Perkembangan mutakhir konflik di Timur Tengah menunjukkan eskalasi yang semakin kompleks dan sulit diprediksi. Hal ini ditandai oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serangkaian serangan presisi terhadap tokoh-tokoh kunci militer, serta potensi meluasnya konflik melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz. Situasi ini tidak hanya mencerminkan dinamika militer semata, tetapi juga memperlihatkan bagaimana narasi politik, persepsi publik, dan kepemimpinan memainkan peran penting dalam mendorong atau menahan eskalasi. Dalam konteks inilah, pemikiran Henk de Berg menjadi relevan untuk dicermati, terutama ketika ia menelaah politik modern sebagai sebuah arena pertunjukan yang sarat dengan konstruksi citra dan manipulasi naratif. Henk de Berg adalah profesor Studi Jerman di University of Sheffield, Inggris. Dia yang dikenal melalui pendekatan interdisipliner dalam mengkaji hubungan antara sastra, budaya, dan politik. Melalui karyanya Trump and Hitler: A Comparative Study in Lying, ia menawarkan perspektif yang tidak lazim dengan membandingkan Donald Trump dan Adolf Hitler bukan pada ideologi, melainkan pada cara mereka membangun pengaruh melalui retorika, simbol, dan performa politik. Pendekatan ini menempatkan de Berg sebagai salah satu akademisi yang berupaya membaca ulang fenomena populisme kontemporer dengan merujuk pada pola-pola historis, tanpa terjebak pada penyederhanaan yang ahistoris.
Perbandingan antara Donald Trump dan Adolf Hitler selalu memicu kontroversi, sering kali lebih karena sensitivitas historis daripada ketelitian analitis. Namun melalui bukunya, Henk de Berg mengajak pembaca keluar dari jebakan perbandingan dangkal. Ia tidak menempatkan keduanya dalam satu garis ideologi, melainkan dalam satu panggung yang sama, panggung politik sebagai arena pertunjukan di mana persepsi publik menjadi medan utama perebutan kekuasaan. Dalam pembacaan de Berg, keduanya tampil sebagai pelaku utama dalam teater kekuasaan. Politik tidak lagi semata soal program atau kebijakan, melainkan tentang bagaimana seorang pemimpin membangun aura, menciptakan kedekatan emosional, dan mengelola persepsi publik secara sistematis. Detail yang tampak sepele justru menjadi signifikan, mulai dari penampilan, gaya bicara, hingga simbol-simbol personal yang dirancang untuk membedakan diri dari elit sekaligus memikat massa. Pada titik ini, politik menjelma menjadi seni performatif, dan pemimpin menjadi aktor yang memainkan peran yang mereka konstruksi sendiri di hadapan publik.
Di balik pertunjukan tersebut, bekerja sebuah mesin populisme yang relatif konsisten. De Berg menunjukkan bagaimana kedua tokoh membangun dunia politik yang bertumpu pada pembelahan tajam antara “kita” dan “mereka”. Musuh diciptakan, baik dalam bentuk kelompok minoritas, media, maupun apa yang disebut sebagai establishment. Narasi ini bukan sekadar retorika, melainkan fondasi psikologis untuk mempertahankan loyalitas dan solidaritas internal di antara para pendukung. Lebih jauh, kebohongan dalam konteks ini tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar penyimpangan dari fakta, melainkan sebagai instrumen politik yang disengaja. Fakta kehilangan posisi sentralnya dan digantikan oleh apa yang dapat disebut sebagai kebenaran naratif. Pendukung tidak lagi mencari verifikasi objektif, tetapi resonansi emosional yang memperkuat identitas mereka. Realitas tidak dihapus, melainkan digeser dan dibentuk ulang agar selaras dengan kebutuhan psikologis dan politik dari komunitas pendukung tersebut.
