Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Usia Senja: Antara Perayaan, Perpisahan, dan Renungan Hidup Pagi yang Membawa Dua Makna
    Article

    Usia Senja: Antara Perayaan, Perpisahan, dan Renungan Hidup Pagi yang Membawa Dua Makna

    Chappy HakimBy Chappy Hakim06/19/2026No Comments8 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Usia senja membawa banyak perubahan dalam hidup seseorang. Perubahan itu tidak hanya tampak pada fisik yang perlahan menurun, tetapi juga pada cara memandang kehidupan, menjalin hubungan, dan memaknai setiap peristiwa. Pada usia seperti ini, hari-hari sering kali hadir dengan makna yang lebih dalam. Hal-hal yang dahulu terasa biasa, kini dapat menjadi bahan renungan yang sangat menyentuh hati.  Pagi itu, seperti biasa, saya memulai hari dengan memperhatikan kesibukan istri saya yang telah bersiap-siap untuk pergi. Ia akan menghadiri sebuah acara di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, almamaternya. Suasana pagi cukup cerah, tetapi tanpa saya duga, hari itu akan menghadirkan dua peristiwa yang sangat berbeda, satu berupa perayaan kehidupan, satu lagi berupa perpisahan.

    Menghormati Guru dan Jejak Pengabdian

    Istri saya berangkat menuju Fakultas Psikologi UI untuk menghadiri  acara bersama Prof. Dr. Saparinah Sadli,  yang pada bulan Agustus mendatang akan genap berusia 100 tahum.  Beliau adalah seorang profesor psikologi yang sangat dihormati di Universitas Indonesia (UI), pendiri Pusat Kajian Wanita dan Gender UI, dan pernah menjabat sebagai Ketua Komnas Perempuan.  Bagi istri saya, acara itu bukan sekadar pertemuan biasa. Profesor Saparinah Sadli adalah mantan guru besarnya, sosok yang pernah membimbing, mengajar, dan memberi inspirasi dalam perjalanan akademisnya.  Menghadiri acara bersama guru besar yang akan mencapai usia seratus tahun tentu merupakan momen yang istimewa. Di dalamnya terdapat rasa hormat, kenangan, dan ungkapan terima kasih kepada seseorang yang telah memberikan sumbangsih besar bagi dunia pendidikan. Seorang guru tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga nilai, keteladanan, dan cara berpikir yang dapat membekas sepanjang hidup murid-muridnya.  Di usia senja, acara seperti ini memiliki makna yang lebih dalam. Kita tidak lagi hadir hanya untuk memenuhi undangan, tetapi untuk menghormati jejak panjang kehidupan seseorang. Usia seratus tahun bukan sekadar angka, melainkan simbol perjalanan panjang yang sarat pengalaman, pengabdian, dan hikmah.

    Kabar Duka di Tengah Pagi

    Kehidupan tidak selalu diwarnai oleh perayaan. Menjelang pukul 09.00, kabar duka datang menghampiri. Laksamana Purn. Achmad Soetjipto, mantan Kepala Staf Angkatan Laut, telah berpulang. Berita itu membawa suasana haru dan renungan tersendiri. Achmad Sutjipto , lahir pada tanggal 12 Mei 1945 adalah seorang purnawirawan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari Juli 1999 hingga Oktober 2000.   Saya segera bersiap menuju rumah duka di Kelapa Gading. Istri saya telah lebih dahulu berangkat ke kampus, sementara saya menuju tempat persemayaman almarhum. Hari itu, langkah kami terbagi ke dua arah yang berbeda. Istri saya menghadiri  acara di kampus almamaternya bersama seorang guru besar, sedangkan saya menghadiri perpisahan terakhir dengan kolega saya di Angkatan Laut, seorang tokoh militer yang telah mengabdi kepada bangsa dan negara.  Dua tujuan yang berbeda itu ternyata memiliki inti makna yang sama, yaitu penghormatan terhadap perjalanan hidup seseorang.

