Kekuatan udara yang biasa dikenal sebagai sebuah Angkatan Udara adalah sebuah fenomena yang sangat mencengangkan dunia.   Penggunaan sebuah kekuatan udara telah terbukti tidak hanya dapat memberikan jaminan besar akan memenangkan perang, akan tetapi juga telah terbukti dapat menghentikan jalannya perang dunia kedua.   Bom atom yang dijatuhkan pesawat AS di Hiroshima dan Nagasaki telah membuat Jepang serta merta bertekuk lutut dan perang dunia berhenti dengan sendirinya.   Daya hancur yang tidak terkirakan sebelumnya telah membuat umat manusia disadarkan tentang sebuah senjata yang kemudian dikenal sebagai senjata pemusnah masal.   Dapat diramalkan jika saat ini terjadi perang dunia ketiga maka tidak mustahil predikat sebagai pemusnah masal akan berlaku.   Tidak itu saja, sejak digunakannya senjata udara maka sifat perang yang semulanya hanya akan terjadi dalam dua dimensi secara horisontal, maka kini peperangan dapat terjadi dalam multi dimensi horisontal dan vertikal.   Perang yang sang musuh ternyata dapat datang dari berbagai penjuru, datang dari “omni-directional-range”.   Ancaman serangan dapat datang dari mana saja, sehingga istilah garis depan dan garis belakang dalam sebuah pertempuran telah menjadi kadaluwarsa.   Perang kemudian telah menemukan bentuknya yang baru yaitu perang total atau total war.

Sebenarnya perang udara sudah dimulai sejak abad ke 18 saat Montgolfier bersaudara mencoba menggunakan balon untuk digunakan dalam sebuah pertempuran di dekat Paris.   Pada tahun 1794 pemerintah Perancis ternyata sudah membentuk atau membangun dan kemudian meresmikan satuan balon udara yang disebut sebagai “Army baloon Unit”, yang tugas utamanya adalah menjalankan misi pengintaian.   Dalam perkembangannya kemudian di abad ke 19 beberapa jenis balon udara atau “lighter than air ship” tidak lagi hanya digunakan sebagai alat pengintai akan tetapi sudah mulai digunakan juga untuk menyerang kedudukan pasukan musuh.   Seorang Letnan Austria bersama kesatuannya telah berhasil melakukan serangan udara dengan menjatuhkan sejenis bom dari balon udara diatas kota Venesia.   Dan akhirnya saat Wright Bersaudara berhasil menerbangkan pesawat terbang pertamanya pada tahun 1903, maka banyak orang terutama para pemikir tentang perang sampai pada sebuah kesimpulan bahwa satu saat, hanya soal waktu saja akan tercipta apa yang dikenal sekarang ini sebagai “Military Aviation” atau penerbangan militer

Banyak sekali orang tidak mengetahui, bahwa pada tahun 1913 hingga 1915 dalam perang Itali dan Turki, pesawat terbang sudah digunakan dalam sebuah “military operation”.   Pada titik inilah kemudian orang mengenal akan istilah “Air Power”, kekuatan Udara.   Sebuah kekuatan perang pendatang baru yang ternyata sangat efektif untuk digunakan dalam mengintai dan bahkan menyerang kedudukan pasukan musuh.   Tidak ada lagi tempat yang aman, bahkan digaris belakangpun kekuatan udara dapat dengan mudah mencapainya.   Tidak ada lagi tempat bersembunyi lagi, dibalik benteng, diseberang sungai, dibalik bukit, musuh dapat menyerangnya. Karena kekuatan udara , pertempuran dalam sebuah peperangan telah menjadi forum yang multi dimensi.   Medan laga tidak ada batasnya lagi, perang sudah mencapai sifatnya yang total.   Kekuatan udara telah merubah secara drastis anatomi perang yang telah berabad-abad lamanya.   Teknologi memang telah merubah semua aspek kehidupan umat manusia, termasuk perang.   Yang pasti adalah strategi perang kemudian menjadi berubah dari bentuk asalnya secara drastis.

Lalu siapa gerangan para pemikir tentang penggunaan kekuatan udara dalam peperangan udara.   Tidak banyak, akan tetapi satu diantaranya adalah seorang Italia, prajurit dan sekaligus penulis yang banyak menuangkan tentang strategi perang udara dalam hal penggunaan kekuatan udara yang efisien dalam peperangan. Dia adalah Giulio Dauhet, yang hidup pada tahun 1869 hingga 1930.   Lahir di Caserta dan lulusan Modena Military Academy.   Bergabung dalam Angkatan Darat Italia pada satuan Artileri.   Pada tahun 1915 dia menjadi Komandan pertama dari Unit Udara Angkatan Darat.   Dia banyak mengembangkan pemikiran tentang srategi perang udara terutama dalam pelaksanaan “bombing campaign”.   Sebagai pemikir dan ahli strategi dia banyak menulis tentang keudaraan dan penggunaan kekuatan udara.   Bukunya yang terkenal antara lain adalah “The Command of the Air”.   Itulah Giulio Dauhet yang hingga kini pemikiran-pemikirannya dalam hal pengembangan strategi penggunaan kekuatan udara masih menjadi rujukan utama bagi kalangan pengguna kekuatan udara ditingkat global.

(Sumber : USAF warrior Studies, office of air force history,1983)