Kekuasaan besar yang tanpa arah
Oleh Chappy Hakim
Perang mudah dimulai ketika pemimpin merasa memiliki kekuatan untuk menang. Kesulitan sesungguhnya muncul ketika kemenangan di medan tempur harus diterjemahkan menjadi keadaan politik yang lebih baik. Konflik Amerika Serikat–Iran memperlihatkan persoalan tersebut. Setelah berbulan-bulan serangan, gangguan pelayaran, blokade, dan tekanan ekonomi, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang memiliki persenjataan paling unggul, melainkan apakah penggunaan kekuatan telah mendekatkan kawasan kepada perdamaian.
Memasuki awal Oktober 2026, konflik ini menunjukkan ciri kebuntuan strategis yang mahal. Kerusakan dapat ditambah, tekanan dapat diperberat, tetapi penyelesaian tetap sulit ditemukan. Amerika Serikat memiliki kemampuan besar untuk menghancurkan sasaran. Iran, meskipun mengalami tekanan berat, masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan perlawanan dan mengganggu kepentingan lawannya. Di antara keduanya, masyarakat sipil dan perekonomian dunia ikut menanggung biaya.
Serangan AS dan Israel pada akhir Februari membuka babak perang yang kemudian meluas ke persoalan keamanan kawasan dan pelayaran di Selat Hormuz. Kesepahaman Islamabad pada Juni sempat menawarkan penghentian operasi militer dan kerangka perundingan. Namun, kesepakatan sementara belum menghasilkan tatanan keamanan yang dipercaya kedua pihak. Ketika pelaksanaan kesepakatan diperselisihkan, tekanan kembali menjadi bahasa utama. Keadaan ini mengingatkan kita pada prinsip dasar strategi: keberhasilan operasi militer harus dinilai menurut tujuan politiknya. Menghancurkan fasilitas, melemahkan pertahanan, atau melumpuhkan jaringan komando merupakan capaian operasional. Semua itu baru memperoleh makna strategis apabila menghasilkan perilaku lawan dan keadaan keamanan yang dikehendaki. Karena itu, penilaian atas hasil perang tidak cukup bertumpu pada daftar sasaran yang dihancurkan. Apakah ancaman nuklir berkurang secara berkelanjutan? Apakah jalur pelayaran menjadi lebih aman? Apakah kemungkinan perang berikutnya menurun? Apabila jawabannya masih tidak pasti, keunggulan militer belum sepenuhnya berubah menjadi keberhasilan politik.
Dalam perspektif kekuatan udara, pelajaran ini sangat penting. Pesawat tempur, rudal, dan kemampuan pengintaian dapat memberikan keunggulan besar. Namun, kekuatan udara bekerja dalam suatu strategi nasional yang menghubungkan operasi dengan diplomasi, intelijen, ekonomi, dan tujuan politik. Ketepatan mengenai sasaran tidak otomatis berarti ketepatan memilih jalan menuju penyelesaian. Iran menghadapi perang dengan perhitungan berbeda. Mengimbangi kekuatan militer Amerika Serikat secara langsung akan sangat sulit. Namun, pihak yang lebih lemah dapat mencari titik tempat keunggulan lawan tidak mudah digunakan. Selat Hormuz menyediakan ruang bagi perhitungan tersebut. Nilai strategis Hormuz bersumber dari ketergantungan banyak negara pada kelancaran arus energi. Gangguan terhadap pelayaran dapat menyebarkan biaya konflik jauh melampaui wilayah pertempuran. Ketidakpastian keselamatan kapal memengaruhi asuransi, keputusan pelayaran, jadwal pengiriman, dan perhitungan usaha. Ancaman yang belum diwujudkan pun dapat menimbulkan biaya apabila dipercaya cukup mungkin terjadi.
Dengan demikian, geografi dapat menjadi pengungkit pengaruh bagi negara yang secara militer lebih lemah. Akan tetapi, kemampuan mengganggu harus dibedakan dari kemampuan membangun keadaan yang menguntungkan. Gangguan berkepanjangan juga merugikan Iran, memperberat isolasi, dan mendorong negara lain mencari jalur alternatif. Daya tawar yang bersumber dari ketergantungan tidak selalu bertahan apabila ketergantungan itu perlahan dikurangi. Pergeseran menuju tekanan ekonomi pun perlu dibaca secara kritis. Perluasan sanksi menunjukkan bahwa perebutan kehendak berlangsung di luar medan tempur. Pada awal Oktober, AS kembali memperluas tekanan terhadap sektor otomotif dan perkeretaapian Iran. Namun, penderitaan ekonomi tidak dengan sendirinya menghasilkan perubahan kebijakan. Pemerintahan yang menganggap dirinya menghadapi ancaman terhadap kelangsungan kekuasaan dapat memilih bertahan meskipun biaya sosial terus meningkat.
