ArticleLifeMemoriesPeople

Sahabat Almarhum Ayah Saya

Pagi tadi sesaat tiba di kantor saya menerima sms dari adik saya.   Isinya : “Chap, tadi Om Bagio (teman Ayah, usia 85 tahun) nelpon.   Dia sekarang tinggal di Ciputat dengan isteri (usia 80 tahun).   Dia berminat terhadap buku Chappy, setelah baca di Kompas.   Ini nomor teleponnya ………..”

Tertegun sejenak, saya langsung terbayang akan sosok Om Soebagio I.N. sahabat dekat ayah saya.   Dari sejak kecil saya cukup dekat dengan beliau.   Dekat dalam arti sering bertemu saat Om Bagio datang bertandang kerumah.   Jarang ngobrol-ngobrol dengan beliau, karena  biasanya  Ayah saya langsung keluar menemuinya dan kemudian terlibat dengan diskusi yang panjang, entah tentang topik apa, karena saya tidak diperkenankan untuk “nguping”.

Setelah sadar, saya langsung menelpon adik saya untuk menanyakan lebih detil tentang Om Bagio yang menelepon pagi tadi itu.   Segera setelah usai menelepon saya menyiapkan 4 buah buku saya yang terakhir dan sebuah guntingan klipping artikel saya yang dimuat  di Jakarta Post tanggal 16 Desember yang lalu.   Kesemuanya saya bungkus yang rapih dan meminta tolong kurir untuk  mengantar ke rumah beliau segera.

Soebagio I.N. adalah Wartawan Senior Kantor Berita Antara, sejak Kantor Berita itu berbentuk Yayasan yang dimiliki oleh Bung Adam Malik Cs, sebelum kemudian diambil alih oleh Negara di tahun 1960-an sebagai solusi dari direbutnya pimpinan “Antara” oleh orang PKI.   “Antara” kemudian berganti nama menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional Antara.   Dari YKBN menjadi LKBN.

Soebagio I.N adalah penulis Handal , wartawan tiga jaman yang banyak sekali produk tulisan dan buku-bukunya.   Beliau adalah “kamus berjalan” dari sejarah  Pers di Indonesia.

Yang sangat mengharukan adalah kedekatan beliau dengan Ayah saya.   Begitu dekatnya, sehingga pada tahun 1964 menjelang G30S PKI,  ketika Ayah saya di “pecat” oleh Direksi Antara yang baru saja dikuasai oleh orang-orang PKI,  maka  Om Bagio lah yang dengan susah payah membantu membawakan jatah beras pembagian  yang masih bisa diperoleh sementara waktu dengan membawanya  pakai  ”beca” dari Pasar Baru, kantor Antara sampai ke Bendungan hilir, kediaman Ayah saya.

Lebih terharu lagi, ketika petang hari itu saya pulang kerumah, ternyata sudah ada surat dari beliau untuk saya.   Bagaimana saya tidak terharu membaca didepan amplop berwarna coklat tertulis disitu : Kepada Yth, Bapak Chappy Hakim.     Seorang yang saya hormati, dengan usia 85 tahun menuliskan nama saya dengan awalan “Bapak”.    Lebih-lebih lagi membaca selembar kertas putih bersih  berisi tulisan beliau yang menggunakan mesin ketik jaman dulu.   Tulisan dari mesin ketik yang “pita” nya kelihatan sudah harus diganti,  beberapa huruf terlihat di Tip Ex karena salah ketik, membuat saya terbayang pula, puluhan tahun lalu, dengan kebiasaan Ayah saya ketika menulis dirumah dengan mesin ketik, yang kira-kira sama umurnya  dengan yang kini masih digunakan oleh Om Bagio.

Berikut, saya ketik ulang disini isi dari surat Om Bagio, yang membuat saya tidak dapat menghindar dari keluarnya linangan air mata.   Terbayang wajah dan sosok Om Bagio dan tentu saja sosok almarhum Ayah saya tercinta.

