Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»56 Tahun Guntur Soekarno dan Mbak Henny
    Article

    56 Tahun Guntur Soekarno dan Mbak Henny

    Chappy HakimBy Chappy Hakim02/18/2026Updated:02/18/2026No Comments5 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

     Kesetiaan yang Tumbuh dalam Kesederhanaan

    Rentang waktu lima puluh enam tahun bukanlah tenggang waktu yang singkat dalam sebuah perjalanan pernikahan. Ia bukan sekadar hitungan kalender, melainkan merupakan jejak panjang kebersamaan yang ditempa oleh suka dan duka, oleh tawa dan air mata, serta oleh ujian zaman yang datang silih berganti. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kerap rapuh dalam menjaga komitmen, usia pernikahan yang melampaui setengah abad adalah peristiwa yang kian langka dan karenanya memang sanga layak dirayakan dengan rasa syukur yang mendalam.

    Sabtu pagi 14 Februari 2026, saya dan istri menghadiri syukuran 56 tahun pernikahan Guntur Soekarno dan Henny Guntur Soekarno di Candi Singosari Room Lantai 2 Grand Sahid Jaya Jakarta. Bagi saya, kehadiran di acara ini bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menghadiri sebuah bab penting dalam kisah panjang persahabatan. Saya bersahabat dengan Guntur Soekarno yang akrab saya sapa Mas Tok sejak kami duduk di Taman Kanak Kanak yang berlokasi di sebuah kupel di halaman antara Istana Negara dan Istana Merdeka. Persahabatan yang dimulai sejak usia belia itu kini telah melintasi puluhan tahun, mengikuti arus sejarah bangsa yang turut membentuk kehidupan kami masing masing.

    Pagi itu Mas Tok yang telah berusia 82 tahun tampak cerah dan penuh wibawa. Ia mengenakan jas sipil lengkap dengan dasi merah yang memberi kesan tegas namun hangat. Di sampingnya Mbak Henny tampil anggun dalam balutan busana nasional yang rapi dan cantik. Keduanya berdiri serasi, memancarkan ketenangan pasangan yang telah saling memahami dalam kedalaman waktu. Ada sinar kebahagiaan yang tidak dibuat buat, sebuah sinar yang lahir dari kebersamaan panjang yang dijalani dengan penuh kesabaran.

    Suasana ruangan sendiri, terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Nuansa putih krem dan cokelat menciptakan suasana lembut yang menenangkan. Namun yang paling terasa bukanlah dekorasi, melainkan energi kebersamaan yang mengalir alami di antara para tamu. Saya kebetulan duduk berdekatan dengan Mahfud MD, Siswono Yudo Husodo, dan Sidarto Danusubroto. Pak Sidarto yang kini berusia 90 tahun tampak tetap segar bugar. Kehadirannya menjadi pengingat akan generasi yang telah melewati begitu banyak fase perjalanan panjang sebuah bangsa.

    Keluarga Mas Tok dan Mbak Henny hadir lengkap. Putri mereka Puti Pramatana bersama suaminya Johansyah Jaya Kameron serta dua cucu kesayangan Rakyan Ratri dan Rakyan Danu Kameron menambah hangat suasana. Tampak pula adik Mas Tok Guruh Soekarnoputra. Kehadiran anak dan cucu menjadi simbol keberlanjutan nilai nilai keluarga yang diwariskan, mengalir dengan rasa penuh cinta dan sekaligus tampil sebagai sebuah keteladanan.

    Meski dihadiri sejumlah tokoh nasional, acara syukuran ini jauh dari kesan glamor dan mewah. Justru kesederhanaanlah yang paling menonjol. Dekorasi tertata elegan tanpa berlebihan. Susunan acara ringkas dan khidmat. Percakapan antar tamu berlangsung akrab tanpa jarak protokoler. Nilai kesahajaan yang selama ini melekat pada pribadi Mas Tok benar benar terasa nyata dalam perayaan tersebut. Sebagai putra Proklamator dan Presiden RI pertama Soekarno, Mas Tok selama ini dikenal tinggal di rumah sederhana di kawasan Kemang yang bahkan berada di belakang sebuah minimarket. Kesederhanaan bukanlah slogan baginya, melainkan pilihan hidup yang dijalani secara konsisten.

    Fokus perayaan sepenuhnya pada doa dan kebersamaan, bukan pada kemegahan sebuah seremoni. Sejumlah sahabat lama keluarga hadir dan memberikan ucapan selamat secara langsung. Selain nama nama yang duduk di dekat saya, tampak pula Theo L. Sambuaga, Miranda S. Goeltom bersama Oloan P Siahaan, Poppy Dharsono, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, putri mantan Wakil Presiden RI pertama Gemala Hatta, wartawan senior Tommy Suryopratomo, Erros Djarot, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Kehadiran mereka mencerminkan jalinan persahabatan panjang dan penghormatan kepada pasangan yang merayakan tonggak penting kehidupan dalam berumah tangga.

    Salah satu kerabat menyampaikan bahwa perayaan ini bukan semata tentang angka, melainkan tentang keteguhan hati, kesetiaan, dan saling menguatkan dalam suka dan duka. Kalimat itu terasa begitu tepat. Selama puluhan tahun mengenal Mas Tok, saya menyaksikan bagaimana ia menjalani hidup dengan sikap tenang, tidak berlebihan, jauh dari dinamika hura hura dan setia pada prinsip. Mbak Henny adalah pendamping yang kokoh, bersahaja namun penuh keteguhan.

    Acara diisi dengan doa bersama, pemutaran dokumentasi kisah hidup pasangan, serta ramah tamah dalam suasana yang santai dan akrab. Momen pemotongan tumpeng menjadi simbol rasa syukur atas kebersamaan yang terpelihara hingga hari ini. Tidak ada gemerlap yang mencolok. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Yang terasa ada hanyalah rasa penuhu syukur dan cinta keluarga yang tulus. Sebagai sahabat yang mengenal Mas Tok sejak masa kanak kanak, saya merasakan perayaan ini sebagai refleksi pribadi. Enam puluh tahun lebih kami saling mengenal, dan selama 56 tahun ia berjalan berdampingan dengan Mbak Henny. Ini adalah ukiran kisah tentang cinta yang tumbuh perlahan, matang oleh waktu, dan tetap utuh di tengah perubahan zaman. Di era ketika banyak relasi mudah goyah oleh perbedaan kecil, pernikahan yang bertahan lebih dari setengah abad adalah teladan nyata tentang arti dari sebuah komitmen.

    Sekali lagi perayaan 56 tahun pernikahan adalah merupakan refleksi yang sangat langka terjadi. Sebuah kisah tentang cinta, kesetiaan, dan harmonisnya kehidupan rumah tangga. Rentang waktu lebih dari setengah abad kebersamaan Mas Tok dan Mbak Henny membuktikan bahwa fondasi keluarga bukanlah kemewahan, melainkan kesederhanaan, kesabaran, dan kesediaan untuk terus saling memahami. Nilai nilai itulah yang terlihat menjaga keutuhan keluarga dan mengalirkannya lintas generasi.

    Selamat 56 tahun pernikahan Mas Tok dan Mbak Henny. Semoga selalu dikaruniai kesehatan, kebahagiaan, dan ketenteraman. Bagi saya pribadi, hari itu bukan sekadar menghadiri sebuah syukuran, melainkan menyaksikan sebuah pelajaran hidup tentang arti dari kesetiaan dan makna dari sikap saling menghargai.

    Jakarta 14 Februari 2026

    Chappy Hakim dan Ade Rani

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePR Besar dalam Pengelolaan Ruang Udara Indonesia
    Next Article Sistem Perhubungan Udara Nasional
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Sistem Perhubungan Udara Nasional

    02/18/2026
    Article

    PR Besar dalam Pengelolaan Ruang Udara Indonesia

    02/18/2026
    Article

    Rafale dan Makna “Generasi 4,5” dalam Modernisasi serta Diversifikasi Sistem Senjata

    01/20/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.