Pesawat terbang Transport Militer Dakota C-47 yang versi sipilnya dikenal sebagai pesawat terbang DC-3 adalah merupakan hasil produksi dari Pabrik Pesawat terbang Amerika Serikat Douglas Aircraft Company. Pesawat terbang ini di rancang bangun pertama kali pada tahun 1936 dan terbang perdana serta diproduksi masal sejak tahun 1941. Pesawat Dakota termasuk salah satu pesawat terbang yang paling banyak di produksi yaitu mencapai lebih dari 10.000 pesawat. Kemungkinan juga merupakan pesawat terbang yang paling lama digunakan sejak tahun 1941, yaitu hingga tahun 2008 masih aktif diterbangkan pada siklus operasional rutin dalam kegiatan unit US Air Force 6th Special Operation Squadron.

Di Indonesia Dakota yang versi militer digunakan oleh Angkatan Udara, Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Versi sipil nya DC-3 banyak digunakan oleh Garuda Indonesia dan juga beberapa maskapai penerbangan domestik lainnya seperti Merpati Nusantara Airlines, Bouraq, Mandala dan lain-lain (Baca : Chappy Hakim: Era Soekarno, Maskapai Indonesia Tertata Rapi) . Ada perbedaan sedikit Dakota versi militer dengan versi sipil , antara lain pada Cargo door, hoist attachment dan lantainya yang diperkuat untuk membawa perlengkapan militer serta untuk gerakan pasukan payung dengan perlengkapannya. Selain itu , disain ekor yang lebih pendek untuk keperluan pemasangan alat penarik glider serta astrodome yang terletak diatas kokpit untuk keperluan navigasi bagi operasi militer.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa seri dari pesawat terbang C-47 Dakota ada yang dibuat untuk keperluan “Close Air Support”. Dakota yang dimodifikasi menjadi “ground attack aircraft” yang bertujuan untuk membantu gerakan pasukan didarat. Pesawat Dakota yang disebut sebagai C-47 Gunship ini dikenal dengan AC-47 Spooky yang nama panggilannya “Puff, the Magic Dragon”. Naga Terbang yang sering datang sebagai “dewa penyelamat” bagi pasukan kawan di darat yang tengah berada dalam kepungan musuh. Ini adalah pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat pertama dari seri pesawat angkut yang dimodifikasi menjadi Gunship khusus untuk keperluan medan laga pada perang Vietnam. Modifikasi yang dilakukan adalah dengan memasang 3 buah senapan mesin buatan General Electric yang berkaliber 7.62 mm pada jendela belakang pesawat di sebelah kiri, disisi Kapten Pilot. Dengan demikian maka Sang Pilot dapat mengarahkan tembakan ke sasaran dibawah dengan menggunakan trigger yang terpasang di kemudi pesawat. Disinilah uniknya Dakota Gunship sebagai pesawat “closed air support” yang menembak kesasaran di darat tetapi dengan arah tembakan yang menyamping.

Angkatan Udara Indonesia memiliki beberapa pesawat Dakota Gunship ex perang Vietnam. Pesawat Dakota Gunship di operasikan oleh Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma. Pengoperasian Dakota Gunship sangat efektif pada operasi pembasmian gerombolan bersenjata di Kalimantan dan juga di Timor Timur yaitu sebelum datangnya pesawat OV-10 Bronco. Tiga buah senapan mesin otomatis kaliber 7,62 mm yang dipasang berderet, dioperasikan dari kokpit Kapten Pilot yang menggunakan alat bidik pada jendela Pilot disamping kirinya. Pada tembakan yang lebih kurang memuntahkan 1000 peluru, harus diberi interval dulu untuk memberikan waktu agar laras tidak menjadi panas dan bengkok. Dengan kondisi yang seperti ini, maka sang Pilot memang harus terlatih dengan baik agar sasaran dapat ditembak dengan tepat sementara sang Ko Pilot harus membantu mengemudikan pesawat agar tidak terbang terlalu rendah dengan risiko dapat ditembak musuh dari bawah. Sang Kapten harus “jago”, karena bila tidak , maka tembakannya justru akan membahayakan pasukan sendiri. Ini dapat mengakibatkan Sang pesawat disegani lawan dan kawan dalam arti yang sebenarnya.