Article

Pesawat China Air dan Turbulensi

Boeing 747-400 China Airlines
Boeing 747-400 China Airlines

Pada Sabtu tanggal 20 September 2008, pesawat Boeing 747 – 400 dari China Air dengan rute dari Taipei ke Denpasar Bali, mengalami guncangan hebat pada ketinggian 30.000 kaki di atas teluk Makassar sekitar 30 menit sebelum landing, saat melewati ruang hampa udara. Pesawat yang membawa 338 penumpang dengan awak pesawat sebannyak 19 orang itu dapat mendarat dengan selamat di Denpasar Bali pada pukul 1409 wita, walaupun ada beberapa penumpang dan awak pesawat yang menjadi korban. Pengumuman dari pejabat setempat menyebutkan bahwa 11 orang dinyatakan cedera serius seperti patah tulang tangan dan kaki serta tulang belakang, sedangkan satu orang dalam keadaan krisis.

Sebagian besar media massa memang mengatakan pesawat mengalami guncangan saat melalui ruang hampa udara. Hal ini kurang tepat , mungkin lebih tepat dikatakan guncangan dialami pada saat pesawat melewati kolom udara yang didalamnya terdapat turbulensi.

Turbulensi adalah kondisi dimana dalam kolom udara terjadi benturan masa udara yang datang dengan kecepatan yang cukup tinggi dan berasal dari berbagai arah yang tidak beraturan. Ada empat macam turbulensi yaitu yang dikenal dengan : Jet Stream, Clear Air Turbulence, Wake turbulence dan Windshear.

Jet Stream adalah alur dari arus udara yang mengalir dengan kecepatan tinggi seperti layaknya sebuah sungai yang terjadi sebagai akibat dari fenomena alam pada pertemuan Udara panas dengan Udara dingin. Jet Stream dapat mengakibatkan pesawat terbang menjadi lebih cepat dan dikenal sebagai “tail wind” dan sebaliknya dapat menghambat kecepatan pesawat terbang yang dikenal sebagai “head wind”.

Didalam atau disekitar Jet Stream acap kali tebentuk kantung udara atau “air pocket”, yaitu kolom udara yang terdiri dari bertemunya aliran udara dari arah yang tidak beraturan dengan kecepatan tinggi sehingga menghasilkan dorongan udara yang kuat ke bawah, dikenal dengan “down draft” atau sebaliknya dorongan yang kuat keatas atau “up drfat”. Inilah yang disebut dengan CAT atau Clear Air Turbulence. CAT pada umumnya terjadi pada ketinggian antara 23.000 kaki sampai dengan 39.000 kaki, tepat di area tinggi jelajah ekonomis pesawat terbang komersial. CAT ini juga dapat terjadi di area sekitar pegunungan pada ketinggian tertentu yang dikenal dengan istilah “edie”

Jenis lainnya adalah apa yang dikenal dengan “wake turbulence” yaitu turbulensi yang terjadi dibelakang pesawat terbang yang sedang terbang. Ini mirip dengan alur ombak dibelakang kapal yang kerap ditimbulkan oleh kapal laut yang tengah melintas.

Terakhir adalah apa yang dikenal dengan “windshear” yaitu turbulensi yang terjadi di dekat permukaan tanah sebagai akibat dari cuaca yang sangat buruk yang disertai dengan kilat dan petir.

Melihat kembali pada apa yang dialami oleh pesawat China Air, maka kemungkinan besar pesawat B-747-400 tersebut terjebak masuk dalam CAT atau Clear Air Turbulence. Sesuai dengan namanya yaitu turbulensi yang terjadi pada udara yang “clear” atau bersih. Bersih dalam hal ini adalah tidak ada awan. Disinilah letaknya kesulitan untuk dapat mengetahui posisi dari CAT itu. CAT tidak dapat dilihat oleh mata telanjang dan juga tidak dapat di deteksi oleh radar cuaca konvensional yang ada dalam pesawat. Kesimpulannya, penerbang tidak akan tahu kapan persis nya pesawat yang dikemudikannya akan masuk ke CAT ini.

Itu sebabnya, ada peraturan yang sangat ketat diberlakukan bagi penerbang, begitu dia duduk di kokpit, maka yang pertamakali yang harus dilakukannya adalah “fasten safety belt”. Dalam “check list, normal procedures” penerbang, tercantum disitu bahwa mereka baru bisa membuka “safety belt” nya setelah pesawat di parkir dengan aman di darat. Itu juga sebab nya apabila kita bepergian dengan pesawat, selalu ada anjuran dari pilot atau pramugari agar senantiasa mengenakan sabuk pengaman anda sepanjang anda duduk dikursi, walaupun tanda peringatan untuk memakai sabuk pengaman sudah dimatikan.

Kecelakaan yang cukup fatal yang tercatat dalam sejarah penerbangan dalam hal pesawat mengalami turbulensi adalah pada tahun 1997 bulan Desember yaitu Flight 826 dari Boeing 747-100 dalam penerbangan dari Tokyo ke Honolulu pada ketinggian 31.000 feet. Pesawat dapat kembali dengan selamat ke Tokyo dengan beberapa orang cedera dan satu orang meninggal dunia.

Mengerikan ? Saya dapat katakan disini “tidak”. Pesawat udara sampai sekarang masih tercatat sebagai moda angkutan yang paling aman dan paling efisien.

Kembali dengan masalah CAT, sebenarnya keberadaan CAT dapat dideteksi oleh system satelit yang antara lain diselenggarakan oleh NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) dan NESDIS (National Environmental Satelite, Data and Information Service). Mereka meberikan layanan 24 jam prakiraan cuaca antara lin untuk penrbangan termasuk keberadaan CAT di seluruh dunia, dengan real time.

Design pesawat dengan bentuk yang aerodinamis memang bertujuan antara lain untuk dapat memberikan toleransi dalam menghadapi turbulensi di udara. Rancangan tersebut antara lain juga terdapat dalam konstruksi sayap pesawat yang memilki factor fleksibilitas yang memungkinkan pesawat terbang bergerak seperti elastis nya sayap seekor burung.

Penerbang sudah pasti dalam menyusun rencana terbang nya , sudah termasuk didalamnya mempertimbangkan keadaan cuaca dari rute yang akan dilalui nya. Tidak ada penerbang yang akan dengan sengaja masuk ke area turbulensi.

Para penumpang dapat dan harus mengandalkan peralatan keselamatan yang tersedia di pesawat, terutama sekali menggunakan sabuk pengaman sesuai dengan aturan yang berlaku. Khusus mengenai hal ini ada beberapa catatan yang dapat disajikan disini yaitu : Sejak tahun 1981 sampai dengan tahun 1997 terdapat 324 laporan tentang kecelakaan pesawat sebagai akibat dari CAT. Dari tiga orang yang meninggal, dilaporkan ternyata dua diantaranya tidak menggunakan sabuk pengaman. Dari 80 orang yang cedera serius, sebanyak 73 orang ternyata tidak menggunakan sabuk pengaman.

Kesimpulan dari seluruh uraian ini adalah, kita tidak usah kemudian menjadi takut terbang. Sekali lagi saya tekankan disini bahwa , sampai dengan saat ini, selama semua aturan yang berlaku dilaksanakan dengan penuh disiplin maka pesawat terbang masih merupakan moda transportasi yang paling aman dan juga paling efisien. Selamat Terbang !

Dimuat di harian Sindo, 5 November 2007

Related Articles

1 thought on “Pesawat China Air dan Turbulensi”

  1. Pak Chappy, terima kasih atas tulisannya yg begitu bagus.
    Kebetulan saya lagi blog-hopping, dan tdk sengaja terdampar di website Bapak :).

    Dulu saya org yg sangat suka terbang dengan pesawat. Sampai pada suatu kejadian saya naik pesawat rute Spore-Jakarta dan mengalami turbulensi hebat (kayaknya klo dr saya baca disini, namanya windshear), yg dikarenakan cuaca buruk, hujan lebat dan petir. Sekitar 1.5 jam penerbangan, kira2 1 jam kami mengalami turbulensi tsb. Sejak saat itu saya jd spt trauma dgn turbulensi. Rasanya selalu deg2an, takut kalau2 sampai mengalami lagi. Bahkan utk penerbangan panjang, saya sampai tdk bs tidur.

    Alhamdulillah tulisan Bapak disini cukup menjelaskan dengan baik dan detil ttg turbulensi itu, dan mudah2an saya jadi tdk was-was/takut lagi dan menikmati kembali setiap penerbangan saya dengan pesawat udara.

    Terima kasih ya Pak, sukses selalu. Ohya, salam buat Tascha ya, kebetulan kami berteman sewaktu dia di CosmoGIRL! dulu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.