Bali View 28 Desember 2009.-

Bung CHAPPY HAKIM yang dikasihi ALLAH,

Assalamu’ alaikum w.w.

Semoga kedamaian, rahmat dan barokah Tuhan Yang Maha Agung senantiasa dilimpahkan kepada Anda sekeluarga. A m i e n ,-

Kemudian daripada itu, saya beritahukan, bahwa saya telah menerima hadiah buku dari Anda.   Saya ucapkan berjuta terimakasih; dan semoga GUSTI Yang Maha Agung membalas budi kebaikan Anda itu berlipat ganda.  A m i e n ,-

Terus terang saja, saya ikut bangga, ikut gembira, ikut senang, melihat dinasti HAKIM (keturunan Bung HAKIM) semuanya sukses di bidang masing-masing.

Bung HAKIM, orang pertama di ANTARA yang memeriksa berita bikinan saya (di masa revolusi, 1946)   dalam perkembangannya bukan saja merupakan guru jurnalistik bagi saya ; tetapi juga sekaligus saudara tua (kakak), sahabat dan teman seperjuangan di ANTARA dalam melawan usaha kaum komunis menguasai kantor berita itu.

Saya masih ingat betul, sewaktu Anda baru saja lahir, Bung HAKIM minta pamit dari kantor masih jam 11-an, dengan alasan “ingin melihat anak yang baru lahir”.   Sedang kediamannya kebetulan berhadapan  dengan asrama kami (Ikatan Pelajar Indonesia) di Jl. Pakuningratan 28 Yogyakarta (yang kala itu menjadi Ibukota Republik Indonesia).

Saya waktu itu masih berusia 22 tahun, masih perjaka ;  dan kini sudah gaek, tuwek, elek.   Anak 6 orang, cucu 10 orang ; cicit 4 orang; tersebar di Malaysia, Los Angeles dan juga di Manila.   Tentu saja ada juga yang tetap tinggal di Jakarta.

Di rumah kami tinggal berdua; nonton TV, baca koran, sholat berjemaah semuanya berdua.

Akhir kemudiannya, ingin saya menganjurkan ; hendaknya Bung CHAPPY mengrimkan tiap hasil karya tulis-nya minimum satu ex. ke Perpustakaan Nasional Jl. Salemba Raya JAKARTA Pusat; dan juga ke Perpustakaan Islam di Yogyakarta.

Presiden bisa mati; Pemerintahan bisa berganti, tetapi bila hasil karya Anda sudah disitu, insya’ ALLAH akan bisa ditelusuri oleh generasi berikutnya.

Lagi sekali; berjuta terimakasih atas kebaikan dan perhatian.    Mari kita saling mendoakan yang baik-baik, dan dilestarikan silaturrahmi Bani HAKIM dengan kami.   Insya’ ALLAH.   Salam hormat kami berdua untuk Bu CHAPPY dan juga untuk Anda sendiri.

Tambahan : Dhik PARNI HADI (RRI) juga sok datang ke rumah dan bercerita tentang Anda.

Itulah isi tulisan Om Bagio, Sahabat Almarhum Ayah Saya.   Betapa beliau mempunyai perhatian yang begitu besar terhadap saya, anak sahabatnya.   Om Bagio dan Tante Bagio,  begitu saya sering menyapanya, benar-benar teman sejati orang tua saya, teman sejati keluarga saya.   Makasih banyak Om, salam hormat kehadapan Om dan Tante Bagio !

