Institut Peradaban (IP) (27/Juni) menggelar kajian tematik mengenai jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet (SSJ) 100. Pemberitaan mengenai pesawat produk Rusia yang menabrak Gunung Salak, Bogor, ini sempat ramai memenuhi media dalam waktu yang lama. Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim sebagai narasumber mengawali pembahasan dari segi keadaan awal Sukhoi. Agenda tersebut bukan untuk menyalahkan satu dua pihak tertentu melainkan tagline “Mencari hikmah di balik musibah” yang menjadi fokus utamanya.

Pesawat yang jatuh pada 9 Mei lalu ini memakan korban 45 orang penumpang. Promo tur yang rencananya mengunjungi 6 negara Asia; Kazakhstan, Pakistan, Indonesia, Vietnam, Laos, dan Myanmar berakhir menyedihkan dengan total lost, meninggalnya semua penumpang dan awak dalam pesawat. Kecelakaan itu juga menyiratkan kejanggalan di benak masyarakat. Ada keanehan yang dirasa dengan hilangnya kontak pesawat pada ketinggian 6000 kaki.

Hal itulah yang menjadi penyebab merekahnya krasak-krusuk di tengah masyarakat. Setiap pihak, lembaga, maupun individu saling melempar spekulasi tentang penyebab jatuhnya pesawat yang menjadi primadona pemerintah Rusia ini. Chappy menyebut hal tersebut sebagai kebiasaan jump to conclusion di mana masing-masing beropini sebelum ada kejelasan dari hasil penyelidikan sesungguhnya.

Ada setidaknya empat pendapat yang menjadi arus utama opini publik akan sebab jatuhnya Sukhoi. Pertama, faktor alam. Pendapat mengenai alam sebagai penyebab muncul dari adanya kabar awan Cumulonimbus yang menyergap Sukhoi. Awan ini memang menjadi musuh bebuyutan penerbang lantaran tabiatnya yang membutakan. Kedua, faktor human error. Pilot sering menjadi sangkaan penyebab utama dari faktor human error. Ya, bisa jadi. Sebanyak apapun jam terbang seorang pilot, jika sedikit saja keteledoran menimpa maka puluhan nyawa menjadi taruhannya. Naasnya, pilot Sukhoi yang berasal dari Rusia dalam kasus tersebut diakui tidak mengikuti fly role (aturan terbang). Dalam diskusi IP, mencuat bahwa sang pilot Sukhoi sebelumnya tidak mengikuti official briefing prapenerbangan.

Ketiga, keteledoran penumpang. Salah satu penumpang Sukhoi diduga melakukan aktivitas dengan Handphone. Memang, sistem frekuensi pesawat sangatlah sensitif. Maka wajar jika aktivasi handphone menjadi larangan dalam menumpang pesawat. Parahnya, saking sensitifnya frekuensi pesawat, ia bahkan sering terkacaukan oleh frekuensi radio.

Kejatuhan Sukhoi Super Jet 100 disinyalir pula berkaitan dengan konspirasi bisnis di baliknya. Chappy dalam pemaparannya mengatakan bahwa SSJ 100 memiliki keistimewaan dibanding yang lain. SSJ 100 merupakan kebanggaan pemerintah Rusia. Ia memiliki kontrak panjang kerja sama dengan pihak Boeing, Amerika Serikat. SSJ 100 juga menggunakan komponen Aviation Electronik, mesin dan sistem pesawat modern yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan teratas Eropa. Perusahaan-perusahaan tersebut juga merupakan mitra kerja Airbus, musuh SSJ 100. Sertifikasi kelayakan terbang SSJ pun spesial. Ia dikeluarkan oleh EASA (European Aviation Safety Agency), sebuah agensi yang memiliki standar tinggi dalam izin kelayakan terbang bagi pesawat.
Menarik memang SSJ 100 ini. Ia menjadi irisan dari dua produk besar pesawat adidaya yang juga musuhnya, Boeing dan Airbus. Hal ini turut menjadi faktor kecurigaan keempat yang masyarakat klaim menjadi salah satu sebab jatuhnya sang Sukhoi.

Di balik semua isu kesimpangsiuran akan kasus Sukhoi, Prof. Dr. Salim Said, MA, MAIA, sang moderator, menggarisbawahi sebuah hal penting. Ia menegaskan bahwa masalah kecelakaaan penerbangan bukanlah satu masalah yang berdiri sendiri dan tidak bisa langsung diketahui penyebabnya secara cepat dan langsung. Dibutuhkan penelitian dan penyelidikan akurat dalam penentuannya. Dalam hal ini, Indonesia memiliki KNKT (Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi) yang berwenang secara resmi menyelidiki sebab kecelakaan tersebut.

Jakarta 30 Juni 2012, dikutip dari wasathon.com
Ditulis Oleh :Sofistika Carevy Ediwindra
Pada Tanggal : 28 – 06 – 2012 | 10:08:23
(Sofistika Carevy Ediwindra/Wasathon.com)