Pagi ini saya menerima sebuah bungkusan buku dengan surat di sampulnya. Setelah saya lihat dengan seksama maka saya menyadari bahwa itu adalah berasal dari seorang senior saya, Pak Makki Perdanakusuma. Perkiraan saya, wah akhirnya Pak Makki jadi juga menuliskan pengalamannya yang sangat kaya dan beragam itu. Dan saya segera sudah akan menyiapkan buku baru saya sebagai balasannya untuk tanda terimakasih kepada beliau.
Namun, sesaat setelah selesai membaca surat singkat yang merupakan lampiran atau pengantar buku yang masih dalam bungkusan rapi itu, saya terdiam sesaat. Terdiam antara sedikit kecewa akan tetapi sekaligus tumbuh seketika rasa senang dan sangat terharu. Pak Makki terasa sangat dekat dengan diri saya pribadi, begitu dekat sehingga sangat sulit bagi saya untuk mengutarakannya, bentuk kedekatan yang bagaimana?
Beberapa waktu yang lalu, saya memang meminta seorang sahabat saya, eks anak buah Pak Makki untuk mengantarkan saya ke rumah beliau, sekedar menjenguk seorang senior yang kabarnya karena faktor usia sudah mulai sakit-sakitan. Diluar dugaan, saat tersebut saya menjumpai beliau dalam keadaan sehat wal afiat. Saya juga bertemu dengan isteri beliau Ibu Indriati Iskak, bintang film tenar , cantik di era tahun 1950-an.




Masih tentang jangan banyak minum air putih, saya menerima begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik. Ditulisan sebelum ini, saya sudah memberikan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk dapat memperoleh penjelasan lebih lanjut dari Sang Suhu mengenai semua yang terkait dengan metoda yang di perkenalkannya. Salah satu cara, memang lebih mudah bila sudah dapat memperoleh bukunya. Isinya sangat bersahaja, jauh dari norma-norma sastra yang mengutamakan keindahan penggunaan pilihan kata dan kalimat yang indah menawan, namun “straight to the point” pada apa yang hendak dijelaskannya. Berikut dibawah ini salah satu cuplikan yang saya nilai sangat mudah dicerna oleh orang awam. Mudah-mudahan bermanfaat, dengan tidak ada niatan lain selain sekedar berbagi saja ! selamat membaca.
Selain gaya bertutur yang lugas dan human, juga karena tidak banyak orang militer yang aktif menulis sehingga apa-apa yang ditulisnya menjadi menarik. Saya jengah, seorang militer profesional, bahkan sampai jabatan tertinggi sebagai KSAU dengan pangkat marsekal, masih bisa menjadi kolumnis sekaligus penulis buku, tentu bukan sosok yang tidak baen-baen
Recent Comments