan sendiri keinginannya. Tidak ada sedikitpun keraguan baginya, karena mereka sudah sangat “biasa” mengambil keputusan. Tentu saja melalui proses panjang “trial by error” untuk dapat mencapai kemantapan diri yang seperti itu. Sebagai manusia biasa, terkadang ada juga beberapa hal yang kami sesali sebagai orang tua terhadap keputusan yang telah diambil oleh anak-anak. Lho, kenapa yang itu yang dipilih? Lho kenapa begitu diputuskannya dan lho, lho yang lainnya. Saya kemudian selalu menghibur isteri saya, sambil juga sebenarnya menghibur diri sendiri, bahwa semakin dewasa anak-anak kita, maka akan semakin berbeda dalam melihat referensi yang digunakannya untuk mengambil keputusan. Ini tidak dapat kita hindari, namun paling tidak didalam hati saya bersukur, bahwa anak-anak saya sanggup megambil keputusan sendiri. Berbeda ? saya pikir itu alamiah dan manusiawi sekali, dan mungkin itulah yang kerap terdengar sebagai “generation gap” . Minimal dalam memberikan bimbingan kepada anak, kami, saya dan isteri sudah membekalinya dengan “visi” yang ideal. Demikian pula pada proses pengambilan keputusan salah satu hal yang juga sangat penting sebagai bekal bagi sang anak adalah sikap yang “selalu berfokus pada misi“, sifat yang “mission oriented” ! . Itulah : Visi dan misi, dan bukan popularitas !

Bahasa Inggris …….bingung !

This item was filled under [ Article, Unik & Lucu ]

Bahasa Inggris memang terkadang membingungkan. Saat saya tengah mengikuti “Pacific Rim Air Chief Conference” di Hawai dan Washington DC, saya sempat berjumpa dengan Air Chief dari Bangladesh, General Azam namanya. Dia bercerita, bagaimana membingungkannya bahasa Inggris sampai satu saat sempat membuat renggang hubungannya dengan RAF, Royal Air Force, Angkatan Udara Inggris.
Alkisah, dalam kerangka kerjasama Angkatan Udara Inggris dan Angkatan Udara Bangladesh, RAF mengirimkan Perwira Instruktur nya ke Bangladesh. General Azam memerintahkan dua orang perwiranya untuk menjemput di International Airport untuk memudahkan para tamu kehormatan ini menyelesaikan prosedur kedatangan di terminal Bandara. Perwira penjemput mengumpulkan empat buah paspor Instruktur yang datang dari Inggris itu untuk melintas pintu imigrasi.
Sebelum lewat meja imigrasi untuk meyakinkan siapa-siapa saja tamunya tersebut, sang Perwira pun mengecek terlebih dahulu satu per satu para pemegang paspor. Yang pertama ia panggil sesuai paspor yang paling atas ditangannya, dia pun memanggil , Colonel Black ! seketika dia terperanjat karena ternyata Kolonel Black ini adalah seorang Inggris berkulit putih. Sambil berusaha untuk tidak terlihat heran, ia melanjutkan memanggil pemegang paspor berikutnya, Major Long ! Untuk kedua kalinya ia terheran-heran karena ternyata Mayor Long ini orang nya pendek.
Sekali lagi ia menahan napas agar dapat terlihat biasa-biasa saja, ia pun memanggil pemegang paspor berikutnya Captain White ! Kali ini ia kaget namun masih dapat menguasai diri karena ternyata sang Kapten White adalah seorang yang berkulit hitam. Terakhir, ia memanggil pemegang paspor ke empat , Sargeant Major Short ! Alangkah herannya dia karena ternyata Sersan Mayor Short ini orang yang sangat tinggi untuk ukuran orang Bangladesh. Kedua perwira tersebut memerlukan waktu lebih dari dua jam untuk bisa meyakinkan pihak imigrasi bahwa benar para Perwira Tamu dari Inggris ini memang pemegang paspor asli dari Kerajaan Inggris.
Masalahnya adalah karena kedua Perwira tersebut kesuliltan dalam berusaha menerjemahkan nama para tamunya kedalam bahasa Bangladesh ! Nama para tamu RAF telah menimbulkan kebingungan di imigrasi International Airport Bangladesh.
Ketika di Washington DC, kami diterima dalam upacara resmi di Pentagon dan sesuai prosedur penerimaan bagi tamu kehormatan, kami semua diacarakan untuk melakukan peninjauan keliling, lengkap ke lokasi dimana bagian gedung Pentagon yang terkena “bom” saat peristiwa 911. Pada salah satu “site” ternyata yang menerima kami semua adalah seorang kolonel AD Amerika yang bernama “Denmark”. Saya pun berbisik kepada General Azam, bahwa saya akan memberikan informasi penting kepada Kolonel Denmark. Informasi tentang apa? tanya General Azam. Saya akan beritahu dia agar tidak berkunjung ke Bangladesh agar tidak memimbulkan kebigungan di imigrasi airport Bangladesh, karena ada Kolonel AD Amerika Serikat yang namanya Denmark ! Ia pun tertawa terbahak-bahak.

