Article

Menulis versus Kompetensi.

Kompetensi dapat diidentifikasikan sebagai keterampilan, pengetahuan dan karakteristik atau perilaku yang dituntut, agar seseorang dapat menampilkan performa yang maksimal. Singkatnya, adalah bidang yang dikuasai atau digeluti oleh seseorang.

Nah, bagaimana hubungannya dengan kemampuan seseorang dalam menulis?

Sangat sering kita mendengar dari beberapa orang tentang nasihatnya yang berbunyi : menulislah sesuatu yang merupakan kompetensi anda saja. karena tulisan anda tentang sesuatu (diluar kompetensi anda) itu pasti akan menjadi lebih jelek dibanding apabila topik yang sama ditulis oleh orang yang berkompeten dalam bidang tersebut.

Nasihat yang seperti ini, sebenarnya nasihat yang sama sekali tidak berdasar, walaupun tidak juga sepenuhnya salah, namun yang pasti sangat “menyesat” kan. Satu pemahaman yang sangat “jadul”, ketinggalan jaman. Sangat “berbahaya” untuk diikuti.

Masalahnya adalah sederhana sekali, yaitu dari sekian banyak orang yang berkompeten disuatu bidang ternyata tidak mempunyai kemampuan menulis dibidang kompetensinya ?!

Lebih dari itu ternyata banyak sekali kita dapat menjumpai orang-orang yang terkenal dalam menulis sesuatu dengan latar belakang yang tidak ada hubungannya dengan kompetensi yang dimilikinya.

Untuk menampilkan contoh yang mudah saja , mari kita lihat tokoh proklamator Republik Indonesia, Bung Karno. Dia adalah seorang Insinyur jebolan dari Technische Hogeschool di Bandung yang sekarang bernama ITB. Bung Karno banyak sekali menulis tentang perjuangan bangsa, tentang perjuangan si Marhaen, kaum tertindas yang hidup sengsara dan tentu saja tentang politik. Dari sekian banyak tulisan-tulisannya, mungkin tidak ada satupun yang berkait dengan masalah-masalah ke “insinyuran“. Tulisan Bung Karno, adalah berupa tulisan yang sangat tinggi nilainya. Tidak hanya tulisan tentang perjuangan bangsa dalam melawan dan menentang kolonialisme yang konon telah memberikan inspirasi pada banyak pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kemerdekaannya, tetapi juga tulisan-tulisannya yang bersifat pribadi seperti surat-surat cinta yang pernah ditulisnya.

Pramoedya Ananta Toer , penulis piawai , dengan aneka judul buku terkenal seperti “Bumi Manusia ” dan “Anak Segala Bangsa” sebenarnya adalah lulusan sekolah telegraf (Radio Vakschool) di Surabaya.Banyak sekali buku-bukunya yang sudah diterbitkan, tidak perduli pada saat didalam pembuangan di pulau Buru , Pram , demikian sapaannya , tetap berkarya. Tidak sedikit pula buku-buku hasil karyanya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa asing, seperti Inggris dan Perancis.Meski begitu , sampai beliau ini meninggal dunia, belum pernah ada orang yang menemukan karya tulisnya yang menguraikan tentang “radio telegrafi”.

Andrea Hirata Seman Said Harun, lebih dikenal dengan Andrea Hirata saja, penulis kondang dengan best seller nya Laskar Pelangi, kompetensinya adalah dibidang ekonomi. Kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan menyelesaikan Master Degree nya di Sorbone Perancis dengan “cum laude”.

Dia telah sangat sukses menulis beberapa buku yang jauh dari bidang yang digelutinya sebagai ekonom dibidang telekomunikasi. Laskar Pelangi, bahkan sukses pula setelah dituangkan didalam layar lebar. Gala Premiere nya dihadiri oleh banyak petinggi Republik ini, termasuk Presiden dan Wakil Presiden. Sekali lagi harus digaris bawahi bahwa fokus tulisannya di Laskar Pelangi justru lebih banyak kepada bidang pendidikan anak muda dibanding dengan aspek ekonomi telekomunikasi yang menjadi kompetensinya.

J.K Rowling, penulis yang kesohor dengan dongeng fiksi “Harry Potter”nya, buku yang melesat menjadi best seller di seantero jagad, ternyata adalah seorang guru bahasa Inggris, yang mengajar di Portugal. Dia mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, English as a foreign language. Buku dengan judul Harry Potter yang digandrungi demikian banyak orang di seluruh dunia ternyata juga bukan buku tentang bahasa Inggris. Harry Potter yang sangat laku itu konon telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa di dunia.

Walaupun bukan dibidang tulis menulis, di dunia ini ternyata banyak orang-orang sukses dalam bidang yang sebenarnya tidak merupakan latar belakang bidang pelajaran yang didalaminya di sekolah. Sebut saja Ibnu Sutowo yang berhasil membangun Pertamina adalah seorang dokter, bukan insinyur perminyakan. Dirjen Bea Cukai sekarang ini Anwar Suprijadi, adalah seorang insinyur kehutanan, beliau dinilai cukup sukses dalam menjalankan tugasnya. Mustafa Abubakar, Dirut Bulog yang berhasil memecahkan rekor dalam eksport beras ternyata adalah sarjana perikanan, bukan Insinyur beras. Dan masih banyak lagi.

Kembali mengulas tentang kemampuan menulis dari seseorang, atau kualitas tulisan dari seseorang, maka ternyata ,sama sekali tidak ada hubungannya yang langsung dengan kompetensi yang dimilikinya. Jadi…. bagi anda para pengunjung setia Kompasiana, silahkan tulis apa saja dan tentang apa saja kemudian kirimkan segera ke Kompasiana. Menulis modal utamanya adalah “isi kepala”, lha kalau kepala nya kosong apa yang mau ditulis? Untuk itu, salah satu cara termudah untuk mengisi kepala adalah dengan banyak membaca.

Selamat menulis dan jangan mau dibatasi untuk hanya menulis tentang segala sesuatu yang menjadi kompetensi anda saja.

Bravo ! Have a nice week end !

Selamat menjalankan ibadah puasa !

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close