Ketika mobil listrik mulai memenuhi jalan raya dan energi terbarukan semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, muncul pertanyaan yang tampaknya sederhana yakni kapan pesawat terbang akan sepenuhnya menggunakan listrik juga ? Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika dunia penerbangan menghadapi tekanan untuk menurunkan emisi karbon tanpa mengorbankan kebutuhan mobilitas manusia yang terus meningkat. Beberapa hari terakhir, perbincangan mengenai pesawat listrik kembali mengemuka seiring dengan ulasan menarik dari The Conversation yang menyoroti prospek penerbangan bertenaga baterai. Kita disuguhi sejumlah kabar menggembirakan bahwa pesawat listrik Velis Electro sudah terbang di Eropa, Air Canada memesan 30 unit pesawat hybrid, dan sejumlah analis memperkirakan dekade 2030-an akan menjadi periode penting bagi perkembangan penerbangan listrik.
Semua itu tentu patut diapresiasi. Akan tetapi ada baiknya, bila kita melihat persoalan ini dengan sedikit lebih hati-hati. Optimisme teknologi memang diperlukan, tetapi optimisme tanpa memahami batas-batas teknologi dapat berubah menjadi ekspektasi yang berlebihan. Penerbangan memang harus bergerak menuju masa depan yang lebih bersih. Persoalannya, pesawat tidak sama dengan mobil. Mobil dapat berhenti di jalan ketika baterainya habis dan mencari tempat untuk mengisi ulang. Pesawat harus membawa seluruh sumber energinya ke udara sambil tetap mengangkut penumpang, kargo, dan awak. Setiap kilogram tambahan memiliki konsekuensi langsung terhadap performa dari kemampuan terbang. Karena itu, transisi energi di sektor penerbangan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Kita tidak hanya berbicara mengenai mengganti mesin berbahan bakar fosil dengan motor listrik. Kita sedang berhadapan dengan persoalan energi, berat, jarak tempuh, keselamatan, infrastruktur, keekonomian, dan kesiapan teknologi secara bersamaan.
Tembok Besar Penerbangan Listrik
Mari kita mulai dari persoalan yang paling mendasar yaitu baterai. Fakta bahwa bahan bakar jet memiliki kepadatan energi jauh lebih tinggi dibandingkan baterai merupakan hambatan besar yang tidak dapat diabaikan. Ini bukan semata-mata persoalan bahwa teknologi baterai belum cukup maju. Ada batas fundamental fisika yang harus diperhitungkan. Gambaran sederhananya cukup ekstrem. Jika sebuah Boeing 737 dipaksa menggunakan teknologi baterai dengan karakteristik yang tersedia saat ini, sebagian besar kapasitas pesawat harus dikorbankan hanya untuk membawa sumber energinya. Penumpang dan kargo bahkan dapat kehilangan ruang demi berat baterai. Ini merupakan peringatan bahwa kita tidak boleh begitu saja terbawa narasi bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan terlistrikisasi. Untuk penerbangan jarak pendek dengan jumlah penumpang terbatas, pesawat listrik mungkin memiliki masa depan yang sangat menjanjikan. Namun untuk penerbangan jarak jauh dan pesawat berkapasitas besar, persoalannya menjadi jauh lebih rumit. Sangat mungkin bahwa dalam beberapa dekade ke depan kita masih membutuhkan kombinasi berbagai teknologi, bukan satu solusi tunggal.
