karya Bob Woodward
Buku Fear Trump in the White House karya Bob Woodward, yang terbit pada September 2018, merupakan laporan investigatif mendalam tentang dinamika internal Gedung Putih pada masa awal pemerintahan Presiden Donald Trump. Berdasarkan ratusan jam wawancara dengan banyak sumber, catatan pribadi, dokumen resmi, serta rekaman proses pengambilan keputusan, buku ini menghadirkan gambaran yang tajam, rinci, dan sering kali mengejutkan tentang bagaimana kekuasaan dijalankan di lingkaran tertinggi pemerintahan Amerika Serikat. Secara keseluruhan, Woodward melukiskan suasana Gedung Putih yang sarat ketegangan, konflik internal, serta ketidakpastian dalam proses pembuatan kebijakan. Buku ini tidak hanya mengungkap isi percakapan penting di balik pintu tertutup, tetapi juga menunjukkan adanya perbedaan tajam pandangan di antara para pejabat senior, yang dalam beberapa kasus berujung pada tindakan-tindakan tidak konvensional demi mencegah keputusan yang dianggap berisiko.
Isi utama buku
Proses pengambilan keputusan menjadi sorotan utama, dengan penjelasan rinci tentang bagaimana Presiden Trump merespons berbagai isu strategis. Proses ini sering diwarnai perdebatan keras antara penasihat, baik di Oval Office, Situation Room, maupun dalam perjalanan resmi menggunakan Air Force One. Woodward menunjukkan bahwa keputusan sering kali diambil secara impulsif, dengan pertimbangan yang berubah-ubah Dalam ranah kebijakan luar negeri, buku ini membahas berbagai isu krusial seperti hubungan dengan Korea Utara, konflik di Afghanistan, ketegangan dengan Iran, dinamika dalam NATO, serta hubungan strategis dengan China dan Rusia. Woodward menyoroti bagaimana pendekatan Trump yang tidak konvensional memicu kekhawatiran di kalangan pejabat keamanan nasional. Di bidang domestik, buku ini mengupas kebijakan perdagangan dan tarif yang agresif, isu imigrasi yang kontroversial, reformasi pajak, keputusan menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Iklim Paris, serta respons terhadap ketegangan rasial, termasuk peristiwa Charlottesville pada tahun 2017. Semua ini menunjukkan arah kebijakan yang sering memicu perdebatan publik dan internal Terkait investigasi campur tangan Rusia dalam pemilu, Woodward mengungkap dinamika antara tim hukum Trump dan Jaksa Khusus Robert Mueller. Buku ini memperlihatkan tekanan hukum dan politik yang dihadapi presiden serta strategi yang digunakan untuk menghadapi penyelidikan tersebut
Salah satu bagian paling dramatis adalah pengungkapan bahwa sejumlah pejabat senior secara diam-diam mengambil dokumen dari meja presiden untuk mencegahnya menandatangani keputusan yang dianggap berbahaya. Tindakan ini oleh Woodward disebut sebagai bentuk “kudeta administratif”, yang mencerminkan tingkat kekhawatiran internal terhadap arah kepemimpinan saat itu Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya menjadi catatan sejarah politik kontemporer, tetapi juga memberikan gambaran tentang bagaimana institusi pemerintahan dapat menghadapi tekanan luar biasa dari dalam, serta bagaimana individu-individu di dalamnya berupaya menjaga stabilitas kebijakan di tengah kepemimpinan yang tidak biasa Apa yang oleh Bob Woodward disebut sebagai “kudeta administratif” merujuk pada tindakan darurat yang dilakukan oleh para pejabat senior Gedung Putih untuk secara diam-diam mengambil dan menyembunyikan dokumen penting dari meja Presiden Donald Trump. Tujuannya bukan sekadar prosedural, melainkan untuk mencegah presiden menandatangani keputusan yang mereka yakini dapat membahayakan keamanan nasional Amerika Serikat. Woodward, jurnalis investigatif yang namanya melejit sejak perannya dalam skandal Watergate, bahkan menggambarkan peristiwa ini sebagai sebuah tanda “kehancuran fungsi kekuasaan eksekutif negara paling berkuasa di dunia.”
Insiden ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari kekhawatiran mendalam para pejabat terhadap arah kebijakan luar negeri dan keamanan nasional yang ditempuh Presiden Trump. Ketegangan mencapai titik puncak pada September 2017 ketika Trump berencana menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Perdagangan Bebas Korea Selatan–Amerika Serikat atau KORUS FTA. Bagi sebagian pejabat, keputusan ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi berpotensi mengguncang fondasi aliansi strategis yang telah dibangun selama puluhan tahun antara Washington dan Seoul. Kekhawatiran itu semakin besar karena implikasinya terhadap operasi intelijen rahasia Amerika Serikat di Korea Selatan. Di negara tersebut, AS menjalankan program dengan tingkat kerahasiaan tertinggi yang dikenal sebagai Special Access Programs, yang berfungsi sebagai sistem deteksi dini terhadap peluncuran rudal balistik jarak jauh dari Korea Utara. Dengan keberadaan sistem ini, peluncuran rudal yang berpotensi mengarah ke wilayah seperti Los Angeles dapat terdeteksi hanya dalam hitungan detik. Tanpa akses tersebut, waktu respons bisa melambat drastis hingga belasan menit, sebuah jeda yang dalam konteks pertahanan strategis dapat menentukan hidup dan mati. Risiko terbesar yang dibayangkan para pejabat adalah kemungkinan bahwa pembatalan KORUS FTA akan memicu respons keras dari Korea Selatan, termasuk kemungkinan mengurangi atau bahkan mengakhiri kehadiran militer Amerika Serikat di wilayahnya. Jika itu terjadi, maka bukan hanya hubungan bilateral yang terganggu, tetapi juga kemampuan vital Amerika dalam mendeteksi ancaman nuklir dari Korea Utara akan ikut hilang.
Dalam konteks inilah tindakan dramatis itu terjadi. Tokoh kunci dalam peristiwa tersebut adalah Gary Cohn, Direktur Dewan Ekonomi Nasional saat itu. Ketika mengetahui bahwa draf surat penarikan diri dari KORUS telah disiapkan dan diletakkan di atas Resolute Desk di Ruang Oval, Cohn memutuskan untuk bertindak. Ia masuk ke ruangan tersebut dan mengambil dokumen itu sebelum sempat ditandatangani oleh presiden. Untuk memastikan surat itu tidak kembali ke meja presiden, ia bahkan menyembunyikannya secara diam-diam dan membawanya keluar dari Ruang Oval, sebuah langkah yang mencerminkan tingkat urgensi sekaligus keputusasaan situasi saat itu. Bagi Woodward, peristiwa ini menjadi simbol kuat dari kondisi internal pemerintahan Trump yang penuh gejolak. Suasana di Gedung Putih digambarkan sebagai “Crazytown,” istilah yang disebut berasal dari Kepala Staf saat itu, John Kelly, untuk melukiskan kekacauan yang terjadi di lingkaran kekuasaan. Lebih jauh lagi, tindakan tersebut menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang mendalam terhadap presiden, di mana para pejabat senior merasa perlu mengambil langkah-langkah luar biasa untuk melindungi negara dari keputusan pemimpinnya sendiri. Situasi ini memunculkan gambaran tentang apa yang disebut sebagai “presidensi dua jalur,” yakni kondisi ketika presiden menjalankan agenda tertentu sementara para pembantunya secara diam-diam berupaya menghambat atau menggagalkan sebagian kebijakan tersebut. Pengungkapan Woodward juga beresonansi dengan kemunculan tulisan anonim di The New York Times pada periode yang sama, di mana seorang pejabat senior mengaku menjadi bagian dari “perlawanan dari dalam” pemerintahan untuk mencegah kebijakan yang dianggap berbahaya. Dengan demikian, kisah ini tidak hanya menggambarkan satu insiden dramatis, tetapi juga membuka tabir tentang dinamika kekuasaan yang tidak lazim di jantung pemerintahan Amerika Serikat, ketika garis antara loyalitas, tanggung jawab, dan pembangkangan menjadi kabur dalam situasi yang penuh tekanan.
Jakarta 26 Maret 2026
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia
Top of Form
Bottom of Form