Jakarta 28 Desember 2009

Tags

Related Articles

7 thoughts on “Sahabat Almarhum Ayah Saya”

  1. Dari sekian banyak membaca Tulisan singkat Karya Mr.CH, kadang Saya tersenyum..kalau boleh ketawa huaa..ha..ha..ha…( karena Mr.CH bukan komedian Saya sungkan), tetapi Anda punya jiwa Komedian, dengan bahasa yang ringan juga tidak merasa Riskan memakai bahasa Gaul anak muda..Tetapi kali ini dengan membaca Kisah Anda dengan Om Soebagio, saya ikut terhanyut..seperti lantunan sexaphone , yang menurut Bapak seperti Buluh Perindu.. Memang betul, Hasil Karya tidak akan pernah di lupakan seperti halnya Presiden dan Pemerintahan yang bisa di ganti…Salut n Salut…Go on Mr.CH…

  2. Tambahan dari Saya, sebelumnyaminta maaf sebesar-besarnya..Beberapa Karya Tulis Anda, Saya publikasikan lewat Face Book Saya. Tapi tetap Tercantum Karya Mr.CH…Tujuan Saya hanya, supaya jadi Motifasi Sahabat dan Teman Saya, yaitu; Walau dengan Karya Tulis Singkat sudah bisa jadi Karya yang bisa di nikmati orang lain. Terimakasih…

  3. Sebenarnya saya juga ingin seperti Mr.CH, dari tulisan sederhana dan unuk-unek tentang tanggapan kejadian yang terjadi di sekitar kita bisa di baca oleh orang selain kita..kalau boleh saya juga ingin menyumbang ide gila yang tanpa survey atau data, dan asal-asalan jadi untuk Mr.CH..kalau berkenan bisa Mr.CH kembangkan lagi, karena saya kurang pendidikan dan pengetahuan tentang tulis menulis. Tapi pesan Mr.CH…membaca adalah keinginan,sedang menulis adalah ketrampilan, dan ketrampilan bisa kita asah. Sebenarnya saya juga ingi join to Kompasiana, tapi nggak PD…
    PALM YANG KELABU
    Surabaya 31 DESEMBER 2009

