Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Operasi Militer AS Israel di Iran (Februari 2026)
    Article

    Operasi Militer AS Israel di Iran (Februari 2026)

    Chappy HakimBy Chappy Hakim03/01/2026No Comments6 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Serangan militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 menandai eskalasi konflik yang signifikan di Timur Tengah. Operasi ini, yang disebut oleh Presiden Donald Trump sebagai “operasi tempur besar-besaran” dengan nama sandi Operation Epic Fury, bukan sekadar kelanjutan dari serangan terbatas pada Juni 2025 lalu . Berdasarkan analisis perkembangan situasi hingga 1 Maret 2026, serangan ini menunjukkan perubahan fundamental dalam pendekatan strategis AS, bergeser dari doktrin penangkalan (deterrence) dan non-proliferasi menuju tujuan yang lebih ekspansif, yaitu perubahan rezim (regime change).

    Tujuan Strategis: Antara Non-Proliferasi dan Perubahan Rezim

    Analisis terhadap pernyataan-pernyataan resmi dan sasaran serangan mengindikasikan adanya perluasan tujuan perang yang sangat signifikan. Retorika Perubahan Rezim. Presiden Trump secara eksplisit menyerukan kepada rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka setelah serangan selesai. Ia menyatakan, “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian” . Ini adalah seruan yang tidak pernah dikeluarkan dalam konflik sebelumnya dengan Iran.

    Penargetan Kepemimpinan. Untuk pertama kalinya, serangan menargetkan jantung kekuasaan politik Iran. Kompleks pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, di Tehran menjadi sasaran dan dilaporkan mengalami kerusakan signifikan . Kantor Presiden Masoud Pezeshkian juga ditargetkan . Tindakan ini mengonfirmasi bahwa “pemenggalan” (decapitation) kepemimpinan negara kini menjadi bagian dari strategi militer, sebuah langkah yang jauh melampaui tujuan melumpuhkan program nuklir .

    Kalkulasi Risiko. Pergeseran ini mengandung risiko besar. Seperti dicatat oleh Dr. Robert Kelly, profesor hubungan internasional di Pusan National University, dengan menjadikan perubahan rezim sebagai tujuan, AS menciptakan situasi “now-or-never.” Jika rezim yang ada tidak runtuh dan pemberontakan internal gagal, AS mungkin terpaksa mengirimkan pasukan darat untuk mencapai kemenangan definitif, atau menghadapi Iran pascaperang yang lebih agresif dalam mengembangkan senjata nuklir .

    Dimensi Operasional: Eskalasi Militer Masif

    Dari perspektif militer, skala dan kompleksitas operasi ini sangat berbeda dari serangan-serangan sebelumnya. Kekuatan yang Dikerahkan tampak dari serangan ini yang didahului oleh penumpukan kekuatan militer AS terbesar di kawasan sejak invasi Irak 2003, termasuk dua kelompok kapal induk, sejumlah besar kapal perang, pesawat tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar . Kehadiran pesawat siluman F-22 di Israel untuk pertama kalinya menunjukkan tingkat koordinasi dan kesiapan tempur yang belum pernah terjadi sebelumnya .

    Gelombang Serangan. Fase awal serangan difokuskan pada penekanan sistem pertahanan udara terintegrasi Iran (IADS) untuk membuka koridor bagi serangan bomber berikutnya . Militer Israel mengonfirmasi adanya “gelombang luas” serangan terhadap “ratusan target,” termasuk sistem pertahanan strategis SA-65, peluncur rudal balistik, serta fasilitas produksi dan penyimpanan rudal .

    Koordinasi Sekutu. Serangan ini dilakukan secara gabungan antara AS dan Israel, dengan AS memainkan peran utama. Analis menunjukkan bahwa meskipun tujuan besar mereka selaras, terdapat perbedaan penekanan. Israel berkepentingan untuk melumpuhkan secara permanen ancaman strategis dari Iran dan proksinya, sementara AS, meskipun terbuka pada perubahan rezim, lebih berhati-hati agar tidak terseret dalam konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya .

    Dimensi Risiko dan Potensi Jebakan Strategis

    Seorang ahli strategi militer wajib mencermati titik-titik rawan (friction points) yang dapat mengubah jalannya operasi.  Perhatian terhadap Risiko Konflik yang Meluas. Respons Iran tidak terbatas pada wilayahnya sendiri. Mereka meluncurkan rudal balistik ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS, seperti Bahrain (Markas Besar Armada ke-5 AS), Qatar (Pangkalan Udara Al Udeid), Kuwait, dan UEA . Hal ini secara dramatis meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.