Fenomena ini sekaligus menjelaskan mengapa serangan terhadap elit dan para ahli menjadi begitu dominan. Ketika otoritas pengetahuan dilemahkan, maka ruang kebenaran menjadi kosong dan siap diisi oleh klaim sepihak dari pemimpin. Hubungan antara pemimpin dan massa pun berubah menjadi semakin personal dan langsung, melampaui rasionalitas, bahkan dalam banyak hal menyerupai hubungan kepercayaan yang bersifat emosional dan simbolik. Meski demikian, Henk de Berg tetap berhati-hati agar tidak terjebak dalam simplifikasi historis. Ia tidak menyamakan konteks yang melahirkan Adolf Hitler dengan sistem demokrasi modern yang mengantarkan Donald Trump ke panggung kekuasaan. Perbandingan yang ia ajukan beroperasi pada tingkat metode dan mekanisme, bukan pada konsekuensi ekstrem seperti totalitarianisme atau genosida.
Di situlah letak relevansi terpenting dari kajian ini. Ia menunjukkan bahwa teknik untuk membangun kultus, menggerakkan massa, dan membentuk realitas politik tidak hilang bersama berakhirnya Perang Dunia II. Teknik tersebut bertransformasi dan beradaptasi, muncul kembali dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali tersembunyi di dalam praktik demokrasi modern yang secara formal tetap berjalan. Dalam perluasan pemahaman ini, penting disadari bahwa kekuatan utama dari politik performatif bukan hanya terletak pada pemimpin, tetapi juga pada ekosistem yang menopangnya. Media sosial, fragmentasi informasi, serta kecepatan distribusi opini telah menciptakan ruang di mana narasi dapat berkembang tanpa verifikasi yang memadai. Dalam ruang seperti ini, batas antara fakta dan opini menjadi kabur, dan emosi kolektif sering kali lebih menentukan arah politik dibandingkan argumentasi rasional. Selain itu, terdapat kecenderungan bahwa masyarakat modern semakin rentan terhadap politik identitas yang disederhanakan. Kompleksitas persoalan publik direduksi menjadi slogan, simbol, dan loyalitas kelompok. Dalam situasi demikian, demokrasi tidak lagi berfungsi sebagai arena deliberasi yang sehat, melainkan berubah menjadi kompetisi narasi yang saling menegasikan. Ketika kondisi ini dibiarkan, maka kualitas pengambilan keputusan publik pun berisiko mengalami degradasi yang serius.
Dengan demikian, pelajaran utama dari kajian ini bukanlah untuk menyamakan dua tokoh yang berbeda zaman, melainkan untuk mengenali pola yang terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Demokrasi tidak runtuh secara tiba-tiba, tetapi dapat terkikis perlahan melalui praktik-praktik yang tampak biasa, bahkan populer. Ketika politik sepenuhnya menjadi pertunjukan dan kebenaran menjadi sekadar pilihan naratif, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kekuasaan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membedakan antara realitas dan ilusi. Akhirnya, refleksi dari dinamika di Timur Tengah dan pembacaan kritis Henk de Berg tidak boleh berhenti sebagai wacana akademik yang jauh dari realitas keseharian. Pola-pola politik berbasis emosi, pembelahan sosial, serta kecenderungan membangun “kebenaran versi sendiri” bukanlah fenomena yang eksklusif milik kawasan tertentu. Dalam kadar dan bentuk yang berbeda, gejala serupa dapat tumbuh di ruang demokrasi mana pun, termasuk di Indonesia.
Ketika publik mulai lebih mempercayai narasi daripada fakta, ketika perbedaan diolah menjadi permusuhan, dan ketika pemimpin diposisikan di atas kritik rasional, maka fondasi demokrasi perlahan tergerus tanpa disadari. Inilah peringatan yang patut direnungkan bersama bahwa ancaman terhadap akal sehat publik dan keseimbangan kekuasaan sering kali tidak datang secara dramatis, melainkan tumbuh diam-diam di tengah kebisingan politik yang justru terasa biasa. Harus diwaspadai tentang kehidupan politik di Indonesia yang berpotensi dipengaruhi, bahkan didominasi oleh narasi yang dibangun secara emosional dan subjektif, bukan oleh fakta, data, atau rasionalitas publik. Itulah Indonesia yang kini tampak tengah berada atau dalam perjalanan menuju ruang besar ancaman Politik Naratif.Top of Form
Jakarta 20 Maret 2026
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia
Bottom of Form

