Oleh: Chappy Hakim
Di langit abad ke-21, superioritas udara tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan manuver pesawat tempur dalam dogfight klasik. Kini, medan tempur udara telah berubah menjadi arena pertarungan jarak jauh yang ditentukan oleh radar canggih, rudal berkecepatan tinggi, dan sistem peperangan elektronik yang nyaris tak kasatmata. Dalam konteks itu, menarik untuk membandingkan dua jet tempur generasi 4.5 yang kini menjadi primadona di kawasan Asia yakni Chengdu J-10C dari Tiongkok dan Dassault Rafale dari Prancis. Sekilas, keduanya tampak sepadan. Rafale dikenal sebagai jet multirole premium yang telah membuktikan kemampuannya dalam berbagai operasi tempur, mulai dari Libya hingga Mali. Sementara itu, J-10C adalah representasi terbaru dari ambisi teknologi militer Tiongkok, yang kini tidak hanya menjadi peniru, tetapi juga inovator. Namun jika ditelisik lebih dalam, ada sejumlah keunggulan dari J-10C yang justru menjadikannya alternatif yang semakin diperhitungkan di luar sekutu tradisional Barat.
Pertama-tama, dari sisi efisiensi biaya, J-10C jauh lebih bersahabat. Harga per unitnya diperkirakan hanya sekitar US$35–40 juta, sementara Rafale melambung hingga US$100–120 juta. Biaya operasi dan pemeliharaan Rafale pun lebih tinggi karena keterkaitan erat dengan standar dan suku cadang NATO. Bagi negara-negara berkembang dengan keterbatasan anggaran pertahanan seperti Pakistan atau bahkan Indonesia, efisiensi ini adalah pertimbangan strategis yang tak bisa diabaikan. Dalam dunia aviasi militer, efisiensi bisa menjadi sinonim dari kesiapan tempur. Dari segi teknologi radar dan avionik, J-10C juga tidak bisa diremehkan. Jet ini dilengkapi dengan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) KLJ-7A, yang mampu mendeteksi dan melacak banyak target sekaligus, dalam cuaca buruk sekalipun. Kemampuan ini setara dengan radar RBE2-AA milik Rafale. Namun yang membuat J-10C istimewa adalah integrasinya dengan rudal udara-ke-udara PL-15, yang memiliki jangkauan hingga 250–300 km, jauh melampaui MBDA Meteor milik Rafale yang memiliki jangkauan maksimum sekitar 200–220 km. Dalam perang udara modern yang mengutamakan keunggulan BVR (Beyond Visual Range), keunggulan ini amat menentukan siapa yang “menembak lebih dulu” dan karenanya “hidup lebih lama.” Selain itu, J-10C adalah bagian dari strategi perang jaringan modern ala Tiongkok. Jet ini dirancang untuk beroperasi dalam ekosistem militer yang saling terkoneksi dengan pesawat AWACS seperti KJ-500, sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh seperti HQ-9, hingga drone pengintai dan tempur. Konsep network-centric warfare ini memungkinkan J-10C bertindak bukan sebagai petarung tunggal, melainkan sebagai bagian dari “orkestra tempur” di langit. Rafale juga dirancang untuk konsep serupa dalam konteks NATO, tetapi dalam hal fleksibilitas integrasi dan kebebasan operasi non-Barat, J-10C lebih terbuka dan adaptif.
Yang juga tidak kalah penting adalah politik transfer teknologi. Pengalaman negara-negara pengguna Rafale seperti India menunjukkan bahwa memperoleh teknologi dari Prancis bukan perkara mudah. Rafale datang dengan kontrak ketat, harga tinggi, dan kerumitan dalam pengadaan suku cadang. Sebaliknya, Tiongkok relatif lebih fleksibel. Pakistan, sebagai mitra utama pengguna J-10C, mendapatkan paket lengkap mulai dari pelatihan, logistik, hingga kemungkinan alih teknologi jangka panjang. Bagi negara seperti Indonesia yang ingin membangun kemandirian industri pertahanan, pendekatan Tiongkok ini tentu lebih menguntungkan dibandingkan formula ‘take it or leave it’ dari Prancis.
Namun tentu saja, Rafale bukan tanpa keunggulan. Jet ini unggul dalam urusan manuver berkat desain sayap delta dan canard-nya yang sangat aerodinamis. Dalam duel jarak dekat (dogfight), Rafale bisa jadi lebih lincah. Rafale juga dilengkapi sistem peperangan elektronik SPECTRA yang sangat canggih, memberikan perlindungan komprehensif terhadap ancaman rudal. Tapi sekali lagi, di era saat rudal jarak jauh lebih menentukan dibandingkan duel visual, keunggulan ini menjadi kurang relevan dalam konteks taktik tempur jarak jauh.
Dalam konteks geopolitik, J-10C juga hadir dengan beban politik yang lebih ringan. Membeli Rafale kerap berarti menempatkan diri dalam orbit Barat dan berisiko mendapatkan tekanan politis tertentu, sebagaimana yang dialami sejumlah negara ketika menghadapi embargo senjata. Sementara itu, Tiongkok cenderung memisahkan urusan dagang dengan urusan ideologi. Ini menjadikan J-10C lebih “netral” dari sisi politik.
Melihat semua itu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa J-10C adalah simbol dari era baru di mana “good enough is powerful enough”. Jet tempur ini bukan sekadar menyaingi Barat secara teknologi, tetapi juga menawarkan fleksibilitas politik dan efisiensi anggaran. Dalam realitas strategis saat ini, keunggulan bukan hanya tentang siapa yang paling canggih, tetapi juga siapa yang paling siap, paling cepat, dan paling murah hadir di garis depan.
Referensi:
- Bronk, Justin. “China’s Modernising Air Force: Capability and Regional Balance.” Royal United Services Institute (RUSI), 2022.
- Bedi, Rahul. “India’s Rafale Deal: Strategic Game-Changer or Political Headache?” BBC News, 2021.
- Gady, Franz-Stefan. “Pakistan Unveils J-10C Fighter Jets With PL-15 Missiles.” The Diplomat, March 2022.
- Yeo, Mike. “China’s J-10C Is a Capable Fighter With a Clear Strategic Role.” Defense News, 2023.
- SIPRI Arms Transfers Database, Stockholm International Peace Research Institute, 2024.
Jakarta 21 Juli 2025
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia