All posts in Article

Quo Vadis National Air Power; Quo Vadis Indonesian Defense System

jakarta-post
air-power

Air Power

When Burma Prime Minister U Nu put his foot down at Husein Sastranegara Airport, Bandung to attend the Asia – Afrika Conference in year 1955, the outstanding world figure was surprised when he saw many B-25 aircrafts in rows on the airport parking area. To Wiweko who welcomed him he said briefly:” I have never seen so many aircrafts together”. As well as, a Netherland magazine Vliegwereld (aviation world) had written: “AURI, the most formidable Air Force in South East Asia”. In contrast, a magazine which is published in England, Air Pictorial, ridicule the British Government by saying the Australian AF is totally lag behind the AURI!”. Today, those have become sweet memory.

History of The Airpower

Discussing about airpower, is always interesting subject to be debated and simultaneously also inviting controversy. The Airpower since the begining it was created, known as ”offensive tools”, as a tool for attacking. In a battle field, therefore airpower for certain will be addressed as an instrument for offensive. On the other hand, with a thourough study then it would be very clearly seen that if we wish to have a strong airpower means that it requires a very high cost budget. As a very high cost offensif tools, spontaneously making the Air Force or airpower universally to become Prima donna of the Arm Forces. Just like a Prima donna, certainly will always attracting ”jealousy” to various sides. Read more…

Curhat Dari Sahabat

Sahabat saya seorang kontraktor bangunan. Dia saya ketahui meneruskan apa yang telah dikerjakan oleh orang tuanya. Jadi dia adalah generasi kedua yang menjalani pekerjaan yang buat saya terlalu rumit. Rumit dalam pengertian, sebagai kontraktor, dia harus mencari sendiri pelanggan atau klien nya. Setelah dapat, masih banyak daftar panjang yang harus dikerjakannya, antara lain belanja bahan bangunan dan mengelola SDM yang mulai dari arsitek sampai dengan para tukang, batu, kayu dan juga mandornya masing-masing. Baru kemudian dapat menghitung keuntungan yang pantas untuk diraih walaupun masih akan berhadapan dengan banyak variabel lainnya. Bagi saya kalkulasi ini akan sangat ribet dalam menghitungnya, karena antara belanja barang, upah pekerja dan laju kenaikan harga serta jasa angkutan adalah hal yang tidak sederhana untuk dapat di prediksi.

Singkat kata, teman saya ini memang memiliki kemampuan itu karena telah lama magang kepada orang tuanya sendiri. Perusahaan kontraktor nya ini sangat taat azas. Selalu sejauh mungkin menaati peraturan yang berlaku dan mempertahankan kualitas bangunan seperti menjaga nama baik dirinya sendiri. Inilah yang dia peroleh dari almarhum ayahnya, seorang kontraktor yang otodidak dan sangat sukses dijamannya. Kesuksesan orang tuanya, telah juga membawa teman saya itu untuk dapat menimba ilmu di Amerika Serikat. Kebanggaan yang tiada tara bagi keluarganya. Read more…

Sky Aviation Terbang Perdana ke Melaka

YAB Datok Seri H Muh Ali bin Mohd Rustam

Chappy Hakim & YAB Datok Seri H Muh Ali bin Mohd Rustam

Chappy Hakim &  Gubernur Kepri HM Sani

Chappy Hakim & Gubernur Kepri HM Sani

Peresmian Perdana Sky Aviation

Peresmian Perdana Sky Aviation

Sehubungan dengan terbang perdana dari SKY Aviation yang menghubungkan Tanjung Pinang dengan Melaka di Malaysia pada tanggal 30 Maret 2012 yang lalu, kami kutipkan salah satu berita yang diturunkan salah satu media di Batam, sebagai berikut :

Sabtu, 31 March 2012 00:00

Layani Tanjungpinang-Melaka (PP)
BATAM-Maskapai penerbangan komersil Sky Aviation, Jumat (30/3) melangsungkan penerbangan perdana rute Tanjungpinang-Melaka. Dibukanya rute penerbangan itu diharapkan bisa meningkatkan hubungan kedua negeri serumpun dan membuka akses perekonomian yang lebih berkembang sehingga bisa meningkatkan mensejahterakan masyarakat.

Read more…

Pengusaha Vs Penguasa (Jam Kerja Sang Walikota)

Dari banyak sukses yang diraih oleh Joko Widodo sebagai walikota Solo, banyak mengundang pertanyaan bagaimana irama kerja Sang Walikota sehari-hari. Pada satu kesempatan, Joko Widodo menceritakan sendiri bagaimana dia bekerja.