    Mengingat Pengabdian Seorang Prajurit

    Di rumah duka, saya bertemu dengan sejumlah tokoh yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Laksamana Widodo AS, mantan Panglima TNI, tampak hadir di sana.  Tulus P. Sihombing seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat berpangkat Mayor Jenderal (bintang dua). Ia merupakan mantan Atase Pertahanan di Australia dan saat ini aktif menjabat sebagai Dewan Komisaris di organisasi Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (PEPABRI). Demikian pula hadir Laksda TNI (Purn.) Suwarno  mantan Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (Aslog Kasal) yang menjabat pada periode Maret 2001 hingga Juli 2002,  Laksamana Rosihan Arsyad, mantan Gubernur Sumatera Selatan, serta beberapa rekan seangkatan dari Angkatan Laut tahun 1971.  Tampak hadir pula politikus Bambang W. Soeharto.  Kehadiran mereka menunjukkan betapa luasnya jejak pengabdian dan persahabatan almarhum Laksamana Soetjipto. Rumah duka tidak hanya menjadi tempat untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang kembali perjalanan hidup, pengabdian, persaudaraan, dan jasa seseorang.  Dalam suasana hening seperti itu, manusia sering kali diingatkan kembali pada hakikat kehidupan. Pangkat, jabatan, dan kedudukan yang pada akhirnya akan ditinggalkan. Namun, keteladanan, pengabdian, dan kebaikan seseorang akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengenalnya.

    Wajah-Wajah yang Dimakan Usia

    Di rumah duka itu pula, saya kembali berjumpa dengan banyak teman lama. Sebagian adalah sahabat seperjuangan, sebagian lagi rekan seangkatan atau kolega senior dan Junior yang dahulu begitu akrab dalam berbagai penugasan. Namun, waktu telah bekerja dengan caranya sendiri. Wajah-wajah yang dahulu tampak gagah, segar, dan penuh energi kini telah banyak berubah. Ada yang rambutnya telah memutih seluruhnya. Ada yang tubuhnya mulai membungkuk. Ada pula yang wajahnya nyaris tidak saya kenali lagi sebelum akhirnya ingatan perlahan membawa saya kembali pada sosok mereka di masa lalu.

    Beberapa teman datang dengan langkah yang sudah tidak lagi tegap. Ada yang harus dituntun. Ada pula yang hadir menggunakan tongkat dan bahkan kursi roda. Pemandangan itu menyentuh hati. Bukan karena menimbulkan rasa iba, melainkan karena menjadi cermin yang jujur tentang perjalanan usia. Kita semua, tanpa kecuali, sedang berjalan pada lintasan waktu yang sama. Tidak ada pangkat, jabatan, kekuatan fisik, atau kejayaan masa lalu yang mampu sepenuhnya menahan perubahan yang dibawa oleh usia.  Di hadapan wajah-wajah yang telah menua itu, saya semakin menyadari bahwa manusia memang harus belajar berdamai dengan usia. Usia bukan musuh yang harus dilawan dengan kegelisahan, melainkan kenyataan yang harus diterima dengan keikhlasan. Menjadi tua adalah bagian dari anugerah hidup. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk sampai pada tahap itu. Maka, menerima perubahan tubuh, wajah, daya ingat, langkah, dan tenaga adalah bagian dari kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

    Dua Sisi Kehidupan di Usia Senja

    Pagi itu menjadi cermin nyata kehidupan di usia senja. Di satu sisi, istri saya menghadiri acara di almamater bersama guru besarnya. Sebuah peristiwa yang penuh rasa syukur, penghormatan, dan sukacita. Di sisi lain, saya melayat seorang mantan Kepala Staf Angkatan Laut. Sebuah momen duka yang penuh keheningan dan refleksi.  Dua peristiwa itu berlangsung pada hari yang sama, dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya memperlihatkan bahwa kehidupan selalu berjalan dalam dua sisi antara perayaan dan perpisahan, sukacita dan duka, pertemuan dan kehilangan.  Pada usia senja, kita semakin sering menyadari kenyataan ini. Kita mulai lebih sering menghadiri acara ulang tahun, reuni, silaturahmi, dan perayaan kehidupan. Namun pada saat yang sama, kita juga mulai lebih sering menerima kabar duka, melayat sahabat, kolega, guru, atau tokoh-tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

    Waktu yang Semakin Berharga

    Di usia senja, waktu terasa semakin berharga. Setiap pertemuan menjadi lebih bermakna. Setiap percakapan terasa lebih penting. Setiap kenangan memperoleh tempat yang lebih dalam di hati. Bahkan setiap perpisahan pun mengajarkan sesuatu tentang arti kehadiran seseorang dalam hidup kita.  Kita belajar bahwa tidak ada pertemuan yang benar-benar biasa. Tidak ada silaturahmi yang sia-sia. Tidak ada kenangan yang kehilangan nilainya. Semua menjadi bagian dari perjalanan panjang kehidupan yang membentuk siapa diri kita hari ini.  Peristiwa pagi itu mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang berapa lama seseorang hidup, tetapi tentang apa yang ia tinggalkan bagi orang lain. Ada orang yang dikenang karena ilmunya. Ada yang dikenang karena pengabdiannya. Ada pula yang dikenang karena ketulusan, persahabatan, dan kebaikannya.