    Ancaman Proksi dan Teror. Seperti diperingatkan oleh Michael S. Doran, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, Iran kemungkinan akan memanfaatkan kapabilitas proksi mereka, seperti Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, atau Houthi di Yaman, untuk melancarkan serangan terhadap kepentingan AS dan sekutunya . Serangan teror yang menimbulkan korban massal menjadi risiko nyata yang dapat memicu tekanan politik domestik di AS.

    Jebakan Quagmire Darat.  Ancaman terbesar dari perspektif strategis adalah potensi terjerumusnya AS ke dalam perang darat yang berkepanjangan. Udara saja tidak cukup untuk mengubah rezim . Jika seruan kepada rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah gagal, mengingat kekejaman respons rezim terhadap protes sebelumnya  maka AS akan dihadapkan pada pilihan sulit antara menarik diri dengan meninggalkan rezim yang masih berdiri (seperti pengalaman Irak pasca Perang Teluk 1991) atau menginvasi dengan pasukan darat yang pasti akan menimbulkan korban jiwa besar dan jebakan strategis baru .

    Kalkulasi Politik Domestik. Presiden Trump melancarkan perang ini tanpa otorisasi Kongres, mengandalkan kekuasaannya sebagai Panglima Tertinggi berdasarkan Pasal 2 Konstitusi. Ini adalah pertaruhan politik yang besar, mengingat basis pendukungnya selama ini dikenal anti-perang. Resolusi Kekuasaan Perang tahun 1973 (War Powers Act) akan memicu “hitungan mundur” 60 hari, setelah itu administrasi harus mendapatkan persetujuan Kongres atau mengakhiri operasi . Pernyataan Wakil Presiden JD Vance yang menjamin “tidak ada kemungkinan” perang berkepanjangan justru menunjukkan kerentanan administrasi terhadap isu ini .

    Prospek dan Skenario ke Depan

    Pada tahap awal ini, beberapa skenario dapat diantisipasi , antara lain, Skenario Keberhasilan Terbatas (Most Likely). Serangan berhasil melumpuhkan sebagian besar program nuklir dan rudal balistik Iran serta menewaskan sejumlah petinggi. Namun, rezim bertahan dan kepemimpinan baru (mungkin dari Korps Garda Revolusi Islam/IRGC) muncul. Konflik berlanjut pada tingkat rendah melalui perang proksi dan serangan siber. AS “menang” secara militer tetapi gagal mencapai perubahan rezim.

    Skenario Konflik Meluas (High Risk): Serangan balasan Iran menyebabkan korban jiwa besar di kalangan personel AS atau sekutu. Sebagai respons, AS meningkatkan serangan secara drastis, mungkin termasuk invasi darat terbatas untuk mengamankan wilayah. Konflik regional pecah, melibatkan proksi Iran di berbagai front. Ini adalah skenario “quagmire” yang paling ditakuti .

    Skenario Perubahan Rezim (Low Probability).  Serangan militer berhasil memicu pemberontakan besar-besaran di dalam negeri Iran. Kombinasi serangan udara presisi dan tekanan dari dalam berhasil meruntuhkan struktur kekuasaan. Pemerintahan baru yang pro-Barat atau netral akan terbentuk. Skenario ini memiliki probabilitas terendah mengingat kuatnya alat keamanan internal Iran dan sejarah perlawanan nasionalis saat menghadapi agresi asing .

    Demikianlah, maka serangan 28 Februari 2026 bukanlah perang untuk mencegah Iran memiliki bom, melainkan perang untuk menghancurkan tatanan politik yang telah berdiri selama hampir setengah abad. Dari sudut pandang strategi militer, operasi awal ini berhasil secara taktis, mencapai kejutan dan menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur militer dan politik Iran. Namun, operasi ini membuka kotak Pandora dengan risiko strategis yang sangat besar. Tidak adanya rencana yang jelas untuk “hari setelah” dan ketergantungan pada skenario optimis bahwa rakyat Iran akan berhasil melakukan perubahan rezim dengan sendirinya merupakan kelemahan paling mendasar. Amerika Serikat kini berada di jalur perang yang sulit diprediksi, dengan potensi konflik meluas dan korban jiwa yang terus bertambah, sementara jalan keluar yang bersih tampak semakin sempit.

    Jakarta 1 Maret 2026

    Chappy Hakim

    Pusat Studi Air Power Indonesia

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleDwifungsi TNI dan Dinamika Relasi Sipil – Militer Analisis atas Revisi UU TNI 2025
    Next Article Dinamika Strategis Timur Tengah dan Implikasinya terhadap Keamanan Global dan Indonesia
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Dari Medan Perang AS Israel Vs Iran

    03/01/2026
    Article

    Dinamika Strategis Timur Tengah dan Implikasinya terhadap Keamanan Global dan Indonesia

    03/01/2026
    Article

    Dwifungsi TNI dan Dinamika Relasi Sipil – Militer Analisis atas Revisi UU TNI 2025

    02/24/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.