Article

Tulisan ke-400!

Selasa sore lalu, saya menerima kiriman buku dari Pak Soemarno yang berjudul “Karakter, mengantar bangsa dari Gelap menuju Terang”.

Sebuah buku yang bagus sekali karya ke-5 dari Bapak Soemarno.   Saya langsung mengangkat telepon untuk menyampaikan terimakasih langsung kepada beliau, dan tentu saja diskusi berkepanjangan tentang “karakter bangsa” dengan beliau tidak dapat dihindari.   Tidak terasa, hampir setengah jam lebih saya dan Pak Marno “ngobrol” yang ditutup dengan harapan untuk dilanjutkan segera setelah ada kesepakatan waktu di minggu depan.

Pak Marno, adalah guru saya sejak di Magelang ditahun 1960-an dan juga di Lemhannas ditahun 1990-an.   Satu tulisan ringan tentang beliau dapat dibaca disalah satu topik dalam buku saya “Awas Ketabrak Pesawat Terbang”. Untuk mengenal lebih jauh , saya kutipkan tentang beliau seperti tercantum dikulit belakang buku  yang baru itu sebagai berikut :

Soemarno Soedarsono, adalah seorang Brigadir Jenderal TNI (Purn.) dan seorang pendidik yang berpengalaman dibidang pendidikan baik di Akademi Militer, Lemhannas maupun di Lembaga Pemerintah dan Swasta.   Ia dilahirkan di Magelang tanggal 7 bulan 8 tahun 1930, berkeluarga, 1 isteri, 3 anak dan 8 cucu.   Pendidikan yang antara lain yang ia dapatkan : lulusan KMA (Koninklijke  Militaire Academie) Breda, Belanda, Assoc Advanced Artillery Course Sill,Oklahoma USA,IDMC California USA,Seskoad Bandung, NDC India, Lemhannas RI.

Buku yang telah ia tulis adalah “Ketahanan Pribadi dan Ketahanan Keluarga sebagai Tumpuan Ketahanan Nasional”,  “Penyemaian Jati Diri”, Character Building” dan “Hasrat Untuk Berubah”.   Saat ini kegiatan beliau adalah : Ketua Umum Yayasan Jati Diri Bangsa, Pembina Lembaga Pendidikan Vitaniaga, Masih sebagai Widyaiswara tidak tetap di Lemhannas RI.

Buku yang baru saja diluncurkannya pada tanggal 28 Desember 2009 lalu ini, berjudul “Karakter mengantar Bangsa dari Gelap menuju Terang”.   Pada sampul depan ,diatas dari judul tertera disitu tulisan yang berbunyi :   Bung Karno pernah mengatakan, “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (Character Building), karena Character Building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat.   Kalau Character Building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli!

Dibawah judul buku, masih disampul depan tertera tulisan : Karakter mendorong kita hidup dalam kebahagiaan.

Dengan mengamati sampulnya saja, maka kiranya kita sudah akan dapat mengira-ngira apa gerangan yang menjadi isi buku ini.   Didalamnya penuh uraian-uraian yang sangat menggugah semangat untuk terutama sekali membangun jati diri bangsa Indonesia yang pada intinya adalah berbasis kepada pembentukan karakter.

Dalam salah satu diskusi yang panjang dengan beliau, tercetus sedikit pemikiran beliau yang menyebutkan bahwa, mungkin selama ini kita telah keliru dalam perjalanan bangsa yang selalu mengedepankan aspek ekonomi dan politik semata.   Beliau berpikir, seharusnya kita berjalan dalam kehidupan berbangsa ini dengan menggunakan “pembentukan karakter” sebagai “basic platform” nya.   Sekali lagi, memang banyak hal yang diutarakan beliau, dapat menjadi suatu debat yang panjang, namun bila kita melihat realita bangsa Indonesia saat ini maka sedikit banyak, kita akan lebih mudah untuk segera memahami pemikiran beliau.

