Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Konflik Amerika Serikat–Iran Kebudayaan Perang yang Tak Pernah Padam
    Article

    Konflik Amerika Serikat–Iran Kebudayaan Perang yang Tak Pernah Padam

    Chappy HakimBy Chappy Hakim06/15/2026No Comments6 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa bulan terakhir bukanlah sekadar perselisihan mengenai program nuklir, sanksi ekonomi, atau perebutan pengaruh geopolitik di Timur Tengah. Di balik rentetan serangan, aksi balasan, serta upaya diplomasi yang silih berganti, tersimpan persoalan yang jauh lebih mendalam, yakni benturan identitas, persepsi ancaman, dan budaya strategis yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Ketegangan yang terus berlangsung bahkan telah memengaruhi keamanan jalur energi dunia di Selat Hormuz serta memicu eskalasi militer yang melibatkan berbagai aktor regional dan global.

    Banyak analisis melihat konflik Amerika Serikat–Iran melalui kacamata politik internasional dan keseimbangan kekuatan. Pendekatan tersebut tentu penting, tetapi sering kali belum cukup menjelaskan mengapa konflik ini begitu sulit diakhiri. Bahkan ketika kepentingan ekonomi menuntut stabilitas dan diplomasi terus dilakukan, permusuhan tetap berulang dalam bentuk yang berbeda. Fenomena ini mengingatkan pada tesis dari  Sejarawan terkenal Martin van Creveld dalam bukunya The Culture of War bahwa perang dan konflik tidak semata-mata lahir dari kalkulasi rasional negara, melainkan juga dari faktor budaya, sejarah, kehormatan, identitas kolektif, dan cara suatu bangsa memandang dirinya sendiri serta lawannya.

    Dalam konteks Amerika Serikat dan Iran, memori sejarah memainkan peran yang sangat besar. Bagi Iran, pengalaman intervensi asing dan semangat Revolusi Islam membentuk narasi perlawanan terhadap dominasi eksternal. Sebaliknya, bagi Amerika Serikat, Iran sering dipandang sebagai tantangan terhadap tatanan keamanan regional yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pilar kebijakan luar negerinya. Ketika kedua narasi tersebut bertemu, konflik tidak lagi sekadar soal kepentingan, melainkan juga soal harga diri nasional dan legitimasi politik.  Karena itu, untuk memahami dinamika konflik Amerika Serikat–Iran yang sedang berlangsung saat ini, kita perlu melihatnya tidak hanya sebagai pertarungan militer atau diplomatik, tetapi juga sebagai manifestasi dari budaya strategis yang hidup dalam kedua negara. Perspektif inilah yang membuat pemikiran Martin van Creveld tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap perang terdapat dimensi budaya yang sering kali lebih kuat dan lebih bertahan lama daripada alasan-alasan politik yang tampak di permukaan. Dari sudut pandang tersebut, konflik Amerika Serikat–Iran bukan hanya kisah tentang kekuatan dan kepentingan, melainkan juga tentang bagaimana manusia dan bangsa-bangsa memaknai ancaman, kehormatan, serta penggunaan kekuatan dalam sejarah mereka.

    Top of Form

    Bottom of Form

    Selama ini perang sering dipahami sebagai instrumen politik, alat negara untuk memaksa kehendak terhadap lawan. Pandangan tersebut banyak dipengaruhi oleh pemikiran klasik yang melihat perang secara rasional dan instrumental. Namun, dalam bukunya The Culture of War, Martin van Creveld mengajak pembaca melihat perang dari sudut yang jauh lebih luas. Baginya, perang bukan sekadar aktivitas militer atau keputusan politik, melainkan bagian dari kebudayaan manusia yang telah menyertai perjalanan peradaban sejak awal sejarah.  Creveld memulai argumennya dengan menolak anggapan bahwa manusia berperang semata-mata karena kepentingan ekonomi atau politik. Manusia bukan mesin yang selalu bertindak berdasarkan kalkulasi untung-rugi. Dalam kenyataan, perang juga dipengaruhi oleh kehormatan, identitas kelompok, keberanian, solidaritas, pengorbanan, bahkan emosi yang sulit dijelaskan oleh teori rasional semata. Karena itu, perang melahirkan seperangkat nilai, simbol, ritual, dan tradisi yang berkembang menjadi sebuah budaya tersendiri.

    Mempersiapkan Perang

    Salah satu gagasan menarik dalam buku ini adalah bahwa budaya perang sesungguhnya dimulai jauh sebelum tembakan pertama dilepaskan. Setiap masyarakat memiliki cara untuk mempersiapkan diri menghadapi perang. Dari catatan perang suku-suku kuno, baju zirah para ksatria, hingga seragam militer modern, semuanya bukan hanya perlengkapan tempur tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan.  Demikian pula pendidikan militer. Sejak zaman Sparta hingga akademi militer modern, generasi muda dibentuk melalui latihan, disiplin, dan nilai-nilai keprajuritan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahkan permainan perang, simulasi tempur, dan latihan militer merupakan bagian dari proses pembentukan budaya perang yang bertujuan menanamkan cara berpikir strategis dan semangat juang.

