LifePeople

Gesang dan Bengawan Solo

Gesang Martohartono
Gesang Martohartono

Setiap kita mendengarkan lagu Bengawan Solo, pasti kita akan teringat juga kepada sang pencipta lagu tersebut.   Gesang Martohartono, demikian nama lengkapnya.   Dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1917 di Solo, dari orang tuanya yang seorang pembuat batik dan konon memiliki pabrik batik, namun bangkrut pada saat Gesang berumur belasan tahun.

Gesang dimasa mudanya sering bernyanyi keroncong untuk sebuah pesta perkawinan atau juga pada kesempatan keramaian lainnya.   Di umur 23 tahun pada tahun 1940 dimasa penjajahan Jepang sebagai rangkaian dari perang dunia kedua, Gesang muda dengan memainkan “flute” bergabung  dengan orkes keroncong, yang merupakan kelompok musik yang memainkan banyak lagu-lagu dari peninggalan Portugis abad ke 17.  Ditahun itulah lagu Bengawan Solo diciptakan oleh Gesang.

Dari sejak kecil Gesang sudah mempunyai cita-cita untuk dapat menciptakan sebuah lagu yang akan dipersembahkannya kepada sungai bengawan solo yang dipandangnya sebagai sungai yang sudah memberikan jasa yang sangat besar kepada banyak orang yang tinggal disekelilingnya.  

Sungai Bengawan Solo adalah sungai yang mungkin terpanjang di pulau Jawa dan membentang luas di jawa Tengah sampai dengan Jawa Timur yanng panjangnya lebih kurang 500 kilo meter Sungai Bengawan Solo telah berjasa dalam perannya sebagai alat transportasi di daerah yang dilaluinya sebanyak dari tidak kurang belasan kota dan atau kabupaten, dan juga sebagai sumber air yang digunakan masyarakat setempat untuk bercocok tanam.   Kegiatan pertanian banyak terbantu dengan keberadaan sungai Bengawan Solo ini.

Di akhir perang dunia kedua, seorang tentara kerajaan Jepang, membawa lagu Bengawan Solo ke Jepang.   Tidak lama setelah itu segera saja lagu Bengawan Solo memperoleh “best selling recordings” dengan penyanyi bernama Toshi Matsuda di tahun 1947.   Saat itu nama Gesang belum tercantum sebagai pencipta dari lagu Bengawan Solo, dan hanya disebutkan sebagai  “Indonesian Music” from “old traditional song”.  

Baru setelah beberapa tahun kemudian Gesang memperoleh pengakuan sebagai pencipta lagu Bengawan Solo.   Namun konon kabarnya, karena lagu tersebut tidak terdaftar di Lembaga Hak Paten yang dikenal di dunia Internasional, maka pihak Jepang kesulitan untuk dapat memberikan “royalti” dari Hak cipta Bengawan Solo kepada sang penciptanya.   Sayang sekali !

Di tahun 1991 seorang veteran tentara kerajaan Jepang, merancang “life-sized statue of Gesang” yang akan ditempatkan di Taman Surakarta di kota Solo, sebagai penghargaan yang tinggi terhadap pencipta lagu Bengawan Solo yang telah dapat menembus barrier hubungan budaya antara Indonesia dan Jepang sejak perang dunia masih berkecamuk.

Naskah dari Lagu Bengawan Solo adalah sebagai berikut :

Bengawan Solo, riwayatmu ini.   Sedari dulu jadi perhatian insani

Musim kemarau, tak seberapa airmu.   Di musim Hujan air mengalir sampai jauh.

Ref :

Mata Airmu dari Solo, Terkurung gunung seribu.

Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut.

Itu Perahu, riwayatmu dulu, kaum pedagang selalu naik itu perahu.

Dengan melodi yang indah serta syair yang sangat menyentuh hati, lagu Bengawan Solo telah direkam oleh sejumlah penyanyi tenar, antara lain Waldjinah, Toshi Matsuda, Anneke Gronloh dan Rebeca Pan serta Francis Yip.   Apabila anda sering membuka “you tube”, maka kita akan dapat melihat beberapa penyanyi “bule” dengan gitar ditangan, menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan aksen yang agak “lucu” namun dibawakan dengan sangat serius dan penghayatan yang mendalam.   Itulah sebuah lagu yang kesohor ke segenap penjuru jagad, ciptaan seorang Gesang yang bernama lengkap Gesang Martohartono.   Gesang yang sepanjang hidupnya hidup sendiri ini, sekarang tinggal di Jl. Bedoyo No.5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo.   Konon karena lagu Bengawan Solo inilah, Gesang berkesempatan untuk bertandang kebeberapa negara antara lain, Malaysia, Singapura, China dan tentu saja mungkin ,lebih dari satu kali ke Jepang !

Saya tidak tahu, apa saja dan berapa buah tanda penghargaan dari pemerintah Republik Indonesia yang telah diterima oleh Gesang sampai dengan saat ini.   Namun sekedar, sebagai pembanding saja Group The Beatles yang telah mengharumkan nama kerajaan Inggris di seantero dunia, telah diangkat sebagai anggota kerabat kerajaan dengan pemberian gelar kebangsawanan Kerajaaan Inggris Raya.   Sepatutnyalah, bagi banyak seniman kita yang telah berjasa kepada bangsa dan negaranya, kita dapat memberikan penghargaan yang setimpal.   Saya percaya Kita semua sudah dan akan memikirkannya.   Karya Seni adalah sebuah karya yang tidak semua orang bisa melahirkannya.   Salam Hormat dan Penghargaan kepada Bapak Gesang, semoga bapak selalu berada dalam keadaan sehat wal afiat.

Tahun ini, di tanggal 1 Oktober 2009, insyaallah  Gesang Martohartono akan genap berusia 92 tahun.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.