Saya bekerja dalam arti duduk di kursi kantor, paling lama hanya satu jam saja. Sedari awal, saya sebenarnya terperanjat melihat setumpukan surat-surat yang harus ditandatangani yang dengan sendirinya harus dibaca satu persatu terlebih dahulu. Saya tidak ingin tersandera dengan model kerja seperti ini. Saya segera putuskan, beberapa staf terkait untuk mengambil alih tugas itu, dengan ancaman serius untuk tidak menyalahgunakan wewenang. Nyatanya, telah melalui satu periode jabatan, hal tersebut tidak pernah terjadi. Dengan cara yang seperti itu, maka saya hanya akan menangani surat-surat yang benar-benar penting saja dan itu tidak akan lebih dari satu jam menyita waktu saya dimeja dinas. Selebihnya saya keluar kantor Walikota mendatangi satu persatu tempat-tempat yang menjadi tanggung jawab saya terkait kelancaran pelayanan masyarakat. Saya mendatangi tempat-tempat yang menghadapi masalah, dan mengajak mencari solusi bersama yang terbaik, saya menjemput bola !

Itulah pengaturan dan mekanisme kegiatan Jam Kerja Sang Walikota. Sekedar untuk diketahui saja, Jokowi, sebelumnya adalah seorang wiraswata, business man. Joko Widodo, telah berhasil mengubah dirinya dari seorang business man menjadi seorang birokrat. Satu proses perubahan yang tidak mudah. Alkisah, JK, seorang business man yang juga sukses dan pernah menduduki jabatan di birokrasi, menjelaskan pada salah satu pidatonya mengenai perbedaan business man dengan seorang birokrat, beberapa saat setelah dia tidak lagi menjabat sebagai Wapres.

Bagi seorang business man, katanya, pasti orientasi kerjanya menuju kepada satu keberhasilan, satu sukses, yaitu “keuntungan”. Sehingga dengan demikian, mereka tidak akan begitu mementingkan proses dari bagaimana cara mencapainya. Yang penting “berhasil”, proses tidak begitu dihiraukan bagaimana berjalannya. Hal ini menjadi sangat berbeda jauh dengan gaya bekerja para birokrat. Mereka, para birokrat maksudnya, jauh lebih mementingkan proses dalam irama bekerjanya. Tentang hal itu kemudian akan berhasil, kurang berhasil, bahkan gagal sekalipun, sama sekali tidak menjadi perhatian sama sekali, Yang penting prosesnya harus sesuai prosedur yang berlaku ! Inilah yang sebenarnya terjadi yang akan kerap dihadapi oleh para pengusaha/business man yang beralih fungsi sebagai penguasa/birokrat.

Nah itulah sekedar gambaran dari mekanisme kerja Pengusaha Vs Penguasa.

Jakarta 23 Maret 2012
Chappy Hakim

Penertiban PKL dan Relokasi Pasar.

Joko Widodo Walkot Solo

Joko Widodo Walkot Solo

Ini adalah pengalaman Joko Widodo ,Walikota Solo dalam menertibkan PKL (Pedagang Kaki Lima) dan merelokasi pasar kumuh ketempat yang lebih baik. Sepertinya sudah menjadi prosedur tetap, bila kita saksikan di Televisi, menertibkan PKL adalah dengan kekuatan pasukan Satpol PP dan terkadang dibantu TNI dan Polri. Para pedagang, biasanya digebuki dan lapaknya diratakan dengan bulldozer.

Demikian pula halnya dengan proses pemindahan pasar, kerap disaksikan sebagai terjadi kebakaran terlebih dahulu baru proses relokasi paksa dapat dilakukan. Jokowi, membuktikan bahwa tidak diperlukan proses kekerasan seperti banyak yang disaksikan bersama belakangan ini. Ada cara yang sangat manusiawi yang dapat dikerjakan dalam melakukan hal tersebut.

Salah satu contoh adalah bagaimana Jokowi memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah mapan selama lebih dari 20 lebih tahun. Kecamatan Banjarsari ini sebenarnya satu kawasan yang sangat bagus, namun kemudian terlihat sebagai kawasan kumuh karena dijadikan tempat dagang yang sekaligus menjadi tempat tinggal mereka.  Diawal-awal jabatannya, Jokowi mengundang beberapa perwakilan dari para pedagang untuk makan malam di ruang rapat rumah dinas Walikota. Read more…