Kedekatan geografis tidak selalu menghasilkan kedekatan pengetahuan. Australia berada di lingkungan strategis Asia, tetapi kemampuan masyarakatnya memahami bahasa, sejarah, dan dinamika kawasan justru menghadapi kemerosotan. Paradoks ini menjadi perhatian laporan Security and Prosperity in Asia, yang diterbitkan Komite Pendidikan Dewan Perwakilan Parlemen Australia pada 2026. Bagi Indonesia, laporan tersebut layak dibaca sebagai cermin hubungan bertetangga sekaligus pelajaran tentang pembangunan kemampuan nasional.
Pesan utamanya tegas yakni kemampuan memahami Asia merupakan kapabilitas kedaulatan yang menentukan keamanan dan kemakmuran Australia. Penguasaan bahasa dan pengetahuan kawasan memungkinkan negara membaca perubahan, menilai kepentingan mitra, serta mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang memadai. Kekurangan kemampuan tersebut dapat mempersempit pilihan kebijakan dan meningkatkan ketergantungan pada penafsiran pihak lain.
Namun, fondasi kemampuan itu sedang melemah. Pada 2023, hanya 3,3 persen siswa kelas akhir sekolah menengah Australia mempelajari bahasa Asia prioritas. Jumlah siswa bahasa Indonesia pada jenjang tersebut turun dari 1.160 orang pada 2010 menjadi 486 orang pada 2024. Di Queensland, hanya empat siswa diproyeksikan mengikuti ujian bahasa Indonesia pada 2026. Para ahli bahkan memperingatkan kemungkinan pengajaran bahasa Indonesia mengalami kepunahan fungsional pada 2031 tanpa intervensi.
Penurunan juga terjadi di perguruan tinggi. Jumlah mahasiswa domestik yang mengambil bahasa Asia Tenggara merosot 75 persen sepanjang 2005–2024. Angka ini menunjukkan penyusutan jalur pembentukan keahlian: semakin sedikit siswa belajar bahasa, semakin kecil jumlah mahasiswa yang mendalaminya, dan semakin terbatas tenaga ahli maupun calon guru yang tersedia. Apabila rantai ini terputus, pemulihannya memerlukan waktu panjang.
Persoalannya tidak dapat dibebankan semata-mata kepada pilihan siswa. Minat belajar tumbuh dalam suatu sistem. Ketika guru sulit diperoleh, pelajaran tidak berlanjut antarjenjang, biaya pendidikan meningkat, dan manfaat profesional tidak terlihat, bahasa Asia mudah tersisih. Kebijakan yang hanya mengimbau masyarakat memahami Asia akan kehilangan daya apabila tidak disertai jalur pendidikan dan pekerjaan yang jelas.
Karena itu, laporan tersebut mengusulkan strategi nasional sepuluh tahun, penguatan sekolah unggulan pembelajaran Asia, intervensi darurat untuk bahasa Indonesia, serta jaringan pusat bahasa di perguruan tinggi. Pemerintah juga diminta menjadi teladan sebagai pemberi kerja yang menghargai kemampuan bahasa dan pengetahuan kawasan. Pendidikan memperoleh tujuan yang lebih nyata ketika keahlian lulusannya dibutuhkan dalam diplomasi, pelayanan publik, bisnis, dan kerja sama internasional.
Perubahan pendekatan yang paling menarik ialah penekanan pada kesinambungan dan kedalaman. Akses pembelajaran yang luas memang penting, tetapi program pengenalan singkat tidak otomatis menghasilkan kemampuan menggunakan bahasa atau memahami masyarakat lain. Diperlukan jalur yang memungkinkan siswa belajar secara berkelanjutan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, kemudian memakai pengetahuannya dalam dunia kerja.
Teknologi penerjemahan tidak menghapus kebutuhan itu. Bahasa membawa nuansa, ingatan sejarah, tata pergaulan, dan cara memandang persoalan. Dalam hubungan antarnegara, memahami kata-kata belum tentu berarti memahami maksud. Kemampuan menangkap konteks dapat menentukan apakah suatu pernyataan dibaca sebagai tawaran kerja sama, keberatan, atau peringatan.
Bagi Indonesia, kemerosotan pengajaran bahasa Indonesia di Australia patut mendapat perhatian. Hubungan bilateral yang erat memerlukan lebih banyak orang yang mampu memahami masyarakat kedua negara dari dalam. Perjanjian dan pertemuan tingkat tinggi membutuhkan dukungan pengetahuan yang hidup di kalangan pendidik, peneliti, pelaku usaha, aparatur negara, serta masyarakat.
Indonesia dapat mengambil prakarsa melalui penguatan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, pertukaran guru dan mahasiswa, penyediaan bahan ajar yang relevan, serta kemitraan antarsekolah dan universitas. Pembelajaran bahasa juga dapat dihubungkan dengan pengalaman langsung dalam bidang kebudayaan, penerbangan, lingkungan, ekonomi, dan pertahanan. Dengan demikian, bahasa Indonesia memperoleh makna sebagai pintu masuk menuju kerja sama yang konkret.
Pada saat yang sama, kita perlu bercermin. Seberapa kuat kemampuan Indonesia memahami Australia dan negara-negara Asia lainnya? Kedekatan kawasan tidak menjamin tersedianya tenaga ahli dengan penguasaan bahasa, sejarah, politik, dan kebudayaan yang mendalam. Kepentingan nasional memerlukan investasi pengetahuan yang konsisten, termasuk kemampuan menilai bagaimana tetangga memahami Indonesia.
Tentu, rekomendasi laporan Australia masih menghadapi ujian pelaksanaan. Pembagian kewenangan pendidikan antara pemerintah federal dan negara bagian menuntut koordinasi yang sulit. Insentif penerimaan mahasiswa perlu dinilai efektivitasnya, sedangkan program baru membutuhkan pembiayaan yang jelas. Ukuran keberhasilan akhirnya adalah keberlanjutan pembelajaran dan tersedianya keahlian yang benar-benar digunakan.
Laporan ini mengingatkan bahwa keamanan dan kemakmuran bertumpu pula pada kemampuan manusia memahami lingkungan strategisnya. Bagi Australia, memahami Asia merupakan kebutuhan nasional. Bagi Indonesia, memperkuat pemahaman timbal balik dengan Australia merupakan investasi bagi hubungan yang lebih matang. Pendidikan bahasa menyediakan fondasi agar kedua negara dapat bertetangga dengan pengetahuan yang cukup, kepercayaan yang lebih kuat, dan pertimbangan yang lebih jernih.
Laporan Parlemen Australia ini patut menjadi perhatian Pemerintah Republik Indonesia dalam menata tata kelola hubungan Indonesia–Australia ke depan. Menurunnya penguasaan bahasa Indonesia dan pemahaman tentang masyarakat Indonesia di Australia dapat melemahkan fondasi hubungan bilateral, sekaligus meningkatkan risiko salah persepsi dalam membaca kepentingan masing-masing negara. Karena itu, penguatan pendidikan bahasa, kajian kawasan, dan pertukaran pengetahuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda strategis bersama. Hubungan bertetangga yang kokoh memerlukan kesinambungan upaya untuk saling memahami agar kerja sama kedua negara bertumpu pada pengetahuan yang memadai, kepercayaan, dan penghormatan terhadap kepentingan nasional masing-masing.
Jakarta 8 Oktober 2026
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia

