ArticleSocial

Bravo TMC Polda Metro!

Entah siapa penggagas TMC (Traffic Management Centre) Polda Metro, namun saya harus menaruh hormat yang tinggi kepada TMC dan seluruh jajarannya, bukan main, mereka adalah kelompok orang-orang yang patut memperoleh penghargaan dari kita semua.

Saya memang tidak mengetahui secara “njelimet” anatomi dari TMC ini, akan tetapi setiap hari, terutama di hari senin pagi dan jumat sore menjelang malam, anda dapat merasakan peran dari TMC ini.    Lebih-lebih ditengah kemacetan yang menguras “energi” dan tentu saja “emosi”, maka pada saat itulah saya melihat peran para personil TMC yang bekerja-keras dengan segala keterbatasannya berupaya mengurai alur dari kendaraan bermotor di ruas-ruas yang padat.

Kerja ini memang terlihat sepele kelihatannya, akan tetapi kita semua akan terjebak dalam kemacetan yang luar-biasa , bila jajaran TMC tidak berkerja satuhari bahkan satu jam saja !

Yang patut saya kagumi adalah usaha dari TMC untuk dapat masuk kedalam masalah inti yang dihadapinya dengan banyak cara, termasuk bagaimana untuk bisa masuk kedalam komunitas masyarakat dari berbagai lapisan.   TMC menyadari benar bahwa tanpa dapat masuk kedalam masyarakat luas pengguna jalan terutama lapis bawah, maka mereka tidak akan dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.   Mulai dari penggunaan radio komunikasi para petugas di jalanan yang tidak bisa menghindar dari terik panas dan basahnya hujan, sampai dengan mencoba berdialog dengan para pengguna jalan.   Komunikasi dengan pengguna jalan dilakukan tidak hanya sekedar mengakomodasi para pengendara mobil dan motor secara “face to face” di banyak lokasi yang membutuhkan bantuan Polisi, akan tetapi juga dengan semangat “gaul” mereka melakukannya melalui , radio siaran fm, situs jejaring sosial yang sedang “in” seperti  melalui “facebook”, “twitter”, dan lain-lain.

TMC menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa melakukan hal tersebut maka mereka akan berkerja sia-sia.

Sangat disayangkan, perhatian dari para elit kita tentang kemacetan dan amburadulnya lalulintas jalan raya ini tidak kunjung muncul.   Perhatian Pemda dan Pempus seakan tidak terlihat samasekali.   Mungkin karena mereka semua tidak pernah mengalami kemacetan yang mengganggu, karena selalu jalan menggunakan “ngoeng-ngoeng”, dan kemudian semua pengguna jalan harus minggir untuk memberi jalan kepada mereka.   Tidak jadi mengapa, memang kita harus memberikan toleransi dalam hal ini, akan tetapi cobalah juga memberikan perhatian yang serius terhadap kemacetan lalu lintas jalan raya di Ibukota ini.

Tidak usah menunggu satu atau dua tahun lagi, atau bahkan tahun 2015 yang katanya, mobil dan motor akan tidak mampu lagi bergerak dijalan raya di Jakarta ini.   Cobalah sejenak perhatikan macetnya jalan raya di senin pagi dan jumat malam, serta di hari libur dikawasan puncak, kemacetannya sudah sangat “mengerikan” !

Kerjakeras jajaran TMC PoldaMetro, kiranya tidak berlebihan bila saya sebut mereka sebagai “pahlawan”.   Mereka bekerja 24 jam, dibawah ancaman terik matahari dan basahnya hujan serta makian para pengguna jalanan !   Sekedar hanya untuk membantu para pengguna jalan kelas bawah yang luput dari perhatian.   Masalah yang mengakar pada “konsep” angkutan jalan raya yang tidak tersedia dengan layak bagi rakyat banyak.   Konsep yang terasa berpihak hanya kepada golongan “the have”.  Angkutan umum yang jauh dari layak, telah membuat masyarakat mencari sendiri solusi nya dengan membeli motor.   Jadilah Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia menjadi “lautan-motor” , sebagai solusi pemecahan masalah yang sangat “sektoral”, karena sepertinya sia-sia mengharapkan elit politik negeri ini turun tangan membantu “orang-kecil”.   Kita saksikan para elit negeri yang sibuk sendiri-sendiri.   Sibuk mencari uang 15 M per orang, sibuk saling menjatuhkan satu dengan lainnya, sibuk bank Century, sibuk Anggodo dan Anggoro , sibuk video porno , sibuk nonton bola, serta entah sibuk apalagi yang kesemuanya mencerminkan sikap-sikap yang “sangat individualistis”.   Kesemuanya itu menghasilkan sesuatu yang khas yaitu “semrawut dan amburadul”.

Nah, ditengah kesemrawutan dan keamburadulan itulah, para petugas TMC dengan tidak mengenal lelah, bekerja, paling tidak bagi pengguna jalan raya, untuk membantu mengatasi kesemrawutan dan keamburadulan itu.   Salut dan penghargaan yang tinggi saya layangkan kepada TMC.

Selamat bekerja TMC, walaupun belum kelihatan atau tidak ada elit negeri ini yang menaruh perhatian terhadap masalah utama yang tengah dihadapi yaitu “kemacetan” lalu lintas dimana-mana.

Maju terus TMC, kita semua mendukung dan menghormati kerja anda ! Bravo !

Jakarta 14 Juni 2010

Chappy Hakim

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button