Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Pelajaran dari Iran
    Article

    Pelajaran dari Iran

    Chappy HakimBy Chappy Hakim03/31/2026No Comments5 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Mengapa Kim Jong Un Tak Akan Pernah Melepaskan Nuklirnya

    Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru-baru ini terjadi bukan sekadar episode lain dalam pergolakan geopolitik Timur Tengah. Lebih dari itu, eskalasi militer tersebut telah menjadi momentum refleksi global, terutama bagi negara-negara yang berada di garis depan kerentanan keamanan. Bagi Korea Utara, perang itu menjadi pembenaran atas keputusan mempertahankan senjata nuklir. Namun bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di persimpangan dua benua dan dua samudera, konflik Iran-US seharusnya menjadi alarm keras untuk menata ulang sistem pertahanan udara nasional. Ketika kekuatan adidaya dengan leluasa melancarkan serangan udara di kawasan strategis, pertanyaan mendesak bagi Indonesia bukanlah apakah kita akan terlibat, melainkan sejauh mana kesiapan kita melindungi kedaulatan wilayah udara nasional, terutama di koridor-koridor rawan seperti Selat Malaka dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi jalur lalu lintas udara global.

    Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang baru-baru ini memanas bukan hanya sekadar babak baru dalam geopolitik Timur Tengah. Bagi Kim Jong Un, pemimpin Korea Utara, perang itu adalah sebuah “konfirmasi”, bukti nyata bahwa keputusannya selama ini memegang senjata nuklir adalah satu-satunya jalan untuk bertahan. Dalam pidatonya baru-baru ini, Kim dengan tegas menyatakan bahwa apa yang terjadi pada Iran membenarkan penolakannya terhadap apa yang ia sebut sebagai “rayuan manis” AS untuk denuklirisasi. Argumentasinya sederhana namun brutal, Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan kini ibu kotanya dibombardir. Korea Utara memilikinya, dan hingga saat ini, Pyongyang masih berdiri. Sori ye.  Logika inilah yang menjadi fondasi utama kebijakan luar negeri Pyongyang. Bagi Kim, nuklir bukan sekadar alat tawar-menawar, melainkan “tiket masuk” ke dalam klub negara-negara yang kebal terhadap intervensi militer AS. Ia melihat Libya yang menyerahkan program nuklirnya lalu berakhir dengan rezim yang runtuh. Ia melihat Ukraina yang melepaskan senjata nuklir peninggalan Soviet demi jaminan keamanan, namun kini masih dilanda perang. Dan kini, ia melihat Iran yang sedang berhadapan langsung dengan kekuatan militer adidaya. Kim memahami satu hal bahwa di panggung politik dunia yang kejam, kekuatan adalah harga mati. Dan ia tidak akan membayar harga tersebut dengan melepaskan satu-satunya aset yang membuat rezimnya tetap hidup.

    Sebenarnya yang patut dicermati bukan hanya apa yang Kim katakan, tetapi bagaimana ia menyikapi peluang diplomasi yang kembali dibuka. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengisyaratkan keinginan untuk kembali berdialog. Jika masa lalu terutama pertemuan bersejarah di Singapura dan Hanoi mengajarkan sesuatu, maka pertemuan selanjutnya tidak akan lagi membahas bagaimana Korea Utara menyerahkan nuklirnya. Kim telah mengubah aturan main yakni ia hanya bersedia duduk satu meja jika AS mengakui statusnya sebagai negara nuklir.  Ini adalah perubahan paradigma yang sangat signifikan. Tidak ada lagi ilusi tentang “denuklirisasi Semenanjung Korea” yang utuh dan tanpa syarat. Yang ada sekarang adalah upaya Pyongyang untuk mendapatkan legitimasi sebagai negara pemilik senjata pemusnah massal, sembari terus mengembangkan kemampuannya.  Lebih mengkhawatirkan lagi, Korea Utara tidak lagi sendirian. Hubungannya dengan Rusia telah berkembang menjadi aliansi militer yang substansial. Dengan imbalan dukungan amunisi dan ribuan pasukan untuk perang di Ukraina, Pyongyang diduga mendapatkan teknologi militer canggih, pasokan energi, dan yang terpenting: pengalaman tempur nyata. Kini, Kim tidak hanya memiliki nuklir, tetapi juga sekutu kuat di Dewan Keamanan PBB yang akan melindunginya dari sanksi lebih lanjut.

    Bagi Indonesia, sebagai negara yang selalu konsisten mendukung perdamaian dunia dan non-proliferasi nuklir, dinamika ini jelas memprihatinkan. Namun, kita juga harus belajar membaca peta kekuatan. Apa yang dilakukan Kim adalah cerminan dari logika realis yang keras bahwa dalam dunia yang masih dikuasai oleh kekuatan militer, tidak ada yang lebih aman selain mampu melindungi diri sendiri.  Pelajaran dari Iran dan Korea Utara adalah bahwa pendekatan diplomasi yang mengandalkan tekanan dan iming-iming insentif semata tidak lagi mempan. Kim Jong Un telah membuat kalkulasinya dengan kepala dingin. Selama kekuatan nuklir masih menjadi jaminan keamanan tertinggi, selama itu pula ia tidak akan pernah, dalam kondisi apa pun untuk melepaskan senjatanya.  Konflik Iran-US dan resonansinya hingga ke Semenanjung Korea memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia: dalam percaturan geopolitik yang kerap tidak berperikemanusiaan, kedaulatan sebuah negara hanya akan dihormati jika ia memiliki kapasitas untuk melindungi dirinya sendiri. Dunia mengajarkan bahwa negara tanpa pertahanan yang memadai rentan menjadi objek dan bukan subjek dari dinamika kekuasaan global. Sebagai negara kepulauan dengan posisi silang yang sangat strategis, Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi “wilayah yang rawan” dalam peta keamanan kawasan. Sudah saatnya kita tidak hanya berwacana, tetapi bertindak nyata untuk menata ulang sistem pertahanan udara yang modern, terintegrasi, dan berdaya tangkal tinggi. Bukan karena ingin menjadi agresif, melainkan karena kita paham, bahwa di dunia yang masih dikuasai oleh logika kekuatan, kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan adalah syarat mutlak bagi bangsa yang ingin dihormati dan menentukan nasibnya sendiri. Dari Iran dan Korea Utara, kita belajar bahwa pilihan untuk berdiri kuat bukanlah opsi, melainkan keharusan. Kini saatnya Indonesia mengambil pelajaran itu dengan langkah nyata, bukan sekadar catatan kaki belaka.

    Jakarta 25 Maret 2026

    Chappy Hakim

    Pusat Studi Air Power Indonesia

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleKonvensi Jenewa
    Next Article Mengenal Sistem Pertahanan Udara THAAD
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Leadership Mark Carney

    03/31/2026
    Article

    Rasputin dan Runtuhnya Kekuasaan yang Kehilangan Akal Sehat

    03/31/2026
    Article

    Mengenal George Orwell, Jurnalis Kritikus Sosial Kaitannya dengan Konflik Timur Tengah

    03/31/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.