Di sinilah tekanan menghadapi dilema. Tekanan yang terlalu kecil mungkin tidak mengubah perhitungan lawan. Tekanan yang semakin besar, tanpa tawaran penyelesaian yang dapat dipercaya, dapat memperkuat keyakinan bahwa kompromi hanya akan mengundang tuntutan berikutnya. Pada saat yang sama, warga yang tidak menentukan keputusan perang menghadapi kenaikan biaya hidup dan kesulitan memenuhi kebutuhan. Karena itu, sanksi perlu disertai tujuan yang jelas, syarat pelonggaran yang terukur, dan perlindungan kebutuhan kemanusiaan. Apabila lawan tidak mengetahui tindakan apa yang dapat mengakhiri tekanan, instrumen ekonomi berisiko menjadi hukuman berkepanjangan dengan hasil politik yang terbatas.
Meski tersendat, diplomasi belum sepenuhnya berhenti. Laporan awal Oktober menunjukkan pertukaran proposal dan peran mediator masih berlangsung. Persoalannya adalah bagaimana mengubah kontak tersebut menjadi kesepakatan yang dapat dilaksanakan dan diawasi. Kedua pihak memerlukan alasan untuk percaya bahwa konsesi mereka akan dibalas, bukan dimanfaatkan untuk menambah tekanan. Penyelesaian bertahap layak menjadi pilihan. Pengamanan pelayaran dapat dipertemukan dengan pengurangan tekanan tertentu secara terukur. Pengaturan nuklir memerlukan verifikasi yang dapat dipercaya. Perlindungan masyarakat sipil harus berjalan tanpa menunggu seluruh perselisihan selesai. Setiap tahap membutuhkan mekanisme untuk menilai kepatuhan dan menangani pelanggaran agar satu insiden tidak otomatis meruntuhkan seluruh proses.
Bagi Indonesia, konflik ini menyentuh kepentingan yang nyata. Ketidakpastian energi dan pelayaran dapat memengaruhi biaya transportasi, industri, serta ruang kebijakan fiskal. Politik luar negeri bebas aktif perlu diterjemahkan menjadi dukungan terhadap penyelesaian damai, keselamatan perdagangan, dan perlindungan warga sipil, sambil memperkuat kesiapan menghadapi gangguan pasokan. Pelajaran pertahanannya juga jelas. Pembangunan kekuatan nasional memerlukan keterhubungan antara alutsista, sistem komando, kesiapan manusia, logistik, dan ketahanan ekonomi. Perencanaan harus menjawab bukan hanya bagaimana menghadapi serangan, tetapi juga bagaimana mempertahankan kehidupan nasional ketika konflik mengganggu jaringan perdagangan dan energi. Kebuntuan konflik AS–Iran memperlihatkan bahwa kemampuan menimbulkan kerusakan dapat tumbuh lebih cepat daripada kemampuan membangun perdamaian. Tanggung jawab pemimpin adalah menutup jarak tersebut. Ukuran keberhasilan strategi terletak pada keamanan yang dihasilkannya, tujuan politik yang dicapainya, dan biaya manusia yang mampu dihentikannya.
Di luar seluruh dinamika tersebut, pelajaran yang paling nyata ialah bahwa besarnya kekuasaan politik tidak selalu disertai kejelasan arah strategis. Para pemegang kekuasaan dapat memiliki kewenangan luas dan kemampuan mengerahkan sumber daya negara, tetapi tetap gagal merumuskan tujuan yang koheren serta menghubungkan tindakan dengan hasil yang hendak dicapai. Kondisi ini mencerminkan persoalan mendasar dalam kepemimpinan politik: kekuasaan yang besar tanpa arah yang jelas berpotensi melahirkan kebijakan yang menimbulkan biaya tinggi bagi masyarakat, tanpa menghasilkan penyelesaian yang berkelanjutan. Politikus memang memiliki kekuasaan besar, tetapi tanpa arah yang jelas. “Politicians wield great power with no direction.”
Jakarta 7 Oktober 2026
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia

