JAKARTA, 22 September 2026
Empat pesawat tempur Rafale, tiga pesawat tanker, dan dua pesawat angkut menempuh perjalanan lintas benua dalam misi Pégase 26. Indonesia menjadi salah satu persinggahannya. Di Jakarta, kunjungan Angkatan Udara dan Antariksa Prancis itu mempertemukan kerja sama penerbang militer dengan dialog tentang masa depan kekuatan udara. Komandan Misi Mayor Jenderal Julien Sabéné secara khusus mengundang mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Chappy Hakim selaku Ketum bersama anggota Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) untuk berdiskusi serta melihat langsung pesawat-pesawat misi tersebut.
Rute “Pegase 26” itu sendiri merupakan pesan inti. Misi dimulai dari Pangkalan Udara Istres di Prancis selatan, bergerak ke utara menuju Greenland, kemudian melintasi Kanada menuju Alaska, menyeberangi Pasifik ke Jepang, Korea Selatan, Indonesia, dan India, lalu melalui Qatar, Réunion, dan berakhir di Mesir. Rute ini menyatukan tiga kawasan strategis, Arktik, Indo-Pasifik, dan Timur Tengah dalam satu kesatuan, melintasi empat samudra dengan sembilan titik persinggahan.
Pembukaan rute Arktik memiliki makna ganda. Komandan misi, Jenderal Julien Sabenet, menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam rangkaian “Pegase” penerbangan dilakukan ke utara melintasi Greenland menuju Alaska, dengan tujuan “menjelajahi rute yang berbeda” guna meningkatkan fleksibilitas pilihan deployment di masa depan. Penerbangan transisi pertama dari Istres ke Alaska memakan waktu hampir 11 jam, dengan lima kali pengisian bahan bakar di udara. Pada saat yang sama, pemanasan iklim membuat jalur Arktik semakin dapat diakses oleh pesaing potensial, dan Prancis melalui penerbangan aktual mengekspresikan perhatiannya terhadap keamanan kawasan High North serta koordinasi dengan sekutu seperti Denmark.
Lebih lanjut, Pégase 26 adalah misi proyeksi kekuatan udara jarak jauh ketujuh yang dijalankan Prancis sejak 2018. Tujuannya ialah menguji kemampuan mengerahkan kekuatan tempur ke wilayah yang jauh dari pangkalan asal, lengkap dengan pengisian bahan bakar di udara, angkutan logistik, serta dukungan personel. Dimulai pada 8 September 2026, misi ini melibatkan sekitar 300 personel dan sembilan pesawat yang direncanakan menempuh lebih dari 40.000 kilometer dalam sekitar 40 hari. Misi ini terdiri dari 9 Pesawat terbang dan mengunjungi 9 negara sahabat.
Sembilan pesawat itu memiliki tugas yang saling terkait. Empat Rafale F4 menjadi unsur tempur. Tiga A330 MRTT Phénix memungkinkan pesawat mengisi bahan bakar saat terbang sehingga jangkauan operasi bertambah. Dua A400M Atlas mengangkut personel, perlengkapan, dan kebutuhan pendukung. Dalam misi seperti Pégase, kemampuan pesawat-pesawat tersebut untuk bergerak sebagai satu kesatuan sama pentingnya dengan kemampuan setiap pesawat secara terpisah. Misi ini mendemonstrasikan tentang bagaimana operasi udara masa kini telah terikat pada sebuah sistem komando dan pengendalian yang terpadu. Perjalanan Pégase 26 membawa formasi kekuatan udara dan antariksa Prancis melalui Amerika Utara Asia sebelum melanjutkan rute ke kawasan lain, termasuk Timur Tengah. Sepanjang perjalanan, misi ini memberi kesempatan untuk berlatih dan berkoordinasi dengan negara-negara mitra. Bagi Prancis, penerbangan lintas kawasan tersebut memperlihatkan kemampuan pengerahan udara jarak jauh. Bagi negara persinggahan seperti Indonesia, kunjungan ini membuka ruang untuk mengamati mengenai cara dan prosedur standar dari unsur tempur, tanker, dan dukungan logistik strategis bekerja bersama dalm satu Tim.
