Opinion

Anggota DPR yang terhormat ; apakah pantas disebut terhormat?

Dipertengahan bulan Januari ditahun 2009 ini, ada satu konfirmasi tentang betapa memprihatinkan dan memalukannya kualitas anggota DPR kita. Lebih separuh dari mereka sangat pantas untuk dimasukkan ke “Hall Of Shame”! memalukan dan sekali lagi memalukan !

Konfirmasi ini tidak tanggung-tanggung, karena berupa satu kajian yang ilmiah sifatnya. Juga tidak dapat untuk dibantah begitu saja, karena ternyata kajian ilmiah ini adalah berupa hasil dari unjuk kerja seorang anggota DPR pula.

Adalah konon ceritanya seorang anggota DPR bernama Idrus Marham yang berasal dari partai Golkar. Dia mengemukakan dalam disertasi doktor yang dipertahankannya di depan senat guru besar Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada hari sabtu 17 Januari 2009, tentang lebih dari 60% anggota DPR ternyata tidak berkualitas. Kita patut mengacungkan jempol kepada anggota Golkar ini, yang bahkan konon kabarnya sidang gelar doktor ini dihadiri pula oleh ketua umum Golkar Jusuf Kalla. Satu langkah maju dari Golkar.

Masyarakat umum sudah mengetahui dengan terang benderang tentang masalah ini, dengan melihat sepak terjang para anggota DPR yang katanya terhormat itu, berlaku sangat memalukan. Jadi , disertasi doktor dari Idrus Marham memang hanya sebagai konfirmasi atau proses yang membenarkan secara ilmiah mengenai hal tersebut. Dengan demikian sudah bukan lagi kesan atau penilaian tanpa dasar , pandangan orang terhadap para anggota DPR yang memalukan itu, akan tetapi sudah menjadi fakta ilmiah.

Kita sudah tahu betapa mereka menghambur-hamburkan uang negara dengan kedok “studi banding” yang ternyata tidak lebih dari jalan-jalan serta belanja barang mewah. Ramai-ramai membeli Laptop. Tidak hadir dalam sidang-sidang yang diadakan DPR sendiri, menaikkan tunjangan gaji dan lain-lain yang berkait dengan peningkatan income pribadi mereka semata. Belum lagi kemudian yang terungkap disidang-sidang pengadilan, betapa forum “fit and proper test” yang ternyata hanya menjadi ajang dagang sapi dan pemerasan serta memberlakukan para calon menjadi ATM saja layaknya.

Pengakuan Agus Condro, sebenarnya telah lebih dari cukup untuk membuka borok dari orang-orang yang katanya terhormat ini. Betapa kotor nya lembaga yang sepatutnya kita hormati ini, hanya karena ulah dari sebagian anggota nya yang sangat tidak tahu diri. Hak budget yang dimiliki DPR, yang seharusnya hanya sebatas pemahaman yang strategis, dipelintir dan diusahakan dengan sekuat tenaga untuk dapat berkembang sampai di tingkat yang sangat rendah yaitu pada pelaksanaan satuan tiga. Hal ini terutama sekali telah dengan gamblang menunjukkan betapa rendah kualitas para anggota DPR itu. Mereka seharusnya menyadari bahwa mereka itu tidak mengetahui apa-apa tentang masalah yang teknis sifatnya. Dan juga mereka seharusnya menyadari bahwa dengan turut campur dalam kegiatan yang sangat teknis sifatnya itu, maka mereka telah membuka peluang terhadap terjadinya banyak hal yang keliru dan berakhir pada pemborosan uang negara.

Dengan tetap ngotot nya mereka untuk tetap ikut serta dalam masalah yang sifatnya teknis itu, sebenarnya telah dapat ditenggarai bahwa ada maksud-maksud terselubung yang akan dikerjakannya.

Tingkah laku para anggota DPR, sudah sangat diketahui masyarakat luas sebagai perilaku yang tidak pantas ditiru. Sejumlah anggota DPR yang terhormat itu saat ini bahkan tengah mendekam di tahanan karena kasus korupsi. Berbagai macam kasus yang menjerat mereka, dari kasus aliran dana Bank Indonesia sebesar 31,5 miliar rupiah sampai dengan kasus suap alih fungsi hutan lindung. Belum lagi kasus di Departemen Perhubungan yang baru saja terungkap belakangan ini.

Dengan melihat sejumlah data ini, tentunya kemudian kita menjadi bertanya-tanya tentang apa-apa yang dihasilkan oleh kerja mereka ini. Salah satunya adalah tugas menyusun undang-undang. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa hasil dari menyusun undang-undang akan menjadi satu petanyaan besar, apakah memang benar produk itu akan tetap berorientasi kepada kepentingan masyarakat luas ? Agak sulit untuk dapat mempercayainya. Dengan tabiat yang dimiliki para anggotanya, bagaimana kita dapat mempercayai hasil kerja mereka. Sekali lagi, perlu digaris bawahi, bahwa asumsi masyarakat luas selama ini tentang bobrok nya mentalitas para anggota DPR sekarang telah menjadi atau telah memperoleh pembenaran akademik ! Bisa dibayangkan, disertasi ilmiah untuk program doktor dari Idrus Marham tentang lebih dari 60 % anggota DPR ternyata tidak berkualitas, telah mendapatkan penilaian “cum laude” dari senat guru besar besar Universitas Gajah Mada.

Sepatutnya, kita harus menundukkan kepala tanda prihatin sekali terhadap kenyataan ini. Sekaligus tentunya kita semua berharap, agar momentum pemilihan umum pada tahun 2009 ini, akan menjadi ajang yang sangat serius bagi para pemilih untuk tidak memilih para anggota DPR yang tidak berkualitas. Rasanya, penderitaan rakyat banyak selama ini sudah lebih dari cukup untuk dapat diberikan toleransi, kedepan sudah waktunya kita mencari para anggota DPR yang benar-benar dapat menangkap aspirasi rakyat yang diwakilinya. Anggota DPR yang memang pantas untuk disebut sebagai para Anggota yang Terhormat !

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close