Mengapa saat ini kita bisa menyaksikan pertunjukan dari orang-orang yang begitu memiliki kekuasaan, langsung dapat saja berbuat “kasar”, bertingkah “tanpa etika“.   Begitu memiliki kekuasaan, seolah hilang dan sirna “rasa menghargai  terhadap sesama“, “rasa hormat” kepada yang lebih tua.   Begitu beda pendapat, bisa saja langsung “menghina” sejadi-jadinya.   Mereka seolah lupa, bahwa pada hakikatnya, bila kita menghargai orang lain, maka sebenarnya kita tengah menghargai diri sendiri.

Realita saat ini, seolah telah menunjukkan, bagaimana tumbuh besarnya “egoisme” dari setiap orang/golongan/kelompok yang memandang pihak lain sebagai musuh yang harus dihancur-leburkan.

Realita saat ini, seolah menunjukkan bahwa “Kebersamaan” sudah tidak ada lagi.   Bila kebersamaan sudah tidak ada lagi, maka pertanyaan “kemana kita hendak pergi”, akan menjadi suatu pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab !   Bila kebersamaan sudah tidak ada lagi, maka tanda-tanda suatu bangsa akan menjadi bangsa kuli akan semakin nyata terlihat !

Dalam buku Pak Marno, banyak hal tentang uraian diatas, diulas oleh beliau dengan sangat mendalam.   Betapa saya tidak kagum dengan beliau, yang pada usia yang sudah tidak muda belia lagi, Pak Marno masih memiliki keperdulian yang luar biasa terhadap “Indonesia“.   Beliau  telah berada ditengah-tengah keluarga yang bahagia.   Bahagia dengan isteri tercinta, anak-anak dan sejumlah cucu yang menggemaskan.   Beliau bisa saja dalam melihat perjalanan bangsa ,untuk kemudian “EGP”, berleha-leha, “enjoy life” dan  menikmati masa purnawira nya, tanpa mengganggu siapapun juga.   Namun beliau tidak mengerjakan itu.   Pak Marno, masih seperti Pak Marno di tahun 1960-an yang sangat keras perduli terhadap lingkungannya.   Sangat keras antara lain membangun “disiplin” anak buahnya.

Saya merasa sangat berbahagia mendapatkan satu lagi buku bermutu, terimakasih pak Marno !

Saya sengaja turunkan tulisan ini,  yang bila mengikut kepada catatan pihak admin maka tulisan ini adalah merupakan tulisan ke 400 saya di Kompasiana.com

Tulisan yang saya turunkan, dengan tujuan sekedar untuk berbagi dan menambah teman, semoga ada juga manfaat kiranya bagi kita semua.

Singapore, 4 Februari 2010

Tags

Related Articles

1 thought on “Tulisan ke-400!”

  1. Marsekal Chappy Yth,
    Saya teringat thn 80-an ketika Budayawan kita Pak Mohctar Lubis dan Pak Koentjaraningrat membahas mentalitas Manusia Indonesia…Salah satunya-nya Watak /Karakter yg kita belum punya…..

    Stereotip negatif yang lain menurut kedua Budayawan besar tadi antara lain :

    Munafik dan Hipokrit,Enggan dan Segan Bertanggung Jawab,Sikap dan Perilaku Feodalistik,Percaya ke Tahyul….Mentalitas suka Menerabas dlll ( maaf dah lupa2 ingat ) . Dan kalo kita mau hening sejenak..rasanya stereotip tersebut masih lekat erat di sendi-sendi bermasyarakat kita ,cuma terjadi metamorfosa sedikit………….Tahyul bentuk baru misal : Peraturan2/Hukum2/Undang2 /Sumpah2 yang baru yg begitu Indah/Anggun dan Sempurna saat dibuat /diciptakan dan diucapkan….namun dalam kenyataan terjadi DISTORSI yg menyakitkan………sumber bahaya yang lain Adalah SIKAP RELIGIOSITAS YANG LEMAH& RAPUH..cukup banyak bukti…agama yang seharusnya dipeluk manusia untuk menjadi sumber DAMAI..namun yang terjadi adalah jauh panggang daripada api……
    Kita harus berubah dan sadar sebagai Bangsa Yang Besar…demi masa depan Anak Cucu kita yang lebih baik….dan sejahtera…..Semoga TUHAN menolong kita !!! Amien..Terimakasih n Salam dari Rantau Orang!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.