Hybrid adalah Jembatan, Bukan Tujuan Akhir
Di tengah keterbatasan baterai, teknologi hybrid menawarkan jalan tengah. Motor listrik dapat dipadukan dengan mesin konvensional sehingga konsumsi bahan bakar dan emisi dapat ditekan. Tetapi di sinilah kita harus bisa bersikap kritis terhadap optimisme mengenai angka penghematan sekitar 10 persen untuk pesawat regional hybrid pada 2030-2035. Pengurangan emisi sebesar 10 persen tentu bukan sesuatu yang kecil. Namun, kita harus melihatnya dalam konteks keseluruhan sistem penerbangan. Jika penerbangan regional hanya merupakan sebagian dari total emisi penerbangan global, maka penghematan tersebut belum cukup untuk menjawab tantangan dekarbonisasi secara keseluruhan. Ada risiko bahwa istilah hybrid kemudian menjadi semacam jimat penenang. Kita merasa telah menemukan jalan menuju penerbangan hijau, padahal pertumbuhan jumlah penumpang, frekuensi penerbangan, dan kebutuhan mobilitas udara terus meningkat. Artinya, efisiensi teknologi harus berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan permintaan. Kalau tidak, keuntungan yang diperoleh dari teknologi baru dapat kembali tergerus oleh pertumbuhan volume penerbangan.
Solusi yang Sudah Ada, tetapi Tidak Sederhana
Di sinilah bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi penting. Dibandingkan pesawat listrik dan hidrogen, SAF memiliki satu keunggulan besar karena teknologinya relatif lebih dekat dengan sistem penerbangan yang sudah ada. SAF dapat digunakan dengan modifikasi yang jauh lebih terbatas terhadap armada dan infrastruktur yang sudah tersedia. Namun, SAF juga bukan obat mujarab. Produksinya masih mahal dan terbatas. Persoalan bahan baku juga tidak sederhana. Ketika bahan baku SAF bersaing dengan kebutuhan pangan atau berpotensi mendorong deforestasi, maka kita kembali berhadapan dengan dilema baru. Karena itu, tidak ada jalan pintas menuju penerbangan hijau. Kita menghadapi semacam trilemma, SAF merupakan teknologi yang paling siap digunakan tetapi menghadapi persoalan ketersediaan dan biaya, baterai menjanjikan elektrifikasi tetapi dibatasi oleh berat dan kepadatan energi, sedangkan hidrogen menawarkan prospek yang lebih revolusioner tetapi membutuhkan perubahan besar pada pesawat, bandar udara, sistem penyimpanan, dan rantai pasok energi.
Hidrogen dan Lompatan yang Tidak Pendek
Tidak salah untuk mengapresiasi optimisme terhadap hidrogen sebagai salah satu calon sumber energi masa depan penerbangan. Namun, kita juga harus membedakan antara kesiapan teknologi dan kesiapan operasional. Hidrogen memang bukan sesuatu yang baru. Teknologi hidrogen telah digunakan selama puluhan tahun dalam berbagai sektor. Persoalannya adalah bagaimana membawa hidrogen ke dunia penerbangan komersial dalam skala besar. Hidrogen cair membutuhkan temperatur yang sangat rendah. Penyimpanan, distribusi, keselamatan, serta pembangunan infrastruktur di bandar udara semuanya membutuhkan investasi besar. Pesawat yang menggunakan hidrogen pun kemungkinan memerlukan desain yang berbeda dari pesawat konvensional saat ini. Karena itu, keberhasilan demonstrasi teknologi tidak otomatis berarti kesiapan penerbangan komersial. Jarak antara “bisa terbang” dan “bisa dioperasikan secara komersial dalam skala global” masih sangat panjang. Apakah karena berbagai kendala tersebut kita sebaiknya menghentikan pengembangan pesawat listrik? Tentu tidak. Justru sebaliknya. Saya percaya pengembangan pesawat listrik dan hybrid harus terus dilakukan. Bukan karena keduanya merupakan solusi paling sempurna saat ini, tetapi karena kita tidak boleh berhenti bereksperimen. Ungkapan Gökçin Çınar bahwa kita harus mencoba segala sesuatu yang dapat kita lakukan patut kita pegang. Dunia penerbangan tidak pernah berkembang karena menunggu teknologi menjadi sempurna. Ia berkembang karena manusia berani menguji, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Ada satu hal yang harus menyertai optimisme tersebut yakni kejujuran kepada publik. Jangan menjual pesawat listrik sebagai penyelamat iklim ketika kemampuan teknologinya masih terbatas pada segmen penerbangan tertentu. Jangan pula memberikan kesan bahwa seluruh pesawat komersial dunia akan segera berubah menjadi pesawat listrik. Masyarakat perlu memahami bahwa perjalanan menuju penerbangan rendah emisi atau bahkan nol emisi akan panjang, mahal, dan penuh kompromi.
