All posts tagged Indonesia

Penerbangan kita dalam bahaya !

Memetik Hikmah dari Musibah

SSJ100

Pendahuluan

Bila tidak segera dilakukan pembenahan yang segera, dunia penerbangan kita akan berada dalam “bahaya”. Kenapa dan bagaimana masalahnya? ikuti uraian berikut ini :

Sebuah pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 dilaporkan hilang di kawasan Gunung Salak, Bogor , pada hari Rabu tanggal 9 Mei tahun 2012 sekitar pukul 14.30 WIB. Pesawat buatan Rusia tersebut take off dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada pukul 14.21 WIB dan kehilangan kontak pada ketinggian 6000 kaki pukul 14.33 WIB di atas Bogor Area.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) tersebut membawa 45 orang penumpang, yang terdiri atas sembilan warga asing dan Rusia serta 37 warga negara Indonesia . Penerbangan ini adalah dalam rangka pelaksanaan promo tur bertajuk “Welcome Asia” yang dimulai pada 3 Mei dan dijadwalkan mengunjungi enam negara yakni Kazakhstan, Pakistan, Indonesia, Vietnam, Laos dan Myanmar. Pesawat dengan kapasitas 98 penumpang itu dirancang untuk dapat dioperasikan pada jarak lebih kurang 4.578 kilometer dengan ketinggian yang dapat mencapai hingga 12.200 meter. Belakangan diketahui bahwa pesawat yang naas tersebut telah menabrak gunung Salak. Pesawat hancur lebur dan seluruh awak pesawat serta penumpang dinyatakan gugur.

Read more…

Curhat Dari Sahabat

Sahabat saya seorang kontraktor bangunan. Dia saya ketahui meneruskan apa yang telah dikerjakan oleh orang tuanya. Jadi dia adalah generasi kedua yang menjalani pekerjaan yang buat saya terlalu rumit. Rumit dalam pengertian, sebagai kontraktor, dia harus mencari sendiri pelanggan atau klien nya. Setelah dapat, masih banyak daftar panjang yang harus dikerjakannya, antara lain belanja bahan bangunan dan mengelola SDM yang mulai dari arsitek sampai dengan para tukang, batu, kayu dan juga mandornya masing-masing. Baru kemudian dapat menghitung keuntungan yang pantas untuk diraih walaupun masih akan berhadapan dengan banyak variabel lainnya. Bagi saya kalkulasi ini akan sangat ribet dalam menghitungnya, karena antara belanja barang, upah pekerja dan laju kenaikan harga serta jasa angkutan adalah hal yang tidak sederhana untuk dapat di prediksi.

Singkat kata, teman saya ini memang memiliki kemampuan itu karena telah lama magang kepada orang tuanya sendiri. Perusahaan kontraktor nya ini sangat taat azas. Selalu sejauh mungkin menaati peraturan yang berlaku dan mempertahankan kualitas bangunan seperti menjaga nama baik dirinya sendiri. Inilah yang dia peroleh dari almarhum ayahnya, seorang kontraktor yang otodidak dan sangat sukses dijamannya. Kesuksesan orang tuanya, telah juga membawa teman saya itu untuk dapat menimba ilmu di Amerika Serikat. Kebanggaan yang tiada tara bagi keluarganya. Read more…

Apa Kabarnya FIR Singapura?

Sampai dengan saat ini, masih ada wilayah udara kedaulatan Republik Indonesia yang berada di bawah “kekuasaan”otoritas penerbangan nasional Singapura.

Kondisi ini jelas-jelas sangat merugikan kepentingan dunia penerbangan Indonesia. Sudah terlalu banyak keluhan dari banyak pihak yang berkepentingan dengan jalur penerbangan di kawasan sekitar Tanjung Pinang dan Natuna itu. Dari aspek gelar pertahanan udara nasional, kondisi ini pun sangat merugikan. Kedaulatan dan kehormatan sebagai bangsa dipertaruhkan dalam masalah yang telanjur berlarut-larut puluhan tahun ini.

