ArticleAviationEducation

Gonjang ganjing Penerbangan Indonesia dan Faktor Pendidikan dan Latihan

Telah dibuka Program pendidikan tingkat Master bidang aviasi di UI bekerjasama dengan Coventry University UK

Dunia penerbangan Indonesia belakangan ini dilanda cukup banyak masalah, mulai dari naiknya harga tiket yang dinilai ugal-ugalan, ide mengundang Maskapai Asing untuk melayani rute penerbangan domestik,  kasus laporan keuangan Maskapai Pembawa Bendera Garuda Indonesia hingga kasus Bandara Internasional Kertajati yang dibangun biaya triliunan rupiah namun terlihat mubazir karena tidak ada penerbangan yang menggunakannya.   Beberapa waktu sebelumnya, Maskapai Penerbangan Merpati Nusantara menghentikan operasi penerbangannya karena bangkrut.   Disisi lain kelebihan kapasitas beberapa Bandara juga telah menjadi sorotan banyak pihak.   Kelebihan kapasitas yang terjadi di Bandara Cengkareng di akhir tahun 2015 di pecahkan solusinya dengan memindahkan kelebihan slot penerbangan ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma yang juga merupakan pusat dari sistem pertahanan udara nasional.   Tidak berapa lama kemudian terjadi tabrakan pesawat terbang sipil komersial di Lanud Halim Perdanakusuma.   Terakhir, setelah slot penerbangan sipil komersial yang tadinya hanya dibatasi 76 take off landing satu hari, kini konon sudah berkembang menjadi lebih dari 100 take off landing satu hari.   Akibatnya adalah, sudah mulai bermunculan keluhan dan protes dari pihak pengguna jasa angkutan udara sipil komersial yang mulai merasa terganggu kenyamanannya oleh kegiatan penerbangan Angkatan Udara dalam kerangka operasi dan latihan pertahanan udara di Halim Perdanakusuma.

Yang paling meriah belakangan ini adalah munculnya banyak sekali pertanyaan tentang “tidak masuk akal” nya harga tiket untuk penerbangan rute dalam negeri.   Perbandingan yang dikemukakan bahkan bagaimana bisa terjadi rute luar negeri yang lebih jauh menjadi lebih murah dibanding dengan penerbangan rute dalam negeri yang jaraknya lebih pendek.   Pertanyaan-pertanyaan ini memang kemudian menjadi sulit untuk memperoleh jawaban yang memuaskan.  Demikian pula mengenai tersebarnya berita kontroversi dari laporan keuangan Maskapai Garuda Indonesia.  Beberapa pihak yang berwenang mengatakan bahwa laporan keuangan tersebut wajar dan beberapa pihak lainnya menyatakan ada yang tidak wajar dalam laporan keuangan tersebut.   Dari kedua topik ini maka menjadi cukup jelas bahwa pengetahuan kita pada umumnya mengenai dunia penerbangan masih belum cukup untuk dapat mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.  Sebagai orang awam, mungkin dapat saja dimaklumi tentang kurangnya pengetahuan mengenai seluk beluk penerbangan yang relatif masih muda usianya namun sangat cepat perkembangannya.   Akan tetapi dari cara-cara para pihak yang kompeten selama ini dalam menjelaskan tentang gonjang ganjing dunia penerbangan Indonesia yang tengah menghadapi masalah serius tersebut, sayup-sayup dapat ditenggarai bahwa memang belum banyak orang yang menguasai dengan baik tentang masalah dan latar  belakang ilmu pengetahuan dibidang penerbangan.    Dapat dipahami pula dunia penerbangan yang banyak berisi berbagai terminologi berbahasa asing menjadi lebih sulit lagi untuk dapat dijelaskan kepada masyarakat awam.

Demikianlah, maka tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan akan Pendidikan dan Latihan bidang penerbangan sangat diperlukan bagi tumbuh berkembangnya dengan baik dunia aviasi di Indonesia.  Dunia penerbangan yang bahkan ditingkat global pun masih banyak menghadapi tantangan dalam berhadapan dengan  kemajuan teknologi yang sangat pesat.   SIstem dari “Education and Training”  bagi personil yang mengawaki teknologi penerbangan yang canggih belakangan ini memang terlihat jelas berhadapan juga dengan persoalan yang klasik.   Persoalan tertinggalnya kualitas personil atau sdm berkualitas dibidang aviasi terhadap kemajuan teknologi penerbangan tengah melanda hampir semua negara terutama di negara berkembang.  (salah satu contoh adalah tentang kasus kecelakaan Boeing-737 MAX 8 Lion AIr dan Ethiopian Airlines)

Kembali kepada gonjang ganjing dunia penerbangan kita yang tiada juntrungannya belakangan ini, jangan jangan hal tersebut  memang sebuah refleksi dari ilmu dan pengetahuan kita semua yang masih kurang dalam memahami tata kelola dan manajemen pada dunia penerbangan yang sangat cepat akselerasi kemajuan teknologinya.   Lebih parah lagi, konon  menurut sahibul hikayat orang yang “pengetahuannya kurang” , suaranya jauh lebih keras dan kasar sesuai pepatah tong kosong nyaring bunyinya dan  mohon maaf  biasanya  mereka juga cepat sekali tersinggung dan hal ini membuat keadaan menjadi semakin  runyam.

Namun tidak usah khawatir  karena telah ada salah satu upaya yang terus dikembangkan di Indonesia antara lain adalah dengan dibukanya peluang Pendidikan tingkat Magister oleh Universitas Indonesia yang bekerjasama dengan Coventry University United Kingdom.   Bagi yang berminat dapat segera mendaftarkan diri sebagai pionir dibidang pengembangan tingkat lanjut tenaga sdm kita dibidang Penerbangan.   Pendaftaran dapat dilakukan pada MM MBA in Aviation Management Universitas Indonesia, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Ayo………Belajar lagi !

Wayne Gerard Trotman, produser film berkebangsaan Inggris mengatakan sebagai berikut :

“Foolish people laugh at things they do not understand, producing the sound of braying donkeys.”

Jakarta 5 Juli 2019

Chappy Hakim

Pusat Studi Air Power Indonesia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.