Jakarta 26 Desember 2011
Chappy Hakim

Orang Inggris …….bingung !

This item was filled under [ Article, Unik & Lucu ]

Pada suatu hari rekan saya orang Inggris ingin bertemu untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting di hari Rabu. Saya katakan padanya, bahwa pada hari Rabu itu saya nggak bisa, karena saya harus memperpanjang SIM yang sudah terlanjur lewat jatuh tempo.
Dia bilang, Pak Chappy buat apa sih SIM ? Di Jakarta ini kan semua dilanggar orang. Lampu merah orang pada jalan terus. Jalan satu arah diterabas motor-motor menjadi nggak jelas satu atau dua arah. Pembatas beton untuk Busway pun di terabas, apalagi trotoar udah sangat nggak jelas apakah jalan untuk motor atau untuk pejalan kaki, katanya.
Sialan nih orang saya pikir, dalam hati saya sangat tersinggung walau semua apa yang dikatakannya itu adalah sebuah realita di Jakarta ini. Tetapi pengalaman menghadapi orang bule, membuat saya tetap berpenampilan tenang seraya saya berkata, Hei Green (namanya David Green, walaupun orangnya sama sekali tidak berwarna hijau !), tahukah anda bahwa semua orang itu yang berbuat nggak keruan dijalanan, semuanya memiliki SIM yang sah, bisa nggak anda bayangkan kalau mereka kemudian terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki SIM? Punya SIM aja udah kayak gitu, apalagi kalau mereka nggak punya SIM, kata saya.
Seketika dia terperanjat dengan jawaban tak terduga dari saya tersebut, sambil menjawab, OK , OK kita undur meetingnya hari Kamis ya !
Kapok lah si Bule itu yang nyindir nggak pake basa basi, maka saya jawab aja setengah ngaco, diamlah dia…..Good Job !

Merry Christmas and a Happy New Year !

Jakarta 26 Desember 2011

Chappy Hakim

Menjinakkan Bom (Waktu) di Soekarno Hatta

This item was filled under [ Article, Flight, Flight Commercial ]

Bom

Bom

Pada tahun 1962, dikenal satu badan bernama DEPANRI, Dewan Penerbangan Republik Indonesia yang ketuanya adalah Menteri Pertama RI, Ir. H. Djuanda dan sekretarisnya dari Angkatan Udara RJ Salatun. Sekedar untuk diketahui salah satu lingkup dari kegiatan DEPANRI adalah tentang “Pengembangan Kebijakan Kedirgantaraan Nasional”. Di era itulah, sampai dengan lebih kurang tahun 1980-an terlihat, arah perkembangan industri penerbangan nasional yang tergambar dalam konsep dan konteks yang jelas. Untuk penerbangan domestik rute utama dan penerbangan Internasional diberikan tanggungjawab pengembangannya kepada Maskapai sang pembawa bendera , Garuda Indonesian Airways. Ditangan Garuda inilah, kehormatan dan kebanggaan serta promosi bangsa Indonesia dipanggung global dalam penyelenggaraan angkutan udara dipertaruhkan.

Garuda dipimpin oleh seorang Pilot kawakan bernama Wiweko, penerbang Asia pertama yang pernah menembus samudra pasifik (dari Auckland, AS ke Jakarta) seorang diri dengan pesawat terbang. Itu sebabnya, sebagai pimpinan sebuah Maskapai dia mampu berorientasi kepada bidang penerbangan secara total. Sebagai Pilot, dia tau saat membeli banyak pesawat sekaligus dia persiapkan sdm nya. Wiweko tidak hanya menganalisis dan membahas tuntas dalam hal memilih pesawat terbang yang cocok untuk digunakan di Negara kepulauan ini bersama dengan pabrik pesawat kenamaan didunia, akan tetapi juga merancang disain kokpit pesawat yang sangat spektakuler sepanjang sejarah. Wiweko telah merubah awak kokpit menjadi hanya dua orang saja.(two men forward facing crew cockpits) Disain yang tadinya ditentang habis-habisan oleh FAA, Federal Aviation Administration, otoritas penerbangan Amerika Serikat, kini justru telah menjadi standar baku dari disain kokpit pesawat angkut internasional. Saat itu Garuda sang pembawa bendera melesat maju di angkasa Asia, Eropa dan bahkan pernah sampai ke Amerika Serikat. Continue reading…

