Article

Conference Teleprompter System!

Teleprompter, atau di banyak negara dominion Inggris atau negara  commonwealth dikenal juga dengan sebutan Autocue adalah sebuah alat bantu baca, bagi seseorang yang akan berpidato, agar dia tampak terlihat seperti berbicara lisan tanpa text.

Alat ini pada awalnya digunakan oleh para penyiar televisi, agar mereka  terlihat menyampaikan berita kepada penonton televisi seperti berbicara biasa tanpa membaca.   Itu sebabnya, maka naskah berita pada umumnya disusun dalam bahasa lisan, dan sang penyiar harus membawakannya sedemikian rupa seperti bercerita saja kepada para penonton televisi.   Dengan demikian para penonton televisi pun merasa sangat nyaman dan puas melilhat atau menonton berita televisi tanpa terganggu oleh sang penyiar yang bolak balik menundukkan kepalanya dalam membaca teks berita.

Tentu saja pada sebelum ada alat sejenis komputer kecil yang digunakan sekarang ini,  maka teks secara mekanik dan manual digerakkan didekat atau didaerah kamera televisi.   Penyiarpun kemudian tidak perlu melihat teks di atas mejanya , namun cukup melihat di dekat kamera.

Pertama kali Teleprompter ini adalah merupakan kreasi dari  Fred Barton, Jr. Hubert J. (Hub) Schlafly dan  Irving Berlin Kahn, pada tahun 1950.   Barton adalah seorang aktor televisi yang menginginkan pertunjukkan televisinya meningkat kualitasnya.   Peningkatan kualitas disini adalah bagaimana para aktor yang tidak mungkin dapat menghafal begitu banyak naskah, dapat menyampaikan pembicaraan sesuai skenario tanpa harus menghafalkannya.   Waktu itu Teleprompter masih manual dan bekerja secara mekanik.

Teleprompter pertama yang menggunakan personal komputer dibuat pertamakali ditahun 1982.   Perancangnya adalah Courtney M. Goodin dan Laurence B. Abrams  di  Hollywood, California.   Tentu saja diawalnya teleprompter ini diperuntukkan bagi banyak pertunjukan terutama di televisi.   Orang lalu bisa membaca berita yang panjang-panjang  seolah-olah tanpa membaca tekas.   Para pemain film drama televisi dapat berorasi dengan berbagai macam dialog tanpa harus menghafalnya dan banyak lagi.

Teleprompter dalam perkembangannya kemudian dapat pula dijadikan sebagai alat bantu dalam berpidato.   Teleprompter jenis ini lazim disebut sebagai “Conference Teleprompter System”.   Biasanya akan terdiri dari dua kaca transparan,  disisi kira dan kanan pembicara yang sebenarnya adalah reflektor dari naskah pidato yang ditayangkan dari layar komputer.   Dengan demikian sang orator dapat beraksi berpidato, lihat kira dan kanan, sambil membaca naskah di kaca transparan tersebut dengan gaya seolah-olah tidak membaca.   Sekali lagi, naskah pidato harus disusun dalam susunan bahasa lisan.

Tercatat kepala pemerintahan yang pertamakali menggunakan “conference teleprompter system” ini adalah Margaret Hilda Thatcher, perdana menteri kerajaan Inggris tahun 1979 hingga 1990, yang juga satu-satunya wanita yang dapat menjabat Ketua Umum Partai konservatif Inggris, selama lebih dari 10 tahun , yaitu  dari tahun 1975 hingga 1990.   Sang Perdana Menteri kerap menggunakannya dalam berpidato di depan Parlemen.   Saat itu tidak banyak orang memperhatikan dua benda transparan yang tersaji didepan mimbar pidato sang Perdana Menteri.   Beberapa orang bahkan mengatakan alat itu adalah sebagai alat bantu keamanan/”security device” dari satuan pengamanan perdana menteri Inggris.

Perdana Menteri Mahatir, beberapa kali menggunakan “conference teleprompter system” ini pada acara kenegaraan di Malaysia.

Media mulai banyak meng ekspose “conference teleprompter system”, yaitu sejak digunakan oleh Presiden Bush.   Tentu saja, kemudian seperti yang digunakan oleh Presiden Obama baru-baru ini.   Bentuknya, selain sudah lebih canggih, yang tidak sekedar dua lempeng kaca transparan dikiri kanan mimbar pidato, akan tetapi juga dapat berupa “running teks” yang dipasang pada beberapa tempat disudut-sudut gedung sesuai dengan kebutuhan.    Banyak diantaranya sudah melengkapi beberapa studio karaoke besar dikota-kota seperti Tokyo, New York dan lain-lain.

Kembali kepada soal teknis penggunaannya,  karena kaca kecil ini sangat terbatas dalam menyajikan kalimat-kalimat naskah pidato, maka diperlukan sedikit latihan dulu bagi sang orator sebelum mereka  berpidato menggunakan “conference teleprompter system” .   Latihan ini dibutuhkan untuk menyelaraskan irama dan kecepatan sang orator dalam berbicara/membaca dengan irama dan kecepatan penyajian naskah teks pidatonya di dua kaca transparan tersebut.   Di Indonesia, sudah banyak digunakan orang sejak tahun 2000-an.   Tercatat di tahun 2003, digunakan di Halim pada pagelaran “Twilight Orchestra”, beberapa kali di hotel-hotel internasional pada pelaksanaan seminar dan juga peluncuran buku “Indset” yang dihadiri oleh Menhan Yuwono Soedarsono di tahun 2006.

Nah , karena Presiden Republik Indonesia, konon baru pertama kali menggunakan ini pada pidato kenegaraannya di DPR kemarin itu, maka dapat dipastikan betapa sibuknya, pasukan “bodrek”  dan laskar protokol di DPR menyiapkan dan terpaku kepada penggunaan alat “canggih” ini.    Begitu repotnya dan tegangnya  sehingga, barangkali , jadilah upacara tersebut dimulai tanpa dengan didahului oleh lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Akan tetapi, bila melihat banyaknya kursi yang kosong, maka kemungkinan yang paling mungkin adalah bahwa memang DPR sudah tidak atau kurang konsentrasi lagi dengan acara kenegaraan ini.

Pada dasarnya, seluruh upacara kenegaraan sekelas upacara kemaren, seharusnya disiapkan dengan paling sedikit 2 kali Gladi kotor dan satu kali gladi bersih.   Disisi lain, secara protokoler kenegaraan, dimana hadir seorang kepala negara, maka lagu kebangsaan Indonesia Raya harus dan wajib dimainkan sesaat sesudah kedatangan Presiden dan sesaat sebelum Presiden meninggalkan ruangan.   Ini sudah merupakan prosedur tetap, yang tidak mungkin terlupakan.    Hanya dua penyebabnya, memang sudah tidak niat, atau memang disengaja.   Referensinya : acara di Markas Partai saja yang tidak ada Presidennya, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu bagaimana tidak di upacara sekelas acara kemaren di DPR?

Baiklah, jadikan saja peritiwa tersebut sebagai pelajaran yang sangat mahal harganya yang harus ditebus oleh bangsa ini dan…………Kembali ke pokok masalah, itulah  sekedar tambahan pengetahuan tentang apa yang namanya :”conference teleprompter system”.

Dunia , dengan kemajuan teknologi, cepat atau lambat memang akan menuju lingkungan yang “paperless”.    Sekian dan Terimakasih.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close