Bila anda seorang yang banyak bepergian, terutama menggunakan pesawat terbang, maka pasti pernah mengalami perlakuan yang sangat menjengkelkan dari petugas Aviation Security (Avsec). Tunggu , hendaknya kita harus dapat mengesampingkan terlebih dahulu rasa jengkel terhadap para petugas Avsec di Dunia Penerbangan. Kita harus bersukur karena ada petugas Avsec yang menjalankan tugasnya, sehingga perjalanan atau penerbangan kita dapat berlangsung aman. Semua penumpang telah diperiksa dengan teliti, tidak ada teroris yang dapat lolos masuk pesawat. Masalahnya adalah, terkadang petugas Avsec bertindak yang agak “lebay”, seakan kita para penumpang belum apa-apa sudah dianggap sebagai “teroris”. Justru pada saat mereka menganggap bahwa yang melewati pintu pemeriksaannya adalah orang baik-baik saja, maka disitulah sebenarnya peluang “teroris” untuk dapat lolos dari pemeriksaan. Misi dan tugas para petugas Avsec memang berlawanan 180 derajat dengan “misi dan tugas” dari para pelancong.

Pada tahun 2002 hanya satu tahun setelah kejadian tragedi 911, saya dinas ke Amerika Serikat. Dikala itu bepergian di Amerika sangat amat menjengkelkan terutama disaat masuk ataupun keluar dari airport. Tidak perdulli pada penerbangan internasional maupun atau lebih-lebih penerbangan domestik. Pemeriksaan yang amat sangat “berlebihan” terasa menjadi sangat tidak nyaman. Sebenarnya saya ditawari juga untuk didampingi oleh petugas protokol dari pihak tuan rumah yang sangat menyadari betapa tidak nyamannya melewati pemeriksaan “security” di airport, tetapi saya tolak dengan halus dengan maksud ingin juga mengalami sendiri seberapa “menjengkelkannya” pemeriksaan dilakukan seperti yang banyak diceritakan orang. Saya sudah menyiapkan diri untuk melewati pintu Avsec sebagai seorang yang akan menjalankan “perpeloncoan” agar tidak menjadi sakit hati.

Saya siapkan diri untuk “play the game”, nikmati saja ! Ternyata benar , karena saat lewat pintu pemeriksaan alarm berbunyi, saya langsung di hardik dengan sangat kasar disuruh masuk ruang pemeriksaan. Dibentak-bentak, diperintahkan angkat tangan sebahu sementara diperiksa seluruh badan. Karena cukup lama pemeriksaannya, tangan saya pegel, capek, pelan-pelan saya turunkan tangan saya. Langsung dibentak keras, siapa yang suruh tangan kamu turun? Saya belum suruh turunkan tangan hardiknya. Pelahan saya angkat lagi tangan saya ke bahu, betul-betul “pegel”, tetapi saya sudah siap untuk tidak marah dengan mengingat-ingat bahwa ini perpeloncoan. Begitu tangan saya “dengan agak susah payah” mencapai lagi tinggi sebahu, sang petugas langsung menghardik lagi dengan nada yang lebih keras lagi “sudah, sekarang boleh turun” bentaknya. Saya pun berterimakasih seraya tergelak tawa didalam hati, wah ini benar-benar perpeloncoan, benar-benar saya di “kerjain”.

Bila tidak menyiapkan diri untuk siap dipelonco, saya tidak bisa membayangkan betapa saya akan “marah” sekali karena merasa di “permainkan”. Benar-benar ini sebuah perlakuan kasar yang sangat tidak simpatik. Kesimpulannya , betapa “kurang ajar” nya petugas Avsec kita di Indonesia, harus diakui bahwa itu belum “apa-apa” nya bila dibanding dengan petugas Avsec negar-negara lain terutama Amerika Serikat beberapa saat setelah tragedi 911.  Alhamdullilah.