Tagged with: [ , ]

Reportase Bedah Buku SPJP

This item was filled under [ Article, Education, Flight, Flight Commercial, Life ]

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (purn) Chappy Hakim menilai, para penerbang Indonesia terlalu sombong untuk menulis buku, sehingga buku-buku tentang penerbangan sangat minim.

“Padahal pengalaman para penerbang ini layak dibagi kepada masyarakat umum,” kata Chappy saat berbicara pada peluncuran buku terbarunya, “Saya Pengen Jadi Pilot” di Jakarta, Rabu (14/12/2011).

Bertindak selaku pembahas buku pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman dan Beny Adrian, managing editor Majalah Angkasa, dengan moderator Tascha Liudmila yang juga editor buku.

“Kenapa judulnya agak gaul yakni ‘Saya Pengen Jadi Pilot’, sebab saya merasa penerbang terlalu sombong untuk menulis buku, jarang bikin buku. Hanya satu penerbang yang saya kenal menulis buku, yaitu Kapten Pilot Gunarjo. Dia menulis tentang pengalaman terbang dengan gaya bertutur seperti kita ngobrol,” kata Chappy. Karena Kapten Gunarjo itulah, kata Chappy, ia bertekad menulis buku tentang penerbangan.

“Saya Pengen Jadi Pilot” merupakan buku ke-14 Chappy. Ia mengaku senang dengan angka “4″ sehingga buku itupun diluncurkan hari ini tanggal 14 yang ada unsur angka “4″. “Saya bersahabat dengan angka 4, saya tinggal di jalan Segara 4, pernah jadi komandan skuadron 31 yang ke-14, saya jadi KSAU pun yang ke-14 dengan bintang 4. Saat jadi KSAU saya tinggal di jalan Wijaya 13 no 31. Dan ini buku saya yang ke-14,” ungkap Chappy.

Chappy menilai bukanya ini mendapat respon yang berbeda dibanding buku-buku sebelumnya. “Ini semacam diary penerbangan. Saya upayakan alurnya berdasarkan timeline atau kronologis,” katanya.

Beny Adrian menilai buku Chappy ingin memposisikan dirinya sebagai penerbang sipil. “Yang saya salut bahwa Pak Chappy berani cerita ‘kebodohannya’ sendiri, misalnya mengungkapkan kesalahan dalam penerbanngan, dimana biasanya penerbang menyebunyikan kesalahan,” katanya.

Beny menyebut misalnya untuk solo flight Chappy bukanlah yang “the best”. Juga pesawat yang hampir menghantam Stasiun Ponorogo, disebutkan dalam buku tersebut. “Ada sentuhan kemanusiaan yang bisa mendorong anak-anak muda kita bahwa penerbangan itu sangat ketat dan disiplin, siswa penerbang harus patuh pada aturan. Dunia penerbangan tetap disiplin tinggi yang tidak mentoleransi kesalahan sedikitpun,” kata Beny.

“Pak Chappy menceritakan sesuatu yang tidak biasa dalam penerbangan, dia berani menurunkan kelasnya, padahal reputasi dia sebagai mantan KSAU,” imbuh Beny.

Arief Rahman menilai, buku Chappy cocok dibaca anak-anak muda, termasuk siswa. Bahasa tutur Chappy menurutnya mudah dipahami, apalagi buku tersebut disertai gambar yang menarik. “Selain cita-cita, ada pengalaman Pak Chappy ditambah pendidikan yang ditekuni dengan baik,” katanya.

Jakarta 14 Desember 2011
Tulisan Pepih Nugraha di Kompas.com

Obama merubah Amerika,……. Sleman merubah Dunia

This item was filled under [ Case, Education, Flight, Flight Commercial ]
Obama merubah Amerika

Obama merubah Amerika

Pada tanggal 7 Maret 2007, pesawat Garuda GA-200 dibawah kendali “pilot in command”Capt.Marwoto, take off dari Soekarno Hatta International Airport Cengkareng menuju Pangkalan Udara Adisutjipto Jogjakarta. Pada saat mendarat, terjadilah musibah, yang mengakibatkan pesawat habis terbakar dan sejumlah 21 orang meninggal dunia.

Tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya, dan juga tidak pernah sekalipun terjadi ,akan tetapi kenyataan yang muncul adalah tim polri dengan sigap turun tangan. Mungkin, sekali lagi ini masih memerlukan konfirmasi, polisi sudah lama “jengkel” dengan begitu seringnya terjadi kecelakaan-kecelakaan pesawat terbang dengan tidak pernah ada sanksi ,dan menurut polri yang salah ini pasti si penerbangnya. Demikianlah, dilakukan pemeriksaan oleh polri dan sampai kepada kesimpulan bahwa Capt. Marwoto dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terbakarnya pesawat terbang dan juga melayangnya 21 nyawa. Singkat kata Berita Acara Pemeriksaan pun dibuat dan segera diselesaikan kemudian diserahkan ke Kajari Jogjakarta. Selanjutnya BAP tersebut diserahkan ke Pengadilan Negeri Sleman untuk menyidangkannya.

Bisa dibayangkan, pengadilan negeri Sleman, yang biasanya mengadili kejahatan kriminal yang jauh dari masalah yang berkait dengan teknologi untuk tidak menyebutkannya sebagai pengadilan yang biasanya mengadili penjahat sekelas maling sepeda dan atau maling ayam, tiba-tiba saja harus mengadili masalah yang sangat “technology heavy” sifatnya. Sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan, namun materi persoalan yang harus digelar ini adalah masalah yang berkait dengan masalah yang sangat teknis, dimana terminologi yang digunakan lebih banyak menggunakan bahasa asing karena sulit mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Selain itu, masalah inipun sangat berhubungan dengan hukum dan atau konvensi internasional. Berat sekali beban yang ditanggung oleh pengadilan negeri Sleman ini. Namun ternyata jalannya sidang sangat lancar dan tidak terasa, esok hari, Senin tanggal 6 April 2009, vonis hukuman akan dibacakan oleh Hakim. Continue reading…

Durian is the Healing King of All Fruits…..Good news for durian lovers.

This item was filled under [ Education, Health ]

THAT IS WHY WE MUST START TO EAT LOTS OF DURIAN
Durian is the Healing King of All Fruits

Durian is the Healing King of All Fruits

by Sheryl Walters, citizen journalist (NaturalNews) Durian is a little known fruit from Asiathat has an extremely pungent smell and an amazingly sweet taste. The smell of the durian fruit is so bad that many hotels in the areas where durian grows will not allow their guests to have the fruit in their rooms. But those who brave the smell are quickly won over by its beautiful taste and amazing health benefits. Unlike most fruits the durian is left to fall from the tree as this is a sign that it is ripe to eat. People in the local villages of South East Asia, where the durian is most common, call it “The King of Fruits,” and they will clear the floor under the trees near to harvest time and then camp near them for up to two months just to make sure they get the fruit at its peak. This is a truly exceptional and healing fruit.

Health Benefits of Durian

Durian

Durian

Traditionally the durian fruit was seen as a powerful aphrodisiac, while women would eat the ashes from burnt durian skins to help them recover after child birth. But concoctions made from the leaves of the durian tree were also used to help reduce swelling and cure skin disease. More recently nutritionists have claimed that the durian fruit can help lower cholesterol and cleanse the blood as well as cure jaundice and alleviate fevers.

Experts even say that you can rid yourself of yeast infections such as thrush through eating the durian fruit. This is because of the durian’s high iron content that helps the white blood cells in our body make specific chemicals that kill off the infection.

The durian is also packed with amino acids as well as Vitamins B, C and E and many people are even comparing the sweet custard like centre of the durian fruit to the goji berry for its high levels of anti oxidants. These anti oxidants help slow down the destruction of cells from free radicals such as pollution and smoking; in doing so, they decrease the effects of aging on the skin giving you a younger more refreshed look.

Among the amino acids found inside the durian is tryptophan. Tryptophan is essential for making and maintaining serotonin levels in the body. Serotonin is the hormone in the body that regulates our happiness. People with low serotonin levels tend to have short tempers, are often moody and suffer from depression. This means that not only will eating the durian fruit help keep your body running smoothly but it will also increase your general happiness and wellbeing.

www.healthy-communications.com/duri…

www.hubpages.com/hub/Health-Benefit…

www.duriandestiny.com/benefits.asp

Sumber : diambil dari email yang nyasar.

Tagged with: [ , ]