    Daya Tarik Perang

    Dalam bagian yang membahas pengalaman perang, Creveld menyentuh aspek yang sering diabaikan oleh para akademisi modern. Ia berpendapat bahwa bagi sebagian manusia, perang memiliki daya tarik tersendiri. Pertempuran menciptakan rasa persaudaraan yang sangat kuat, menghadirkan pengalaman ekstrem yang tidak ditemukan dalam kehidupan biasa, dan memberi makna tertentu bagi mereka yang terlibat di dalamnya.  Argumen ini tentu kontroversial. Namun Creveld menunjukkan bahwa sepanjang sejarah banyak prajurit yang tetap mengenang masa perang sebagai periode paling menentukan dalam hidup mereka. Bukan karena mereka mencintai kekerasan, melainkan karena perang menghadirkan solidaritas, keberanian, dan pengorbanan dalam bentuk yang paling nyata.

    Perang dalam Ingatan Kolektif

    Perang tidak berhenti ketika pertempuran berakhir. Justru setelah perang usai, masyarakat membangun berbagai cara untuk mengenangnya. Dari epos Homer di Yunani kuno, karya sastra modern, lukisan, film, hingga monumen dan taman makam pahlawan, semuanya merupakan bagian dari budaya perang. Menurut Creveld, banyak bangsa dibentuk oleh memori kolektif tentang perang yang pernah mereka alami. Perang kemerdekaan, perang mempertahankan negara, maupun konflik besar lainnya menjadi fondasi identitas nasional. Melalui sejarah dan peringatan, generasi berikutnya mewarisi narasi tentang keberanian, pengorbanan, dan harga yang harus dibayar demi mempertahankan bangsa.

    Apakah Dunia Bisa Hidup Tanpa Perang?

    Di tengah optimisme globalisasi dan kemajuan teknologi, banyak pihak percaya bahwa perang perlahan akan menghilang. Creveld memandang keyakinan tersebut dengan skeptis. Menurutnya, bentuk perang mungkin berubah, tetapi akar penyebabnya tetap melekat pada sifat manusia dan dinamika kehidupan berkelompok. Selama manusia memiliki identitas, kepentingan, keyakinan, dan rasa keterikatan terhadap komunitasnya, maka potensi konflik akan selalu ada. Karena itu, perang mungkin tidak lagi tampil dalam bentuk yang sama seperti masa lalu, tetapi tidak berarti akan benar-benar lenyap dari kehidupan manusia.

    Paradoks Modernitas

    Pada bagian akhir bukunya, Creveld mengulas perubahan besar yang terjadi dalam masyarakat modern. Teknologi semakin dominan, mesin menggantikan banyak fungsi manusia, dan nilai-nilai sosial mengalami transformasi. Pertanyaannya, apakah perubahan tersebut juga mengubah budaya perang?  Ia melihat adanya paradoks. Di satu sisi, masyarakat modern semakin menjauhi kekerasan dan semakin menghargai kenyamanan hidup. Namun di sisi lain, negara-negara tetap membutuhkan institusi militer yang mampu bertarung ketika ancaman muncul. Kemajuan teknologi memang mengubah cara berperang, tetapi tidak menghapus kebutuhan akan keberanian, kepemimpinan, disiplin, dan pengorbanan.

    Pelajaran bagi Indonesia

    Pesan terpenting dari buku ini adalah bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh senjata dan teknologi. Di balik kekuatan militer selalu terdapat budaya strategis yang menopangnya. Semangat kebangsaan, penghormatan kepada para pejuang, pendidikan karakter, serta kesadaran bela negara merupakan bagian dari fondasi yang membentuk daya tahan nasional. Dalam era ketika peperangan berkembang ke ranah siber, udara, dan antariksa, pelajaran tersebut justru semakin relevan. Teknologi dapat dibeli dan dipindahkan, tetapi budaya tidak. Alutsista dapat diperoleh melalui anggaran, tetapi semangat juang harus dibangun melalui proses panjang yang melibatkan sejarah, pendidikan, dan identitas nasional.Martin van Creveld mengingatkan bahwa untuk memahami perang, kita tidak cukup mempelajari strategi dan persenjataan. Kita juga harus memahami manusia yang berperang, masyarakat yang mendukungnya, dan kebudayaan yang membuat perang terus menjadi bagian dari perjalanan peradaban. Di situlah letak inti The Culture of War sebuah refleksi mendalam bahwa perang, suka atau tidak, merupakan salah satu cermin paling tua dari sifat manusia itu sendiri.

    Jakarta  9 Juni 2026

    Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleAntariksa dan Kedaulatan Indonesia
    Next Article Bedah Buku “Dokter Manusia” Karya Dr. dr. M. Wawan Mulyawan, Sp.BS(K) di RSAU dr. Esnawan Antariksa
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Bedah Buku “Dokter Manusia” Karya Dr. dr. M. Wawan Mulyawan, Sp.BS(K) di RSAU dr. Esnawan Antariksa

    06/15/2026
    Article

    Antariksa dan Kedaulatan Indonesia

    06/15/2026
    Article

    Mengapa Amerika Serikat Tidak Memilih Douglas MacArthur Menjadi Presiden?

    06/15/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.