Sebagai akibat komunikasi yang tidak atau belum tuntas mengenai pemberdayaan kembali Industri Strategis dan atau Industri Pertahanan, maka dikhawatirkan beberapa langkah kerjasama antara PTDI dengan pihak asing akan menjadi sulit tercapai sesuai target.

Sejumlah kesulitan masih dihadapi oleh PTDI, namun proyek-proyek kerja sama yang terkesan kejar tayang sudah ditandatangani MOU nya dan bahkan sudah ada yang mulai digerakkan.

Sebuah ide yang patut dihargai untuk memberdayakan kembali PTDI, namun sangat disayangkan langkah ini tidak ditopang dengan perencanaan matang yang melibatkan pihak “orang dalam” PTDI sebagai yang empunya “dapur” dan “koki” nya.

Sekedar gambaran saja dari hal ini dapat dibaca dari cuplikan berita dari Republika online tanggal 17 Oktober 2011 lalu sebagai berikut:

Kami Butuh Komitmen Jangka Panjang dari Pemerintah :

Dita Ardonni Jafri, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Terbelit beragam persoalan, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ibarat menara mercusuar yang tak lagi memendarkan sinar pemandu. Tapi, harapan belum padam. Bagaimana langkah strukturisasi, asa, potensi, sekaligus tantangan kendala PT DI, berikut petikan wawancara wartawan Republika Palupi Annisa Auliani dengan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Dita Ardonni Jafri, Kamis (6/10):Suntikan dana Pemerintah bakal memadai untuk penyelesaian restrukturisasi PT DI? Tahun ini, 2011, kami dapat Rp 675 miliar. Lalu 2012, kami harapkan (dapat) Rp 2 triliun. Tapi, saya dengar dapat Rp 1 triliun pada 2012 dan Rp 1 triliun pada 2013. Cukup atau tidak kan tergantung, uang ini mau dipakai untuk usaha atau untuk gaji ? Kalau untuk gaji sih habis lagi nanti.

Utang ke Perusahaan Pengelola Aset (PPA), sekarang masih berapa?Rp 675 miliar. Mudah-mudahan utang selesai tahun ini. Menurut saya, setelah uang, kami butuh pekerjaan.Kondisi terakhir PT DI seperti apa? Juga kondisi SDM?Terakhir, kami tinggal punya 4.000 orang (pegawai, dengan hanya) 800 engineer. Sebelumnya, kami punya 2.000 engineer.Apa saja produk yang masih diproduksi atau punya potensi digarap?N-250 sudah berhenti. Untuk menghidupkan lagi, biayanya gede. Kebanyakan komponen harus ganti vendor baru. Kelamaan. Untuk helikopter, semua lisensinya sudah habis. Kami (tinggal) punya CN235 dan Casa-212-400. Plus nanti N-219, kalau (modal) Rp 300 miliar dapat dan ada yang beli.Untuk mendapatkan pekerjaan kami juga coba kerja sama dengan perusahaan yang ditunjuk PPA,  Airbus Military, salah satu ‘cucu’ perusahaan EADS. Kami sedang coba kerja sama di pesawat Casa 295 (C-295). Kami mengarah ke final assembly di Indonesia. Tapi, harus ada pembelian dalam negeri dulu. Ini yang lagi kejar-kejaran.C-295 ini pesawat angkut kapasitas kurang dari 70 orang. CN-235 yang dipanjangin. Jadi, basic-nya adalah CN-235, (tapi) ganti engine, badan dipanjangin, wing tetap.

Bisa bawa lebih banyak penumpang.Kami juga ingin bangun lagi beberapa helikopter. Penawaran sudah banyak. Bell dan Eurocopter, misalnya. Korea juga menawarkan dan lebih menarik. (Korea) menawarkan final assembly, sedikit pengembangan di sini dan beberapa pasar di Afrika dan Timur Tengah dikasih ke kami. Eurocopter mungkin mau (juga) beri final assembly, tapi pasar terbatas di Indonesia. Kalau pesawat tempur KF-X/IF-X yang kerja sama dengan Korea?Indonesia menyebutnya IF-X. Kami hanya mengirim 23 engineer, sekarang sudah di Korea.

Ini program Kementerian Pertahanan, kami hanya support, tidak kami hitung sebagai bisnis.KF-X/IF-X ini proyek ‘menantang’ F-16 dan Sukhoi?Pada 2025 (saat produksi), F-16 dan Sukhoi kan sudah produk zaman baheula.Dengan produk yang ada dan rencana kerja ini, PT DI bisa bangkit lagi?Hitung-hitungan saya, karena saya kenal CN-235, kalau bisa jual minimum enam CN-235 dalam setahun, (kami) survive. Asumsinya, nilai tambah kami kira-kira 38-40 persen, dari local content yang bisa kami lakukan. Enam CN-235 bisa menutup 60 persen (biaya) overheat kami, sisanya (ditutup) dari industri komponen.Ekuivalennya dengan C… ……………….dan seterusnya dan seterusnya…………..

Benar-benar sangat disayangkan !
Jakarta 29 Oktober 2011
Chappy Hakim