Mengenai pengertian tentang kedaulatan suatu negara, khususnya kedaulatan di udara, referensi baku yang senantiasa menjadi acuan adalah Convention on International Civil Aviation,Chicago 7 Desember 1944. Pasal 1 menyebutkan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif (complete and exclusive) terhadap ruang udara di atas wilayahnya. (Prof Dr H Priyatna Abdurrasyid, PhD, 2003) Setiap masalah ini dikemukakan, selalu saja akan memperoleh jawaban bahwa di Eropa juga banyak terjadi hal seperti ini dan itu bukan masalah prinsip yang harus diurus karena International Civil Aviation Organization (ICAO) memang sudah membagi habis kolom ruang udara dalam konteks keselamatan terbang global.

Jawaban berikutnya yang juga selalu ditekankan dengan nada meyakinkan adalah: kita memang tak bisa apa-apa karena tak punya uang untuk membeli peralatan canggih yang modern dan kita tidak sanggup menyiapkan SDM-nya. Read more…

Mungkin ini sebabnya RI tertinggal dari S’pore !

Lee Kuan Yew

Lee Kuan Yew

Indonesia, sejak reformasi bergulir selalu berada dalam situasi yang sangat memprihatinkan, kalau tidak boleh menggunakan kata menyedihkan. Negara yang setiap hari ribut dengan hal-hal yang sangat tidak berguna. Negara yang seolah tidak ada pemimpinnya, semua berjalan sendiri-sendiri. Setiap hari hampir seluruh media memuat berita-berita yang hanya berkisar kepada perbedaan pendapat belaka, sementara didepan mata, bertumpuk permasalahan sosial yang tidak kunjung terlihat ditangani dengan baik. Jalan-jalan rusak, lalu lintas macet, fasilitas pelayanan masyarakat minim, sementara orang-orang yang berpengaruh sibuk dengan hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan upaya mengatasi masalah tersebut. Kita semua direpotkan dari satu masalah kemasalah lain, dari sejak kasus Century, Gayus Tambunan dan kini Nazaruddin dan entah apalagi setelah ini. Walau begitu kita semua merasa bangga karena dibilang sebagai negara yang paling demokratis nomor 3 di dunia ! Apa benar demokrasi berarti segala-galanya ? Untuk itu ada baiknya menyimak sedikit visi dari seorang pemimpin negara maju seperti SIngapura,

Lee Kuan Yew :

Berikut ini, beberapa pandangan dari Lee Kuan Yew yang dikutip dan disarikan dari salah satu wawancaranya dengan salah satu majalah terkenal di Eropa :

Lee Kuan Yew : Mengapa saya menentang demokrasi? Inggris datang ke Singapura tidak pernah memberi kepada saya tentang sesuatu yang bernama “demokrasi”. Dan saya tegaskan lagi bahwa saya tidak mungkin dapat menjalankan sistem di Negara saya dengan berdasarkan hukum atau aturan main mereka (demokrasi). Saya harus menjalankan sistem saya, system Singapura, yang harus mengacu kepada posisi dari rakyat Singapura. Read more…

Hidup dan Tantangan Hidup !

Beberapa waktu yang lalu saya membaca satu tulisan yang sangat menarik tentang hidup dan tantangan hidup.   Semula saya tidak begitu perduli dengan semua apa yang terkandung dalam tulisan tersebut, walaupun sekilas harus diakui bahwa tulisan tersebut sangat menarik.   Saya lupa siapa penulisnya dan juga siapa pengirim tulisan tersebut kepada saya.

Semalam, dalam lamunan sebelum tidur saya sudah mulai berpikir tentang apalagi yang saya harus perbuat dalam mengisi sisa hidup ini.   Saya masih memiliki tiga buah naskah tulisan untuk dibuat buku dan setelah itu tidak ada lagi.   Mengisi kegiatan sehari-hari, selain berusaha menyelesaikan beberapa tulisan, saya juga berusaha mengikuti perkembangan keadaan dari berita-berita nasional dan internasional.   Nah, dalam mengikuti perkembangan keadaan didalam negeri inilah, saya kemudian merasa bosan dihanyutkan dengan begitu banyak pemberitaan dari kegiatan-kegiatan yang sangat tidak  bermutu dan  sangat tidak mendidik bagi generasi muda bangsa.