Jangan Lupakan Solusi yang Bisa Dilakukan Hari Ini Dalam menunggu teknologi baterai yang lebih ringan, hidrogen yang lebih aman, atau SAF yang lebih murah, ada satu wilayah yang sering luput dari perhatian yakni optimalisasi operasional. Kita dapat mengurangi penerbangan dengan tingkat keterisian yang rendah. Kita dapat merancang rute yang lebih efisien. Kita dapat memperbaiki manajemen lalu lintas udara. Kita dapat mengurangi waktu pesawat menunggu di darat maupun berputar di udara. Kita dapat meningkatkan efisiensi bandar udara dan sistem navigasi penerbangan. Langkah-langkah tersebut mungkin terdengar kurang spektakuler dibandingkan menghadirkan pesawat bertenaga hidrogen atau baterai. Tetapi justru karena relatif sederhana, dampaknya dapat dirasakan lebih cepat. Dalam menghadapi perubahan iklim, kita tidak boleh terjebak dalam fetisisme teknologi, seolah-olah hanya teknologi baru yang dapat menyelamatkan kita. Kadang-kadang, solusi terbaik adalah menggunakan teknologi yang sudah tersedia dengan cara yang jauh lebih cerdas.
Indonesia Jangan Hanya Menjadi Penonton
Bagi Indonesia, persoalan ini memiliki dimensi yang lebih luas. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah geografis yang sangat luas, penerbangan merupakan bagian penting dari konektivitas nasional. Karena itu, transisi menuju penerbangan yang lebih berkelanjutan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai agenda industri, energi, teknologi, dan ketahanan nasional. Indonesia memiliki sumber daya alam, potensi energi terbarukan, bahan baku bioenergi, serta pasar penerbangan yang besar. Semua itu dapat menjadi modal untuk membangun ekosistem penerbangan masa depan. Kita tidak harus menjadi negara pertama yang menerbangkan pesawat listrik komersial berkapasitas besar. Tetapi kita harus memastikan bahwa ketika teknologi tersebut matang, Indonesia tidak hanya menjadi pembeli. Kita perlu mulai membangun kemampuan riset, pengembangan teknologi, produksi SAF, penguasaan sistem penyimpanan energi, serta sumber daya manusia yang memahami teknologi penerbangan masa depan. Dengan demikian, transisi energi bukan sekadar perubahan jenis bahan bakar pesawat, tetapi menjadi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas teknologi nasional.
Penerbangan masa depan mungkin tidak atau belum sepenuhnya listrik. Mungkin juga tidak sepenuhnya menggunakan satu jenis energi. Yang lebih mungkin adalah sebuah ekosistem penerbangan yang semakin efisien, semakin rendah emisi, semakin beragam sumber energinya, dan semakin cerdas dalam mengelola operasional. Tantangan kita bukan memilih antara pesawat listrik, hybrid, SAF, atau hidrogen. Tantangannya adalah bagaimana menggunakan semua pilihan tersebut secara tepat, pada waktu yang tepat, untuk mencapai tujuan yang sama. Penerbangan yang lebih bersih, lebih efisien, lebih tangguh, dan tetap mampu menghubungkan dunia. Dan perjalanan menuju ke sana membutuhkan bukan sekadar teknologi, tetapi juga kesabaran, kejujuran, keberanian untuk bereksperimen, dan konsistensi dalam bekerja. Pesawat Listrik Bukan Utopia, tetapi Juga Bukan Solusi Instan.
Jakarta 2 September 2026
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia
Top of Form
Bottom of Form