Di Indonesia, rangkaian acara mencakup pameran statik pesawat dan pengarahan singkat mengenai Pégase 26. Kantor Athan Perancis dan Julien Sabéné, Sang Mission Commander secara khusus mengundang Chappy Hakim bersama lima anggota PSAPI untuk menghadirinya. Di antara anggota yang hadir adalah penasihat senior PSAPI, Prof.Dr. Makarim Wibisono,MA. Prof,Dr. Ariawan Gunadi, SH, MH dan Wakil Ketua Umum PSAPI Tommy Tamotomo serta Alex Drone Quest dan Ardi Sutedja.K. Kehadiran mereka memberi ruang bagi pembicaraan mengenai kekuatan udara dari sudut pandang pengalaman dinas, diplomasi, dan kajian strategis pada tataran global power.
Persinggahan ini berlangsung ketika hubungan kedua angkatan udara memasuki tahap yang semakin erat. Rafale kini berada dalam jajaran pesawat TNI AU, sementara TNI AU sebelumnya menyatakan bahwa latihan bersama dalam rangka Pégase 2026 dijadwalkan berlangsung pada September. Kesamaan jenis pesawat membuka kesempatan untuk saling mempelajari pengalaman pengoperasian, meskipun rincian dan hasil latihan perlu dinilai berdasarkan pelaksanaan di lapangan.
Bagi Chappy Hakim sebagai Ketum PSAPI, kunjungan ke pesawat-pesawat Pégase 26 juga memperlihatkan satu prinsip penting pembangunan kekuatan udara sebagai tulang punggung National Air Power. Pesawat tempur yang mampu terbang jauh tetap memerlukan dukungan bahan bakar, angkutan, awak, pemeliharaan, dan koordinasi operasi. Kehadiran Rafale, MRTT, dan A400M dalam satu misi memberi gambaran nyata tentang hubungan antarkemampuan tersebut. Itulah pula sebabnya pertukaran pengalaman dengan personel yang menjalankan misi dapat bernilai bagi pengembangan pemikiran dan praktik kekuatan udara di Indonesia.
Dialog berlanjut dalam jamuan makan malam di Jakarta. Menurut keterangan mengenai pertemuan itu, Jenderal Julien Sabéné dan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyampaikan harapan agar PSAPI dapat segera menjalin kerja sama erat dengan pusat studi bidang udara dan antariksa Perancis di Paris. Harapan tersebut masih merupakan peluang kerja sama, tetapi menunjukkan bahwa hubungan kedua negara dapat berkembang melalui pertukaran pengetahuan di samping kegiatan antarangkatan udara.
Kerja sama antarpusat studi, apabila terwujud, dapat menyediakan forum untuk membahas doktrin, pendidikan, teknologi, dan perubahan lingkungan strategis. Pengalaman Prancis menjalankan proyeksi udara jarak jauh akan menarik untuk dikaji bersama pengalaman Indonesia menjaga wilayah udara kepulauan yang luas. Percakapan semacam itu juga memberi kesempatan kepada para praktisi dan peneliti dari kedua negara untuk menguji gagasan mereka terhadap kebutuhan operasi yang nyata.
Dalam pertemuan tersebut, Chappy menyerahkan buku karyanya, Retired but not retired, kepada Sabéné, Mission Commander dan Fabian Penone, Duta Besar Perancis untuk Indonesia. Buku itu menjadi kenang-kenangan sekaligus pengingat bahwa pengabdian kepada dunia penerbangan dan pertahanan dapat berlanjut setelah masa dinas aktif berakhir. Bagi PSAPI, pertemuan di Jakarta menjadi kesempatan untuk membawa pengalaman para purnawirawan ke dalam dialog dengan mitra internasional.
Kunjungan ini memberi Chappy beserta PSAPI kesempatan lain yang lebih dekat dengan pesawat-pesawat Pégase 26. Didampingi langsung oleh Julien Sabéné sang Mission Commander, ia di ajak memasuki kokpit Rafale, A330 MRTT Phénix, dan Airbus A400M Atlas. Ketiga ruang kendali itu mewakili tiga unsur yang dibutuhkan dalam pengerahan udara jarak jauh: daya tempur, jangkauan, dan dukungan logistik. Dari pameran statik hingga percakapan pada jamuan makan malam, persinggahan Pégase 26 di Jakarta pun memperlihatkan dua sisi kerja sama Indonesia–Prancis. Belajar dari operasi yang sedang dijalankan dan membuka jalan bagi pertukaran pemikiran pada tahun tahun mendatang. Sejauh ini PSAPI telah bekerjasama mengembangkan kajian mendalam tentang Air and Space Power selain dengan Perancis juga dengan Pusat Studi Air and Space Power India dan China.
Jakarta 23 September 2026
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia

