Ada beberapa anekdot yang membahas tentang perang, antara lain adalah bahwa Prajurit, Tentara atau anggota Angkatan Perang tugasnya berperang dengan sasaran akhir adalah menuju ke perdamaian, sedangkan Politikus berkreasi dalam kedamaian untuk menciptakan konflik yang menuju peperangan. Prajurit yang mengalami penderitaan saat perang dan atau dalam latihan perang selalu berusaha menggalang hubungan baik dan persahabatan antar angkatan perang negara-negara lain.

Tujuannya adalah agar tidak merasakan penderitaan karena terjadinya perang. Politkus yang tidak pernah mengalami penderitaan perang atau latihan perang akan senantiasa berkreasi dengan konflik, karena pada akhirnya bila perang terjadi,yang maju bukan mereka akan tetapi para prajurit. Politikus pada umumnya tidak atau belum pernah merasakan penderitaan saat latihan perang apalagi pada saat perang. Itu sebenarnya adalah sekedar anekdot yang sering muncul sebagai gurauan saja, yaitu tentang Tentara yang cinta damai dan politikus yang cinta konflik.

Banyak untold story, kisah yang tidak sempat terceritakan tentang bagaimana para prajurit di medan laga berhadapan dengan musuh-musuhnya.

Salah satu diantaranya adalah kisah dua Pilot, Letnan Charlie Brown dan Letnan Franz Stigler pada perang dunia kedua yang lalu. Hanya 5 hari menjelang hari natal di tahun 1943, Letnan Charlie Brown Pilot pesawat pembom B-17 Flying Fortress dari satuan Grup Bomber 379, divisi Udara Angkatan Darat Amerika Serikat yang berpangkalan di Lanud Angkatan Udara RAF Kimbolton Inggris melaksanakan misi pemboman di atas kota Bremen, Jerman. Pesawat B-17 Charlie Brown tertembak dan rusak parah termasuk kompas penunjuk arah pesawatnya.

Dengan kondisi pesawat yang compang camping akibat tembakan pesawat musuh Charlie Brown tetap berusaha dengan susah payah menerbangkan pesawatnya untuk dapat kembali ke Inggris. Dalam perjalanan yang tersesat itu, dia dikejar oleh pesawat pemburu Jerman Messerschmitt Bf 109 yang diterbangkan oleh Pilot Luftwafe , Angkatan Udara Jerman jagoan perang udara yang telah menembak jatuh 28 pesawat musuh, Letnan Franz Stigler.

Setelah mendekat ke pesawat B-17, Letnan Franz melihat dengan jelas betapa pesawat penuh dengan kerusakan parah akibat tembakan dan awak juru tembak yang berada di ekor pesawat terlihat bermandikan darah , sementara wajah sang Pilot B-17 kelihatan pucat pasi. Itu semua membuat rasa iba muncul di hati Sang Letnan Franz Stigler. Dia membatalkan niat untuk menarik trigger senjata untuk menembak jatuh pesawat B-17 yang tengah tidak berdaya itu, dan jsutru membimbing B-17 untuk berbalik arah menuju pantai yang mendekat ke arah Inggris daratan.

Pesawat B-17 Charlie Brown dengan banyak kesulitan akhirnya berhasil melakukan pendaratan darurat di landasan terdekat di pantai daratan Inggris dengan aman. Franz Stigler kembali ke Pangkalannya dan melaporkan telah melaksanakan tugas menembak jatuh pesawat B-17 yang tersesat terpisah dari formasi induknya karena telah tertambak. Franz tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada siapapun. Demikian pula Charlie Brown dan anggota kru pesawat pembom B-17 tidak pernah menceritakan kejadian yang menyelamatkan jiwa mereka.

Seusai perang, Charlie Brown berusaha keras mencari siapa gerangan penerbang Jerman yang telah menyelamatkan jiwanya itu. 40 tahun setelah kejadian tragis tersebut, dalam sebuah reuni para Pilot perang dunia The Eagle Gathering” di Amerika Serikat, Charlie Brown berhasil bertemu muka dengan penyelamatnya Franz Stigler. Keduanya tidak kuasa menahan air mata yang menitik sebagai refleksi rasa kemanusiaan yang jauh lebih tinggi dari rasa permusuhan mereka dipeperangan. Keduanya telah meninggal dunia di tahun yang sama 2008, Letnan Franz Stigler mencapai usia 92 tahun sementara Letnan Charlie Brown wafat di usia 86 tahun.

Baru pada bulan Desember tahun 2012, telah terbit sebuah buku berjudul “A Higher Call” tulisan dari Adam Makos, yang menceritakan tentang kedua Pilot hebat itu.