Life

Cat Rambut

PADA tahun 1995, di Ujung Pandang, sekarang Makassar dalam satu kesempatan briefing selesai apel pagi, Wakil Panglima memberikan beberapa perhatian kepada para perwira muda. Biasa, kalau Wapang briefing ya pasti setengah marah-marah dan isinya tentang disiplin, kerapihan, kewajiban yang harus segera dikerjakan tanpa mengulur-ulur waktu. Biasa nya juga kemudian “closing remark”nya adalah tentang kerapihan. Kerapihan dan kebersihan mulai dari ruang kantor sampai dengan kompleks perumahan dan termasuk nantinya tentang kerapihan tampilan pribadi. Sudah apal kita semua.

Berdinas di luar Jawa, tidak lah sama dengan apabila kita berdinas di Jawa. Tidak tahu kenapa, memang “hawa” nya terasa lain. Itu sebab nya frekuensi maupun volume seorang komandan atau panglima dalam briefing rutin menjadi agak berbeda. Satu hal yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang ditelinga saya adalah pada saat Wapang mengatakan : “Penampilan yang rapih itu ! Jangan hanya pakaian saja yang harus bersih dan rapih, kepala kamu itu juga harus dirapihkan. Bukan cukurannya, tetapi itu yang sudah mulai ubanan ya di cat rambut nya, supaya nggak kelihatan seperti kakek-kakek ! Perwira muda koq kaya kakek-kakek?!”


Kembali ke diri saya, masalah nya adalah, rambut saya sudah mulai beruban sejak duduk di bangku SMA. Sehingga pada saat berdinas di Makassar, saya memang sudah mulai mengecat rambut. Masalahnya lagi adalah, cat rambut kan hanya berumur 1 atau 2 minggu, sehingga kalau terlambat untuk “re-paint” maka jadilah kepala kita belang warnanya. Apabila kepala sudah belang, maka tentu saja akan terlihat jelek sekali. Masalah lebih jauh lagi adalah sebenarnya saya tidak begitu suka untuk mengecat rambut. Suatu tindakan yang sebenarnya adalah membohongi diri sendiri. Jadilah pekerjaan mengecact rambut ini menjadi kegiatan yang kurang menyenangkan. Akan tetapi, demi penampilan ya apa boleh buatlah.

Februari,Tahun 2005 saya memasuki masa pensiun. Saya sudah mulai berpikir untuk membebaskan diri dari kegiatan “cat rambut” ini. Beberapa waktu saya membiarkan rambut saya belang, sementara kumis dan jenggot tidak saya cukur setiap hari. Muncul lagi perasaan yang mengganggu. Ada perasaan, koq setelah pensiun “frustrasi”? Soalnya sebelum pensiun saya sering juga mengamati beberapa rekan yang baru saja memasuki masa pensiunnya. Beberapa diantaranya ada yang berubah penampilannya setelah pensiun dan terkesan mereka frustrasi. Saya tidak ingin terlihat frustrasi, walaupun sebenarnya saya ya tidak frustrasi. Kegiatan sehari-hari yang mendadak berubah 180 derajat, pasti akan membuat seseorang menjadi lain penampilannya. Pada sisi ini, saya ingin memperlihatkan kepada para yunior saya bahwa saya “still going steady” walaupun saya telah memasuki masa purna tugas. Itu artinya adalah kegiatan mengecat rambut “must be continue”.

28 Oktober 2008, bertepatan dengan hari sumpah pemuda, anak perempuan kesayangan saya, melahirkan seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan. Jadilah saya seorang Kakek. Terngiang kembali “briefing sang Wakil Panglima : Perwira muda koq kayak kakek-kakek?!” Tidak terasa, seakan baru kemarin saya menerima briefing itu dan sekarang, 28 Oktober 2008, saya mendadak menjelma menjadi seorang kakek yang sebenarnya.

Maha besar Allah Subhanawataala. Saya merasakan benar kebesaran Illahhi. Saya melihat cucu saya, tidak habis saya bersukur dan terpesona akan kebesaran Nya. Seakan baru saja kemarin saya menimang bayi anak saya perempuan, dan sekarang ini, saya menyaksikan seorang bayi lagi yang lahir dari anak saya itu. Melihat air muka bayi yang merah segar dengan suara tangisannya yang melengking, bergetar rasa nya seluruh tubuh saya. Bayi dari anak saya. Ya Allah, maha kuasa dan maha besar lagi maha penyayang engkau terhadap umat mu.

Sulit sekali menggambarkan suasana hati dan perasaan saya saat itu, tidak ada kata-kata yang “pas” untuk dapat mengungkapkannya. Sekali lagi, itulah kebesaran Tuhan, dan saya tidak pernah habis mensyukurinya.

5 Nopember 2008, kembali ke kepala saya yang sudah mulai terlihat belang.

Dengan status sebagai kakek yang sebenarnya, saya pikir sudah waktunya lah, saya berhenti mengecat rambut. Jadilah saya sekarang ini, seorang kakek dengan rambut putih. Banyak teman yang bertanya ; Lho Koq Ubanan?! Koq tidak di cat ? Semuanya saya jawab dengan jawaban yang sama: Saya tidak cat lagi, karena nanti cucu saya akan bingung, melihat, mana yang bapaknya dan mana yang kakeknya?

Sekali lagi saya bersyukur Alhamdullilah. Maha besar Allah Swt. Amin ya rabbal alamin.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close