counter create hit
Sport and Technology

Berita Duka dari Doha

Baru saja kita semua menerima berita duka dari Doha, Qatar. Tempat berlangsung nya pesta olah raga bergengsi di kawasan asia, Asian Games. Bagaimana bangsa ini tidak berduka, karena ternyata kontingen Indonesia hanya memperoleh tempat di peringkat ke 22, dari hanya sekitar tiga puluhan negara yang ikut serta dalam pekan olah raga tersebut.

Republik Indonesia berada di urutan 22, dengan perolehan medali emas yang hanya dua buah, medali perak tiga buah dan 15 perunggu. Posisi ini berada jauh sekali lebih rendah dari negara-negara kecil disekitar kita ,Malaysia pada peringkat 11 dan Singapura di peringkat 12,lebih-lebih Thailand yang penuh kebanggaan berada di peringkat 5. Sungguh amat menyedihkan. Indonesia telah gagal di Asian Games 2006. Prestasi yang amat sangat memalukan, sebagai bangsa yang besar di kawasan Asean.

Bagaimana bisa, di kawasan Asean saja Indonesia sudah tidak mampu lagi tampil dengan pantas ? Bagaimana bisa negara dengan penduduk yang berjumlah lebih dari 200 jiwa, di kawasan Asean saja sudah tidak mampu bicara banyak dalam bidang olah raga. Lebih-lebih di Asia, hanya mencapai tingkat ke 22 di Asia? Berada pada 17 tingkat dibawah negara kecil Thailand.

Gambaran ini memperlihatkan bagaimana semangat dan gairah hidup bangsa seolah-olah sudah tidak ada lagi. Karena di gelanggang olah raga, yang akan sangat banyak berbicara adalah mengenai semangat yang tinggi, militansi dan gairah hidup yang menggelora disamping penguasaan teknik individu maupun tim yang diasah bertahun-tahun tanpa mengenal lelah. Rasa kebanggaan sebagai bangsa Indonesia akan sangat terpengaruh oleh prestasi nya di bidang olah raga. Dimana sebenar nya letak kesalahan kita.

Para atlit dan pelatih di semua cabang olah raga di tanah air ini, masih banyak yang memiliki semangat juang yang tinggi. Masih banyak orang-orang yang penuh dedikasi terhadap pembinaan olah raga di banyak cabang. Anak-anak muda masih banyak yang memiliki minat yang besar terhadap olah raga. Demikian pula masyarakat pada umum nya masih memiliki perhatian yang cukup besar terhadap kegiatan olah raga. Para pendukung kesebelasan-kesebelasan sepak bola di tanah air masih sangat fanatik dengan tim kesayangannya. Akan tetapi kesemua itu ternyata tidak cukup untuk dapat menghasilkan para atlit yang berkualitas. Jadi sekali lagi dimana sebenar nya letak kesalahan kita ?

Salah satu kesalahan terbesar dalam pembinaan olah raga kita, adalah tidak adanya pola pembinaan yang sistematis, berkelanjutan dalam perencanaan terpadu jangka panjang. Kita tidak memiliki Master Plan di bidang Olah Raga. Indonesia telah mengikuti 15 kali pesta Olah Raga Asian Games. Dan hanya satu kali pernah menjadi tuan rumah penyelenggara Asian Games, yaitu pada tahun 1962. Pada waktu itulah mungkin prestasi tertinggi yang pernah di capai oleh Indonesia. Logika nya, prestasi ini haruslah merupakan “starting point”, untuk kemudian menyusun “Grand Strategy”, dengan tujuan pada Asian Games berikutnya akan dapat berprestasi lebih baik, atau minimal mempertahankan prestasi yang sudah berhasil diraih.

Pesta Olah Raga ini di selenggarakan selama empat tahun sekali, jadi sebenar nya Asian Games, memang merupakan ajang ujian empat tahunan pembinaan olah raga di Asia. Siapa yang paling serius, rapih dan cermat dalam menyelenggarakan pembinaan olah raga nya selama empat tahun ke depan akan menuai hasil yang baik dalam ujian yang dilaksanakan di arena Asian Games tersebut. Disinilah mungkin faktor kecerdasan dan manajemen suatu negara di uji. Prestasi olah raga dapat dikatakan sebagai refleksi dari suatu negara, tentang bagaimana sebenarnya mereka mengelola negara nya secara keseluruhan. Bagaimana Thailand, Malaysia dan Singapura dapat berada di lapis atas dalam Asian Games, dapat dengan mudah dilihat dari perkembangan dan proses pembangunan negara nya itu sendiri termasuk didalamnya hal tentang kesejahteraan.

Malaysia yang selalu tampil untuk tidak mau kalah dengan negara tetangganya yang lebih kecil Singapura, telah berjuang di segala bidang termasuk di Olah Raga. Dan mereka membuktikannya dengan berada di peringkat 11, satu tingkat di atas Singapura yang bertengger di tangga ke 12. Malaysia tidak terpaku dengan hanya memforsir pada cabang bulu tangkis saja untuk menjadi andalannya. Mereka telah menyusun “Grand Strategy” dalam satu “Master Plan” yang dilaksanakan dengan konsisten dan konsekuan serta berkelanjutan untuk mempertahankan nama baik serta kehormatan bangsa nya. Ini adalah unjuk kerja dari kecerdasan suatu bangsa dalam mengelola negara nya.

Sementara kita terlihat selalu menginginkan jalan pintas dalam memperoleh prestasi. Sikap yang sama seperti pungguk yang merindukan bulan. Menjelang Asian Games, tim balap sepeda dikirim ke Swiss, tim sepak bola dikirim ke negeri Belanda dan entah tim lainnya yang juga dikirim tidak jelas kemana dengan harapan meraih prestasi. Pada kenyataannya semua menghasilkan prestasi yang nol besar. Kelemahan lainnya dari kita adalah, prestasi olah raga seperti Asian Games yang hanya dapat duduk di peringkat 22, esok hari sudah dilupakan orang. Nanti menjelang penyelenggaraan Asian Games berikutnya di tahun 2010, kita baru akan sibuk lagi, bagaimana meng “karbit” cabang-cabang olah raga tertentu yang diharapkan untuk dapat medali. Tim sepak bola akan dikirim kemana, tim balap sepeda akan dikirim kemana dan lain-lain. Dan seperti biasanya tidak ada hasil yang kemudian diperoleh. Aneh nya hal tersebut tetap saja di lakukan lagi pada kesempatan berikut nya secara berulang.

Untuk hal-hal, seperti prestasi yang memalukan di bidang olah raga di Arena Sea Games atau Asian Games, orang pada umumnya dengan cepat dapat melupakannya, seiring dengan selesai nya pesta olah raga tersebut. Seolah tidak ada proses standarisasi dan evaluasi., apalagi antisipasi kedepan. Untuk hal-hal yang menyangkut harga diri bangsa, kehormatan bangsa, sulit sekali kita untuk memikirkannya secara serius dan terus menerus.

Sangat kontras dengan itu , kita dapat dengan serius dan terus menerus selama berbulan-bulan, membicarakan isu-isu yang menyangkut poligami dan video adegan mesum.

Tidak demikian hal nya dengan masalah yang menyangkut kebanggaan sebagai bangsa di arena Internasional. Mengapa masalah seperti prestasi yang memalukan di Asian Games tidak dapat diangkat menjadi pembicaraan yang terus menerus berhari-hari, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk kemudian mencari solusi nya memperbaiki kinerja kita. Sampai kapan Olah Raga kita akan bernasib seperti ini ? Dimana kecerdasan sebagai bangsa dan kemampuan manajerial kita? Akankah kita selalu menerima berita duka dari ajang pertarungan olah raga internasional? Kita masih memiliki potensi untuk maju, lebih dari Singapura, Malaysia maupun Thailand. Masih bannyak para olahragawan, pelatih dan masyarakat awam yang penuh dedikasi di Indonesia. Ayo Bangun Indonesia !

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also
Close
Back to top button