ArticleCaseFlight Commercial

Bila kura-kura bertelur!

Dengan semangat tinggi, dan  dengan berjuang mati-matian, banyak sekali penerbang Garuda yang tetap setia menerbangkan pesawat Garuda berbendera merah putih, walaupun dengan bayaran yang  tidak ada separuhnya dari rekan-rekannya seprofesi dinegara tetangga atau negara lainnya.   Bila mau, dan sudah tidak sedikit dari para penerbang indonesia yang bekerja di banyak Maskapai Negara lain termasuk di Singapore Airlines.    Banyak fasilitas, jaminan hari tua serta “take home pay” yang bisa mereka peroleh di perusahaan asing .   Namun mereka ternyata masih bisa merasa nyaman dengan perolehan yang seadanya dirumah sendiri.

Namun sayangnya, dedikasi dari banyak para penerbang Garuda yang tulus ini, sering disalah artikan oleh “majikan” nya.

Kini dengan kesuksesan yang luar biasa dari Manajemen Garuda, kita dengar sebentar lagi akan “Go-Public” .   Rangkaian kedatangan pesawat-pesawat baru dan modern, juga telah menambah semarak , Maskapai kebanggaan kita ini.    Maka tidak salah bila mengatakan bahwa Garuda Indonesia sekarang telah mencapai tingkat yang mengagumkan.

Bila biasanya Maskapai Penerbangan di era ini mengalami kekurangan penerbang, justru kini Garuda mengalami kondisi kebanyakan Pesawat !   Kesuksesan luar biasa yang tentu saja ditopang oleh pengalamannya yang telah hidup lebih dari 60 tahun !   Divisi Perencanaan Garuda telah bekerja  “beyond call of Duty”, berhasil mengadakan program penambahan armada baru dan modern , namun sayangnya  “kelupaan” merencanakan penambahan penerbang.   Jadilah kini Garuda menjadi Maskapai penerbangan yang kelebihan pesawat.   Tidak tanggung-tangung, kelebihan pesawat baru dan modern.

Nah, konon kabarnya lagi untuk mengatasi masalah kekurangan penerbang eh kelebihan pesawat, maka pihak Garuda akan mengerjakan para Pilot Asing/Bule yang kini banyak menganggur sebagai akibat krisis finansial global.   Tindakan ini terpaksa dilakukan karena sekarang tidaklah mungkin untuk mengadakan penambahan penerbang dalam waktu “instant” alias potong kompas alias memang hoby kita untuk melakukan hal-hal yang dadakan.

Walaupun konon kabarnya lagi sudah diupayakan untuk dapat memperolehnya dari Maskapai Penerbangan yang lain di Indonesia yang Manajemennya, terutama dalam pengelolaan sdm tidak kalah “piawai” dengan divisi perencanaan Garuda.   Namun, sekali lagi konon kabarnya, perundingan mengalami “deadlock”.    Maka oleh sebab itu kiranya  tidak ada jalan lain dalam mengatasi problema ini  selain mencari para pilot bule pengangguran di luar negeri.

Sayangnya lagi, seperti biasa sebagai  “inlander” kalau punya pegawai dari Luar Negeri, apalagi Bule, maka perlakuannya (fasilitas, perhatian dan remunerasi) akan jauh lebih besar dari pegawai negeri awak sendiri.   Jauh lebih besar, walaupun sang pegawai tidak lebih “jago” dari orang  “awak”, bahkan terkadang banyak juga yang lebih “bodo”.

Lalu bagaimana, para penerbang kita yang begitu besar dedikasi dan baktinya kepada sang ibu Pertiwi melihat hal seperti ini ?    Bagaimana mereka yang sudah dengan susah payah mencapai kualifikasi untuk dapat menjadi penerbang , dengan jujur dan rendah hati untuk mau digaji kecil, tiba-tiba harus berhadapan dengan kondisi seperti ini, yang bukan bagian dari pekerjaan dan tanggung jawabnya. Padahal  jauh-jauh bulan sebelum program pengadaan/penambahan pesawat sudah diingatkan tentang hal tersebut.

Sekali lagi kita-kita ini seperti kata Pong Hardjatmo, dibilangin nggak didenger, ditulis nggak dibaca.   Begitu “kefefet” maka jalan pintaslah pilihannya dan kemudian dihimbaulah mereka itu semua, hendaknya mengerti tentang kondisi perusahaan yang sedang krisis .

Krisis?  Lho , katanya sudah mau “go-public” ? Katanya sudah meraih untung Triliunan ?  Katanya baru sukses menjadi Maskapai bintang empat ? Katanya baru sukses buka lin baru ke Eropa ? dan lain dan lain.   Lalu Bagaimana?

“The turtle lays thousands of eggs without anyone knowing, but when the hen lays an egg, the whole country is informed “

Bila kura kura bertelur (ribuan telur), tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi bila ayam bertelur satu saja, maka seluruh dunia digemparkan !

Sophocles pernah berkata : I would prefer even to fail with honor than win by cheating.

Have a nice weekend !

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button