    Waktu itu saya makan di sebuah warung kecil di jl.ronggolawe daerah darmo,surabaya.
    Tanpa sengaja saya melihat sebuah pohon palm yang aneh, warnanya perak, atau abu-abu.
    Yaitu di halaman Yayasan Arjuna.Sekilas saya pikir palm itu adalah pohon mainan dengan
    terbuat dari plastik yang banyak di jual di toko-toko. Saya takjub dan berpikir,
    berapa harga pohon palm mainan sebesar itu?.. karena tingginya sekitar empat meter,
    dengan diameter mungkin lebih dari satu meter. Sorry daun palm itu berbentuk telapak
    tangan, entah jenis palm apa itu, saya tidak tahu, karena saya bukan pecinta palm atau
    tubuhan jenis lain.
    Karena keheranan, maka saya perhatikan dengan seksama…itu adalah pohon beneran…
    dari serabut di sela-sela pelepah tangkai daun, kemudian bekas tangkai bunga atau
    buahnya begitu sempurna untuk ditiru oleh pembuat pohon sintetis atau pohon hias.
    Terbesit lagi dalam otakku, mungkin daunnya di cat….tapi dengan cara apa mengecat
    daun pohon setinggi itu..tangga?..imposibel!..atau tangkai daun di cabut dulu kemudian
    di cat lantas di pasang lagi?..Repot sekali, walau cuma bikin sensasi dengan ingin
    tampil beda, tapi jalan depan kantor adalah jalan kecil sehingga tidak banyak yang lewat
    apalagi memperhatikan pohon nyeneh itu..
    Saya berpikir lagi, kalau di cat pastilah akan timbul retak-retak, entah karena di go-
    yang angin sehingga daun itu bergerak dan tertekuk maka akan terjadi lipatan-lipatan yang
    membuat cat pada daun itu tidak sempurna lagi.
    Karena penasaran, saya mendekati dan memperhatikan dengan seksama dari luar pagar kantor
    Yayasan tersebut. Ya..itu asli, daun mudanya masih ada bulu-bulunya yang juga abu-abu..
    Terus terang saja palm dengan daun seperti telapak tangan dengan besar mungkin lebih besar
    dan tinggi lagi, saya perhah lihat. Tapi yang bewarna abu-abu seperti perak ini, baru per-
    tama. Saya tidak tahu palm itu spesies baru atau sudah lama, atau aku-nya saja yang
    memang nggak pernah keluar daerah..
    Keanehan itu membuat saya berpikir..disamping membandingkan pohon-pohon sekitarnya
    adalah hijau dan saya masih ingat pelajaran biologi waktu SMP,zat hijau daun atau klorofil
    adalah terkandung dalam hampir semua daun, apalagi jenis pohon besar yang membutuhkan proses
    fotosintesis atau mengolah makanan dengan menggunakan sinar matahari pada daun. Tapi palm
    itu sepertinya tidak butuh proses fotosintesis..? karena seperti tidak punya klorofil..
    Atau palm itu mutasi…?
    Dalam otakku langsung terhubung pada film “Avatar”-nya James Cameron. Di situ diceritakan
    manusia sudah pada teknologi canggih sehingga sudah pula menemukan planet di galaksi lain
    yang kemudian planet itu di manai dengan seenaknya adalah Pandora. Planet itu masihlah
    Prawan dengan udara yang tidak cocok dengan manusia. Tetapi tumbuhan disitu sangat luar biasa.
    Sepeti masih hidup dan punya jiwa.Hewan juga punya antena yang bisa di satukan dengan antena
    pada Bansa Na’vi yaitu manusia-nya planet itu. Konektor itu seperti kabel USB yang kita kenal.
    Saya bepikir, ide James cameron mengimajinasikan semua tumbuhan dan mahlug di planet itu mungkin
    sama dengan bumi kita dahulu. masih Prawan..dan manusianya juga tinggi dan besar seperti bangsa
    Na’vi itu juga. Saya jadi ingat, pernah dengar tentang makam para Nabi yang panjangnya hampir
    empat meter. Mendengar kata Nabi hampir mirip dengan Na’vi…apa kata Nabi di plesetkan oleh
    James..? tapi ide ceritanya brilian..
    Setelah melihat film itu,otak saya langsung merangkum dan pesan apa yang ingin di sampaikan
    pada film itu.. Jelas saat avatar yang di kendalikan Jake Sully yang bicara pada pohon IMWA
    atau plesetan lagi I aM deWA,meminta untuk melihat dalam memori Grece, yaitu lihatlah bumi
    yang tidak ada hijau lagi, mereka(manusia) sudah membunuh ibu(bumi pertiwi) kami…
    Pesan itulah yang menggugah hati saya..kita memang tanpa sadar membunuh pelan-pelan bumi ini
    dengan mengekploitasi tanpa peduli dampaknya dan tidak ada tindakan yang berarti untuk memper-
    baikinya..Memang sudah di gembar-gemborkan Global Warming, Safe The World dengan program