    Menerima Hidup Secara Utuh

    Di usia senja, manusia belajar menerima hidup secara lebih utuh. Kita tidak dapat memilih hanya bagian yang menyenangkan. Kita tidak dapat meminta hidup hanya berisi perayaan tanpa kehilangan, atau kebahagiaan tanpa kesedihan. Suka dan duka adalah dua sisi yang berjalan beriringan.  Keduanya harus diterima dengan lapang dada. Perayaan mengajarkan kita untuk bersyukur. Perpisahan mengajarkan kita untuk merenung. Kebahagiaan menguatkan hati, sementara kesedihan memperdalam pemahaman kita tentang makna kehidupan.  Menghormati mereka yang masih hidup dan mendoakan mereka yang telah berpulang adalah bagian dari tanggung jawab moral kita sebagai manusia. Kepada yang masih hidup, kita memberikan perhatian, penghargaan, dan kasih sayang. Kepada yang telah pergi, kita memberikan doa, penghormatan, dan kenangan baik.

    Berdamai dengan Usia

    Berdamai dengan usia berarti menerima bahwa setiap tahap kehidupan memiliki kehormatannya sendiri. Masa muda memiliki kekuatan, keberanian, dan semangat untuk bergerak cepat. Masa tua memiliki kedalaman, kesabaran, dan kemampuan untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, karena masing-masing memiliki maknanya sendiri. Kita mungkin tidak lagi sekuat dahulu. Langkah mungkin tidak lagi secepat dulu. Ingatan mungkin kadang mulai berkurang. Wajah dan tubuh pun berubah mengikuti perjalanan waktu. Namun, selama hati masih mampu bersyukur, pikiran masih mampu merenung, dan diri masih mampu memberi manfaat, maka usia senja tetap dapat menjadi masa yang bermartabat dan penuh makna.  Melihat teman-teman lama yang telah menua, bahkan sebagian hadir dengan tongkat dan kursi roda, saya merasa bahwa usia mengajarkan kerendahan hati. Pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang karena kegagahan fisiknya, tetapi karena kebaikan, kesetiaan, pengabdian, dan jejak nilai yang ia tinggalkan dalam kehidupan orang lain.

    Demikianlah, Pagi yang singkat itu ternyata menyimpan makna yang panjang. Istri saya hadir dalam sebuah perayaan untuk menghormati warisan ilmu seorang guru besar. Saya hadir di rumah duka untuk menghormati pengabdian seorang prajurit dan pemimpin. Dua tempat berbeda, dua suasana berbeda, tetapi keduanya berbicara tentang hal yang sama yakni penghargaan terhadap perjalanan hidup manusia.  Semoga kita semua dapat menjalani usia senja dengan bijaksana, lapang dada, dan penuh rasa syukur. Sebab usia senja bukan hanya tentang bertambahnya umur, melainkan tentang kemampuan memaknai setiap momen yang masih diberikan Tuhan kepada kita.  Dalam suka maupun duka, dalam perayaan maupun perpisahan, dalam tubuh yang mulai melemah dan wajah yang semakin berubah, hidup tetap memberikan pelajaran. Tinggal bagaimana kita membacanya, menerimanya, dan menjadikannya bekal untuk menjalani hari-hari yang tersisa dengan lebih bermakna.

    Jakarta 18 Juni 2026

    Chappy Hakim

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleIn Memoriam: Laksamana TNI (Purn.) Achmad Soetjipto
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    In Memoriam: Laksamana TNI (Purn.) Achmad Soetjipto

    06/19/2026
    Article

    Kedaulatan Negara, dan Syarat Hakiki Negara Merdeka

    06/19/2026
    Article

    Hukum Udara, Kedaulatan Negara, dan Politik Kekuasaan

    06/19/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.