Saya tidak melihat lagi keberpihakan dari para elit negeri ini terhadap rakyat kecil yang tidak berdaya.   Kereta Api yang nyaris hampir setiap minggu mengalami kecelakaan, kapal tenggelam yang memakan banyak korban jiwa tidak berdosa, kemacetan lalu lintas yang semakin parah, kondisi jalan raya yang semakin amburadul ditambah lagi dengan demonstrasi  orang-orang tertentu yang sangat arogan melintas ditengah kemacetan yang parah menggunakan ngoeng-ngoeng meminggirkan kendaraan orang lain yang tengah antri dengan sabar.

Mengagumkan, mereka pun dengan tulus ikhlas atau setengah menggerutu minggir memberikan jalan kepada sang “boss” yang hendak lewat itu.   Saya pun teringat dengan Menhankam/Pangab Jenderal Jusuf, yang pernah melarang semua pejabat termasuk dirinya untuk menggunakan ngoeng-ngoeng.   Beliau  memberikan ijin menggunakan ngoeng-ngoeng hanya untuk Kepala Negara, wakil kepala negara dan tamu negara setingkat.   Kini, tiada ada seorang elit pun yang kelihatan memberikan perhatian kepada nasib malang rakyat kebanyakan di negeri ini.   Saya pun tidak berdaya.   Saya pun nyaris “putus asa”.   Saya pun nyaris mengambil keputusan  untuk “apatis” saja.   Mengambil keputusan EGP.   Saya ingin cuek saja dan kemudian menikmati hidup saja sendiri dengan keluarga, dengan cucu dan terus…………. mau apa lagi? Read more…

Tulisan Bagus tentang “Penderitaan dan Kesedihan”

Beberapa tahun belakangan ini, jalan-jalan di Jakarta semakin macet tidak keruan, lalu lintas amburadul, tidak ada lagi yang tersisa, marka jalan, tanda-tanda/ rambu-rambu lalu lintas tidak sama sekali digubris.   Sementara bagi mereka yang mampu dengan tenang berjalan lancar menggunakan ngoeng-ngoeng menyuruh minggir pengguna jalan lainnya.  Belum lagi berbicara tentang transportasi publik yang tidak ada satu pun yang memadai.   Bahkan minggu belakangan ini, Kereta Api tabrakan, disusul lagi dengan terbakarnya Kapal Laut di Selat Sunda yang memakan banyak nyawa tidak berdosa. Sejauh ini belum terdengar akan adanya upaya tentang langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk membereskan kesemuanya itu.   Sungguh Prihatin.

Pagi ini saya kebetulan membaca Media Indonesia . com dan menjumpai satu tulisan yang sangat menyentuh hati. Tulisan dengan judul “ Negara Yatim Piatu”, satu tulisan tentang masalah aktual yang tengah kita hadapi bersama.  Masalah Transportasi.   Tulisan yang singkat dan padat ini berjudul Negara Yatim Piatu.   Selesai membaca, saya pikir, harus lebih banyak lagi orang yang wajib mengetahui tentang isi tulisan yang bagus ini.   Itu sebabnya kemudian saya posting disini, mudah-mudahan dan saya yakin penulis aslinya tidak akan merasa keberatan.   Sekali lagi ini adalah kutipan tulisan dari Media Indonesia.com .   Isi selengkapnya adalah sebagai berikut :
Negara Yatim Piatu

Read more…

Mandala the tip of an iceberg

puncak gunung es

puncak gunung es

The air transport business in Indonesia, the world’s largest archipelago, is undoubtedly very promising. The country’s big population and widespread distribution of settlements makes air transportation the most reliable means of social mobility and goods movement.

But unfortunately it’s with this very sector that Indonesia has experienced management shortcomings in making its airlines more contributive to national development.

One of the fairly prominent reasons for this lack of progress is the government’s slow regulatory movement in anticipating the rapid increase of airline companies and passengers. The significant rises were due to the deregulation of the airline industry in the 1990s. In 2000, for example, Indonesia only owned five airlines serving 10 million passengers, but in 2006 there were over 25 airlines and 20 million passengers.

It was a phenomenal growth, although not without embarrassment, as it was accompanied by a fast-rising number of air accidents. From 1995 through 2005, Indonesia recorded 3.1 aircraft accidents per million departures. The figure may seem small, but they are drastic in contrast to the world average of 0.89 accidents per million departures, a ratio of one to 3.5. Read more…