ArticleAviation

Jatuhnya B-737 MAX 8 bukan kesalahan Pabrik ?

 Semua rame-rame meng grouded B-737 MAX 8 sementara Pabriknya sendiri tidak.

Berita paling mutakhir belakangan ini adalah ramainya pihak yang meng grounded pesawat super modern dan High Tech B-737 MAX 8 .   Hal tersebut karena 2 buah pesawat jenis itu jatuh dalam waktu yang hanya beberapa bulan saja.  Dapat dimengerti kemudian banyak yang menjadi panik dan serta merta mengambil langkah keamanan dengan melarang terlebih dahulu semua pesawat sejenis untuk diteliti lebih jauh bahwa pesawat tersebut aman.

Yang sangat mengemuka, sementara demikian banyak operator dan otoritas penerbangan yang meng-grounded B-737 MAX 8, pabriknya sendiri, Boeing tidak mengambil tindakan serupa.   Biasanya, apabila ditenggarai sebuah produk mengandung “bahaya” (cacat produk) dalam fase opersionalnya, maka pabrik lah yang akan pertama kali melarang terbang untuk memberikan waktu mengambil tindakan korektif agar tidak terjadi kecelakaan.

Dengan demikian, maka mudah sekali diambil kesimpulan bahwa Pabrik Boeing sangat yakin bahwa 2 kecelakaan tragis yang terjadi dengan hanya berselang beberapa bulan saja itu, bukanlah merupakan kesalahan pabrik.  Disinilah tantangan yang dihadapi dunia penerbangan sekarang ini.  

Otoritas penerbangan kita sendiri, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan, tidak meng-grounded B-737 MAX 8 saat Lion Air JT-610 jatuh tahun lalu dan baru melakukannya setelah Pesawat yang sama dari Ethiopian Airline  ET-302 mengalami crashed after take off.  

Itu berarti saat B-737 MAX 8 Lion Air mengalami kecelakaan, otoritas penerbangan kita tidak menemukan atau mencurigai bahwa ada kesalahan pabrik pesawat pada kecelakaan tersebut.   Apa alasan kemudian otoritas penerbangan kita turut meng-grounded B-737 MAX 8 setelah kecelakaan Ethiopian Airlines tentu masyarakat luas perlu memperoleh penjelasan rinci tentang hal tersebut.

Hasil gambar untuk b 737 max 8

Pada satu dekade belakangan , kecelakaan pesawat terbang yang terjadi telah membuat institusi investigasi kecelakaan pesawat terbang di berbagai negara menyimpulkan hal yang sama benang merahnya yaitu mengangkat persoalan tentang “automation addiction” sebagai salah satu yang berkontribusi besar terhadap terjadinya kecelakaan pesawat terbang produk teknologi mutakhir.  

Sementara itu, hasil investigasi pesawat Asiana Airlines Flight 214 yang jatuh jelang mendarat di San Fransisco pada 6 Juli 2013 telah memicu banyak analisis penerbangan tentang perlunya Pilot memiliki pengetahuan yang mendalam tentang aspek teknologi dari sistem otomatis yang digunakannya dalam mengemudikan pesawat modern.   Intinya, Pilot tidak cukup hanya memiliki skill belaka tetapi harus dibekali pengetahuan yang cukup tentang sistem otomatisasi dari teknolgi pengendalian pesawat terbang.  

Sebuah penelitian dilakukan NASA bersama dengan IOWA University yang memakan waktu lebih dari 3 tahun dengan topik masalah hubungan pilot, sistem otomatis dan kecelakaan pesawat terbang.   Dr. Thomas Mach Schnell yang memimpin tim riset itu menjelaskan bahwa ketergantungan yang berlebihan terhadap sistem otomatis telah menurunkan dan banyak mengganggu konsentrasi pilot dalam menerbangkan pesawat.

Dia juga menambahkan, bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa para pilot pesawat modern telah menjadi sangat tergantung pada sistem otomatis di kokpit.   Studi tersebut juga memberikan hasil penemuannya bahwa 60% dari kecelakaan yang terjadi belakangan ini ternyata disebabkan karena kesalahan dalam mengoperasikan “flight management computer”.

Beberapa tahun belakangan ini juga, sudah mulai banyak tulisan yang membahas tentang profesi Pilot yang sudah beralih dari keterampilan menerbangkan pesawat (secara manual) kepada kemampuan mengendalikan pesawat dengan menekan tombol saja.   Pilot sudah berubah menjadi “the button pusher”.

Kelihatannya, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa kecepatan dari kemajuan teknologi penerbangan telah membuat tertinggalnya metoda education and training bagi para Pilot untuk mengoperasikannya

Itulah semua yang memang tengah terjadi.  Sejatinya pesawat terbang sudah dapat diproduksi dengan produk pesawat terbang yang tidak memerlukan Pilot lagi untuk mengemudikannya (drone misalnya).   Pertanyaannya adalah, apakah ada penumpang yang mau terbang ikut pesawat terbang yang tidak ada Pilotnya ?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.