Article

Leadership (4)

Bila kita membicarakan lebih mendalam lagi tentang kepemimpinan, atau lebih populer dikalangan luas dikenal sebagai “leadership”, maka kita akan sampai kepada pemahaman tentang “pemimpin” atau “leader” itu sendiri.

Siapakah dan bagaimanakah sang pemimpin itu ?

Dahulu kala, dan juga sampai dengan saat ini, masih ada dan bahkan banyak orang yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan.   Seorang pemimpin itu adalah memang seorang yang sejak lahirnya telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin.   Pendapat ini setidaknya ditopang dengan persepsi yang berkembang dimasyarakat yaitu berkait dengan kekaguman terhadap sosok seorang pemimpin.   Katakanlah misalnya dalam melihat sosok seorang Bung Karno, Mahatir Muhamad, Lee Kuan Yew, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Golda Meir, Margaret Thatcher, Kennedy, Moammar Khadafi, Gamal Abdul Nasser, Adolf Hitler dan lain-lain.

Sosok para pemimpin itu, terlihat sekali “angker” nya, “wibawa” nya , “kharisma” nya.   Sosok yang mengundang kekaguman para pengikutnya diseluruh dunia.   Kekaguman atau rasa kagum itulah yang dengan mudah sekali kemudian berkembang atau mengembangkan sikap untuk mengkultuskan sang pemimpin.   Kita mengenal istilah kultus individu dijamannya Soekarno memerintah Republik Indonesia.   Dibuatlah gambar-gambar, lukisan, cerita bahkan lagu-lagu yang kesemuanya merupakan refleksi dari kekaguman para pengikutnya.  

Walaupun, dapat dipastikan bahwa beberapa diantaranya, terselubung maksud-maksud tertentu dibalik itu.   Ada interest pula yang larut didalamnya.   Akan tetapi , apapun itu maka semuanya adalah berpulang bagaimana seorang pemimpin itu kemudian, dipuja-puja bak manusia setengah dewa, dan selanjutnya berkembanglah “cerita-cerita” tentang kesaktiannya.   Belum lagi yang mendramatisasi benda-benda milik seorang pemimpin.   Kita masih ingat banyaknya cerita tentang kesaktian tongkat komando nya Bung Karno misalnya, dan lain-lain.   Kemampuan yang luar biasa dari seorang pemimpin, dengan mudah dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang ghaib dan mistis sifatnya.   Tentu saja hal tersebut sekali lagi , berkembang dari rasa kagum banyak orang terhadap dirinya.

Dari uraian itulah , muncul kemudian anggapan yang tumbuh dimasyarakat “akar rumput” terutama sekali pemahaman bahwa “pemimpin” itu memang datang sejak dari “sono” nya,  mereka memang dilahirkan sebagai seorang “pemimpin”.

Beberapa waktu lalu, pemahaman ini diterima oleh banyak orang.   Akan tetapi dengan berjalannya sang waktu, dimana ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat, pendapat ini segera saja berubah.   Teori dan penelitian tentang atau berkait dengan “pemimpin” dilakukan orang secara intens.   Sejak itulah maka secara bertahap, pengertian atau pemahaman bahwa pemimpin itu dilahirkan, atau pemimpin itu adalah orang yang sejak lahir sudah ditakdirkan akan menjadi pemimpin, tidak lagi diterima oleh masyarakat luas.

Pendapat orang tentang “born leaders”, secara bertahap berubah, “leader are made”.   Muncullah kemudian persepsi tentang pemahaman  bahwa pemimpin itu tidaklah “dilahirkan”, pemimpin itu dibuat, dibangun, dilatih, diajarkan seperti juga dengan apa yang terjadi pada profesi-profesi lainnya.   “Leader’s are not born.   They are educated, trained and made as in every other profession”.

Ya, pemimpin harus dibentuk, harus diajarkan dan harus dilatih untuk bisa menjadi pemimpin, seperti juga dengan apa yang terjadi pada profesi lainnya !   Bila kita berbicara mengenai profesi atau pekerjaan seseorang, maka memang tidak bisa dibantah bahwa “bakat” seseorang akan turut menentukan apakah dia akan dapat meraih sukses dengan cepat atau lambat atau bahkan “gagal” dalam pekerjaannya itu.

Mari kita perdalam sedikit tentang pengertian ini.   Seorang pemimpin yang sukses dalam memimpin, biasanya adalah seseorang yang mempunyai bekal pengalaman sebagai seorang yang selalu taat kepada aturan, seorang yang memiliki kemauan keras untuk patuh kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku, seorang yang belajar untuk taat azas.

Aristoteles, seorang filosof Yunani yang hidup lebih dar 300 tahun sebelum Masehi , pernah berkata bahwa : “He who has never learned to obey, can not be a good commander”. Intisarinya adalah, mereka yang tidak pernah belajar untuk taat azas, maka dia tidak akan mampu menjadi pemimpin atau komandan yang baik !

Komandan, adalah seorang yang mendapatkan otorisasi untuk memberikan komando atau perintah.   Orang yang kerjanya memberikan komando , disebut sebagai Komandan.   Orang yang memiliki hak atau otoritas untuk memerintah, pekerjaannya memerintah, maka orang itu disebut sebagai pemerintah.   Namun jangan lupa, bahwa pada setiap hak untuk memberikan komando dan atau hak untuk memerintah, maka  secara otomatis terikut didalamnya kewajiban untuk “bertanggung jawab”. Pada setiap kata “command”, maka didalamnya ada kata “responsibility“.   Itu sebabnya Friedrich Wilhelm Nietzsche, filsuf kenamaan Jerman berkata : “To do great things is difficult, but to command great things is more difficult”.

Jelas disini, bahwa  pemimpin itu tidak dilahirkan, karena ada unsur yang harus dipelajarinya sebagai bekal, dan sekaligus mengikut kepada wewenang yang dimiliki oleh seorang pemimpin, terbawa didalamnya unsur “tangung jawab”.

Bagi anda yang senang memerintah atau memberi perintah, seyogyanya, sadarilah bahwa begitu anda memberikan perintah maka sebenarnya sudah melekat atau terkandung didalamnya unsur “responsibility” atau “tanggung jawab” !    Dimana dan kapan serta dalam kasus apapun, termasuk dalam kasus “century”.

Jangan sekali-kali memerintah atau memberikan komando, atau menjadi pemimpin, bila anda “enggan” untuk bertanggung jawab !   Winston Churchill mengatakannya sebagai : “The price of greatness is responsibility”

Jakarta 17 Januari 2010

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button