ArticleEducationFlightFlight CommercialLife

Reportase Bedah Buku SPJP

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (purn) Chappy Hakim menilai, para penerbang Indonesia terlalu sombong untuk menulis buku, sehingga buku-buku tentang penerbangan sangat minim.

“Padahal pengalaman para penerbang ini layak dibagi kepada masyarakat umum,” kata Chappy saat berbicara pada peluncuran buku terbarunya, “Saya Pengen Jadi Pilot” di Jakarta, Rabu (14/12/2011).

Bertindak selaku pembahas buku pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman dan Beny Adrian, managing editor Majalah Angkasa, dengan moderator Tascha Liudmila yang juga editor buku.

“Kenapa judulnya agak gaul yakni ‘Saya Pengen Jadi Pilot’, sebab saya merasa penerbang terlalu sombong untuk menulis buku, jarang bikin buku. Hanya satu penerbang yang saya kenal menulis buku, yaitu Kapten Pilot Gunarjo. Dia menulis tentang pengalaman terbang dengan gaya bertutur seperti kita ngobrol,” kata Chappy. Karena Kapten Gunarjo itulah, kata Chappy, ia bertekad menulis buku tentang penerbangan.

“Saya Pengen Jadi Pilot” merupakan buku ke-14 Chappy. Ia mengaku senang dengan angka “4” sehingga buku itupun diluncurkan hari ini tanggal 14 yang ada unsur angka “4”. “Saya bersahabat dengan angka 4, saya tinggal di jalan Segara 4, pernah jadi komandan skuadron 31 yang ke-14, saya jadi KSAU pun yang ke-14 dengan bintang 4. Saat jadi KSAU saya tinggal di jalan Wijaya 13 no 31. Dan ini buku saya yang ke-14,” ungkap Chappy.

Chappy menilai bukanya ini mendapat respon yang berbeda dibanding buku-buku sebelumnya. “Ini semacam diary penerbangan. Saya upayakan alurnya berdasarkan timeline atau kronologis,” katanya.

Beny Adrian menilai buku Chappy ingin memposisikan dirinya sebagai penerbang sipil. “Yang saya salut bahwa Pak Chappy berani cerita ‘kebodohannya’ sendiri, misalnya mengungkapkan kesalahan dalam penerbanngan, dimana biasanya penerbang menyebunyikan kesalahan,” katanya.

Beny menyebut misalnya untuk solo flight Chappy bukanlah yang “the best”. Juga pesawat yang hampir menghantam Stasiun Ponorogo, disebutkan dalam buku tersebut. “Ada sentuhan kemanusiaan yang bisa mendorong anak-anak muda kita bahwa penerbangan itu sangat ketat dan disiplin, siswa penerbang harus patuh pada aturan. Dunia penerbangan tetap disiplin tinggi yang tidak mentoleransi kesalahan sedikitpun,” kata Beny.

“Pak Chappy menceritakan sesuatu yang tidak biasa dalam penerbangan, dia berani menurunkan kelasnya, padahal reputasi dia sebagai mantan KSAU,” imbuh Beny.

Arief Rahman menilai, buku Chappy cocok dibaca anak-anak muda, termasuk siswa. Bahasa tutur Chappy menurutnya mudah dipahami, apalagi buku tersebut disertai gambar yang menarik. “Selain cita-cita, ada pengalaman Pak Chappy ditambah pendidikan yang ditekuni dengan baik,” katanya.

Jakarta 14 Desember 2011
Tulisan Pepih Nugraha di Kompas.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close