    recicle-nya…tapi tetap saja hutan di gunduli..Apa kita lupa proses fotosintesis tubuhan?..
    Saya kira hampir seluruh manusia tahu,tumbuhanlah yang memproses carbondioksida atau gas lain
    yang merugikan manusia menjadi oksigen yang kita butuhkan untuk napas kita?
    Kembali ke film avatar, di situ di gambarkan manusia dengan brutalnya meratakan hutan. Sedang
    manusia di situ adalah tamu yang tak di undang.Saya kembali berpikir, punya moralkah kita mem-
    porak-porandakan tempat yang bukan milik kita?..Seperti Perampok, bahkan lebih..ingin merampas
    planet itu yang kemudian di ekploitasi lagi sampai mati lagi..Samar memang di film itu tergam-
    barkan akan menekploitasi yaitu memburu batu yang di bumi harganya sangat mahal…
    Banyak sudah film yang menceritakan tentang bencana. Yang paling kontrofersional adalah 2012.
    Di situ di ceritakan bumi sedang di ambang kehancuran. Di awali mendidihnya air di laboratotium
    India menandakan inti bumi naik. Karena udara di atah permukaan tanah juga panas, maka efeknya
    Inti bumi bertambah panas, yang kemudian mengerogoti lapisan tanah menjadi Magma juga.Artinya,
    lapisan tanah akan tipis..saya jadi membayangkan waktu saya memanggang sepotong keju…bagian
    bawah yang kena panas meleleh kemudian semua yang semula padat jadi cair…mungkin begitulah
    gambaran sederhananya.Dan karena lapisan tanah tipis,maka labil dan mudah terjadi gempa. Ingat
    suatu suhu panas ingin keluar dari suatu ruang yang tertutup, alias meledak…Jadi Magma medo-
    rong lapisan tanah dan tentunya yang paling tipis akan cepat retak atau bergeser. Ngeri juga
    Indonesia adalah kepulauan, di banding dengan Amerika yang bertengger pada bentangan benua,
    maka bila itu terjadi Indonesia atau negara kepulauan kecil lain,lebih cepat musnahnya……
    Padahal, di film 2012 di perlihatkan betapa negri paman sam itu porak poranda oleh gempa yang
    tidak ada yang mengukur lagi berapa besaran dalam skala rickter..
    Dari ide sederhana seperti sepotong keju yang di panggang yang kemudian atasnya di sempot api,
    maka akan cepat meleleh. Kemudian percobaan sebaliknya, yaitu memanggang sepotong keju dan
    atasnya di tumpangi secuil es batu..hasilnya akan beda…mau coba?..beli keju sendiri ya…
    Dari situ saya merenung walau sekedar merenung…sehingga tiada hasil yang pasti..nglamun boz..
    Sebenarnya film-film itu dibuat, selain sebagai bisnis adalah menyampaikan pesan secara global.
    Tapi kebanyakan menilai dengan negatif, seperti yang di tuai 2012. Cerita film sebagian adalah
    fiksi atau nggak terjadi..di dramatisir atau di besar-besarkan. Tapi pada dasarnya adalah ada
    pesan yang terkandung. Memang kita harus jeli. Kadang penilaian orang pada satu film yang sama,
    yaitu persepsi yang beda.Dari persepsi atau pandangan yang beda itu muncul pro dan kontra…
    ah.. aku nggak mau bicara politik..karena saya sama sekali minim kalau bicara politik..
    Kembali ke diri saya,saya bertanya,bumi ini memang sudah kelabu, tidak jelas lagi masa depan-
    nya seperti apa.Yang pasti ada awal pasti ada akhir. Tapi tidak bisakah di rawat sehingga men-
    jadi lebih awet seperti hal-nya barang atau tubuh kita, bila di rawat pastilah awet muda dan
    bebas dari penyakit, sehingga hidup lebih lama. Ingat,anak cucu kita yang kita lahirkan.
    Mereka juga ingin merasakan hidup di bumi yang nyaman. Jangan seperti film 2012 yang tiba-tiba
    kiamat..
    Kembali ke pohon palm tadi, yang menjadi abu-abu.Kalau semua tumbuhan mutasi menjadi bewarna perak
    pastilah seperti kaca yang kemudian memantulkan cahaya matahari seperti gedung-gedung pencakar
    langit yang ada.Bila begitu, betapa sangat panasnya lagi bumi ini?..
    Mungkin kita langsung terbakar…
    Inalillahi wa ina ilahi roji’un….
    Selanjutnya apa yang akan kita perbuat supaya itu tidak terjadi?..tergantung pada anda sendiri.
    Melakukan hal kecil yang baik, akan memancing KEBIASAAN, yang kemudian kita akan mulai melakukan
    hal yang besar.Dan itu akan menjadi KEBIASAAN juga..

    31 Desember 2009
    ajay.santoso@yahoo.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close