web stats
AviationCaseDefense and SecurityOpinionPolitics

Teknologi dan Pertahanan Negara

Artificial Intelligence di Kehidupan Sehari - hari - Nusatek        Kemajuan teknologi yang sangat cepat banyak sekali pengaruhnya terhadap sistem pertahanan keamanan sebuah negara.   Setelah domain udara telah pula menjadi ajang pertempuran yang sangat menentukan, kemajuan teknologi mengantar kepada domain baru bernama Cyber World.   Dunia Cyber yang ditandai dengan AI  (Artificial Inteligence)  dan Autonomous System (AS)  konon telah menjadi domain ke 5 setelah daratan , perairan, udara dan ruang angkasa.   Apabila perang dunia ke 2 diakhiri dengan penggunaan Bom Nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, maka perang dunia mendatang akan berhadapan dengan tidak hanya nuklir akan tetapi juga teknologi cyber.   Salah satu yang muncul di permukaan belakangan ini yang mengiringi kemajuan cyber world adalah penggunaan drone.   Drone seakan sudah menjanjikan orang untuk tidak lagi memerlukan pesawat terbang pembom dan atau  tempur yang harus diawaki lagi.   Risiko kehilangan nyawa dari pilot pesawat terbang tempur dan pembom sudah menjadi kadaluwarsa.   Akibatnya adalah pengembangan senjata nuklir telah bergabung dengan teknologi yang mengandalkan AI dan Autonomous System dalam wadah Cyber World.

         Kemajuan teknologi persenjataan yang begitu cepat telah menjadi lebih berpengaruh besar kepada sistem pertahanan sebuah negara.   Tidak saja pengembangan teknologi dalam meningkatkan sistem senjata yang akan digunakan, akan tetapi juga mengenai sistem pertahanan yang diperlukan dalam menghadapinya.   Dalam konteks inilah maka tidak bisa dihindari pola kerjasama dalam membangun sistem pertahanan yang canggih memerlukan kolaborasi antar negara.   Sejak berkembangnya perang dunia pertama sampai dengan berakhirnya perang dunia kedua, dapat disaksikan tentang bagaimana negara negara yang sepaham membentuk aliansi pertahanan bersama.   Contoh mudah yang dapat dilihat adalah NATO (North Atlantic Treaty Organization) dan Pakta Warsawa.   Ada beberapa lagi koalisi pertahanan antar negara dengan wadah Pakta Militer yang berkembang sebagai konsekuensi dari kerjasama bidang pertahanan.  Contoh mutakhir belakangan ini adalah munculnya AUKUS – Australia, United Kingdom dan United States of America.  Tidak semua kelompok negara bekerjasama langsung dalam bidang pertahanan, akan tetapi secara tidak langsung kepentingan yang menjadi kesamaan visi pandang negara pasti akan bersinggungan juga dengan aspek Natonal atau Regional Security.   ASEAN adalah salah satu contoh dari sebuah koalisi yang menyatakan dirinya bukan sebuah pakta militer atau koalisi pertahanan regional.   Disisi lainnya kerjasama pertahanan antar dua negara kerap pula berkembang dengan alasan kesamaan visi dan bahkan kesamaan dalam melihat persepsi ancaman yang dihadapi.

        Ada juga moda kerjasama antar dua negara yang kelihatan dipermukaan sebagai “hanya” melakukan kerjasama dibidang perdagangan, akan tetapi terkandung didalamnya banyak hal berkait dengan sistem pertahanan keamanan kedua negara, termasuk dalam pengembangan sistem persenjataannya.   Kesemua itu tentu saja sangat berhubungan dengan interest dan atau kepentingan kedua negara yang bersangkutan.

A New Chapter in U.S.-South Korea Relations: Seoul Embraces a Broader Role  in Asia - Center for American Progress

        Amerika Serikat dan Korea Selatan terikat dalam perjanjian dagang yang terkenal dengan KORUS – Korea US Free Trade Agreement dan sudah berjalan sejak jelang berakhirnya perang Korea di tahun 1950-an.   Perjanjian antara Amerika Serikat dan Korea Selatan walaupun judulnya adalah Free Trade Agreement, akan tetapi ternyata mengandung beberapa perjanjian strategis yang berkait dengan pertahanan keamanan kedua negara.   Sebuah masalah yang sangat masuk akal, karena Amerika Serikat dan Korea Selatan memiliki persepsi dalam hal potensi ancaman dari negara yang sama yaitu Korea Utara.   Perjanjian perdagangan bebas ini tidak dapat dipisahkan dari mekanisme meletus hingga berakhirnya perang korea.

        Pada era kepemimpinan Presiden Donald Trump, diketahui KORUS sebagai sebuah Free Trade Agreement telah memposisikan Amerika pada situasi sulit karena ditengah kesulitan ekonomi yang dihadapi AS, KORUS terus membuat AS mengalami defisit 18 miliar USD setiap tahunnya, sementara dukungan biaya penempatan pasukan AS di Korsel menyedot biaya 3.5 miliar USD setiap tahun.   Dengan kondisi seperti itu KORUS tetap dipertahankan.   Sebuah sikap yang patut mengundang tanda tanya besar.   Perjanjian perdagangan bebas antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan ternyata menyimpan Top Secreet Agrement dengan the most highly classified and sensitive Special Access Program (SAP) di dalamnya.   SAP dalam hal ini memberikan pelayanan sophisticated Top Secreet Codeword Inteligence and Military Capabilities.   Uraian dari penjelasan ini adalah sebagai berikut:   Korea Utara ditenggarai telah memiliki ICBM – Inter Continental Ballistic Missiles dengan kepala hulu ledak nuklir yang dapat mencapai Los Angeles di benua Amerika dalam hitungan 38 menit.   Teknologi yang dimiliki Amerika Serikat dalam sistem pertahanan udara di NORAD – North American Aerospce Defence Command hanya mampu mendeteksi setalah 15 menit ICBM meluncur.   Hitungan tenggang waktu ini akan menjadi sangat terlambat bagi sistem pertahanan udara Amerika untuk menangkalnya.   Untuk itulah diperlukan kerjasama erat dan rahasia dengan sistem pertahanan udara yang dimiliki Korea Selatan.   Tidak hanya sekedar teknologi, akan tetapi posisi radar pendeteksi pasti akan mempengaruhi kecepatan deteksi dan reaksi dari sebuah sistem pertahanan udara.   Pada konteks ini Korea Selatan dapat membantu informasi kepada Amerika cukup dalam waktu 7 detik setelah ICBM Korut diluncurkan.   Dengan kecepatan informasi itulah maka sistem pertahanan udara AS akan mampu mencegah kehancuran fatal akibat ICBM Korut tersebut.   Itu adalah hanya salah satu saja dari bagaimana perjanjian kerja sama antar dua negara kerap mengandung top secreet agreement di dalamnya.   Teknologi memang telah memaksa setiap negara mengkaji ulang struktur utama dari sistem pertahanan keamanan sebagai bagian utuh dari pengelolaan National Security.   Teknologi akan selalu melekat dengan sistem pertahanan negera.

 

Jakarta 3 April 2023

Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia.

       

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button