Dari banyak sukses yang diraih oleh Joko Widodo sebagai walikota Solo, banyak mengundang pertanyaan bagaimana irama kerja Sang Walikota sehari-hari. Pada satu kesempatan, Joko Widodo menceritakan sendiri bagaimana dia bekerja.
Saya bekerja dalam arti duduk di kursi kantor, paling lama hanya satu jam saja. Sedari awal, saya sebenarnya terperanjat melihat setumpukan surat-surat yang harus ditandatangani yang dengan sendirinya harus dibaca satu persatu terlebih dahulu. Saya tidak ingin tersandera dengan model kerja seperti ini. Saya segera putuskan, beberapa staf terkait untuk mengambil alih tugas itu, dengan ancaman serius untuk tidak menyalahgunakan wewenang. Nyatanya, telah melalui satu periode jabatan, hal tersebut tidak pernah terjadi. Dengan cara yang seperti itu, maka saya hanya akan menangani surat-surat yang benar-benar penting saja dan itu tidak akan lebih dari satu jam menyita waktu saya dimeja dinas. Selebihnya saya keluar kantor Walikota mendatangi satu persatu tempat-tempat yang menjadi tanggung jawab saya terkait kelancaran pelayanan masyarakat. Saya mendatangi tempat-tempat yang menghadapi masalah, dan mengajak mencari solusi bersama yang terbaik, saya menjemput bola !
Itulah pengaturan dan mekanisme kegiatan Jam Kerja Sang Walikota. Sekedar untuk diketahui saja, Jokowi, sebelumnya adalah seorang wiraswata, business man. Joko Widodo, telah berhasil mengubah dirinya dari seorang business man menjadi seorang birokrat. Satu proses perubahan yang tidak mudah. Alkisah, JK, seorang business man yang juga sukses dan pernah menduduki jabatan di birokrasi, menjelaskan pada salah satu pidatonya mengenai perbedaan business man dengan seorang birokrat, beberapa saat setelah dia tidak lagi menjabat sebagai Wapres.
Bagi seorang business man, katanya, pasti orientasi kerjanya menuju kepada satu keberhasilan, satu sukses, yaitu “keuntungan”. Sehingga dengan demikian, mereka tidak akan begitu mementingkan proses dari bagaimana cara mencapainya. Yang penting “berhasil”, proses tidak begitu dihiraukan bagaimana berjalannya. Hal ini menjadi sangat berbeda jauh dengan gaya bekerja para birokrat. Mereka, para birokrat maksudnya, jauh lebih mementingkan proses dalam irama bekerjanya. Tentang hal itu kemudian akan berhasil, kurang berhasil, bahkan gagal sekalipun, sama sekali tidak menjadi perhatian sama sekali, Yang penting prosesnya harus sesuai prosedur yang berlaku ! Inilah yang sebenarnya terjadi yang akan kerap dihadapi oleh para pengusaha/business man yang beralih fungsi sebagai penguasa/birokrat.
Nah itulah sekedar gambaran dari mekanisme kerja Pengusaha Vs Penguasa.
Jakarta 23 Maret 2012
Chappy Hakim