Rabu tanggal 17 Mei, 2017 pukul 11.00 WIB.   Empat orang anggota TNI Angkatan Darat tewas dan delapan orang anggota lainnya terluka akibat kecelakaan dalam latihan tembak yang terjadi saat latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen Alfret Denny Tuejeh membenarkan informasi tersebut. (Kompas.com.)   Kita semua turut berduka yang sangat mendalam atas kecelakaan naas ini. Berharap semoga tidak akan terjadi lagi kecelakaan sejenis diwaktu mendatang.

Apa gerangan yang menjadi penyebab terjadi kecelakaan tersebut, tentu saja kita harus menunggu hasil investigasi kecelakaan dari unsur TNI AD yang sedang bekerja keras untuk itu.   Mengamati kejadian yang sangat menyedihkan ini tentu saja memunculkan banyak pertanyaan dikalangan orang awam, mengapa hal tersebut bisa terjadi.   Agar tidak berkembang banyak spekulasi yang melebar jauh dari realita yang ada, maka patut kita cermati terlebih dahulu beberapa catatan berikut ini.   Latihan yang sedang berlangsung tersebut dilakukan di Pulau Natuna, pertanyaan yang timbul kemudian adalah mengapa dilakukan di Pulau Natuna?.  

Pulau Natuna terletak dikawasan jajaran pulau terluar diutara Indonesia yang sangat berdekatan dengan Selat Malaka.   Pulau Natuna berada dalam gugus perbatasan negara yang strategis sekaligus kritis. Sejarah dunia mencatat bahwa sebagian besar dari penyebab perang yang terjadi adalah sebagai akibat dari sengketa perbatasan atau “border dispute”.   Itulah yang dapat menjelaskan kepada kita semua , bahwa angkatan perang sebuah negara akan memprioritaskan sistem pertahanan keamanan negaranya pada kawasan perbatasan yang kritis.   Itulah pula yang menyebabkan setiap angkatan perang sebuah negara akan selalu melakukan latihan-latihan perang pada daerah perbatasan kritis nya.   Sekaligus didalamnya pasti ada unsur tidak langsung dari pesan misi diplomatik yang mengandung makna “deterent” dalam konteks “show of force“.   Jadi unsur penting dipilihnya Natuna sebagai daerah latihan adalah, karena memang sangat logis dan masuk akal bahwa Angkatan Perang harus “familiar” bermanuver di daerah “critical border“.

Berikutnya, bahwa latihan yang sedang berlangsung dan kemudian memakan korban adalah merupakan personil latihan dari satuan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD.   Satuan ini merupakan sub-sub bagian dari sistem pertahanan udara nasional.   Sebuah kegiatan latihan yang menggunakan kawasan udara sebagai daerah pergerakannya.   Untuk diketahui bersama wilayah udara yang digunakan sebagai kawasan latihan Arhanud tersebut berada dalam wilayah udara yang informasi penerbangannya, untuk mekanisme keselamatan penerbangan berada dalam tangan otoritas penerbangan sipil nasional Singapura, dikenal sebagai FIR (Flight Information Region) Singapura.   Walaupun kawasan tersebut adalah merupakan wilayah udara kedaulatan Republik Indonesia.  

Dengan demikian, maka dapat dipastikan bahwa latihan yang dilakukan oleh satuan Arhanud TNI AD tersebut memerlukan ijin dari atau paling tidak koordinasi dengan otoritas penerbangan sipil Singapura.   Wajar saja, karena latihan penembakan ke udara akan sangat mengganggu keselamatan penerbangan sipil komersial di kawasan tersebut yang relatif “sangat padat“.   Singkat kata adalah bahwa Arhanud TNI AD menghadapi keterbatasan dalam hal menentukan jam atau hari latihan serta cakupan kolom udara untuk kegiatan penembakan udara.   Arhanud TNI AD tidak semudah memperoleh ijin atau melakukan koordinasi dalam hal pelaksanaan latihannya, bila kawasan udara yang akan digunakan latihan tersebut berada dalam kekuasaan otoritas penerbangan sipil Indonesia.  

Banyak faktor yang dihadapi sebagai kendala dalam upaya memperoleh ijin dan atau koordinasi yaitu antara lain mengenai kepentingan, bahasa, tempat, sistem komunikasi dan lain-lain.   Tentu saja masih diperlukan bukti nyata dari hasil investigasi yang menyeluruh apakah faktor-faktor keterbatasan tersebut menjadi salah satu unsur yang berkontribusi terhadap penyebab terjadinya kecelakaan.  Keterbatasan dapat menyebabkan latihan dilakukan teruru-buru misalnya.   Hasil Investigasi akan mengkonfirmasi benar atau salahnya tentang masalah tersebut.