Sejak digunakannya pesawat terbang sebagai sarana angkutan udara yang cepat dan efisien, maka persaingan ketat terjadi antara beberapa pabrik pesawat terbang. Persaingan yang berlangsung itu tentu diiringi dengan lajunya kepesatan teknologi penerbangan.

Menarik untuk diamati ketika pesawat penumpang pada awal tahun 1950 hingga tahun 1960an di dominasi oleh pesawat-pesawat terbang yang hanya bermesin piston (sama dengan mesin yang digunakan untuk mobil).

Pada era ini dikenal beberapa pesawat yang cukup popular seperti DC-3 dan DC-6 serta L-1049 Super Constallation.

Secara bertahap jenis mesin pesawat terbang meningkat kualitasnya. Mesin piston bagi pesawat propeller (baling-baling) dikembangkan menjadi mesin turbo prop yang berkapasitas lebih besar dan mempunyai daya dorong yang lebih tinggi. Pada pesawat yang menggunakan jenis ini kita mengenal antara lain pesawat VC-8 Vickers Viscount dan L-188 Electra.

Beberapa saat kemudian pesawat bermesin turbo prop berkembang lagi dengan ditemukannya mesin turbo jet atau Jet Engine. Pada masa inilah terjadi persaingan yang semakin ketat dari produksi pesawat terbang bermesin Jet.

Terdapat cukup banyak pesawat-pesawat Jet komersial yang berkembang dengan mesin Jet ini seperti antara lain Convair Jet 990 A, DC-9, DC-10, Boeing 737, Boeing 727 dan Boeing 747 yang sangat terkenal itu.

Airbus kemudian menyusul dengan beberapa jenis pesawatnya antara lain A-320, A-340, A-330 dan kemudian yang terakhir sekali adalah Super Jumbo A-380.

Belakangan ini , pesawat terbang tidak hanya menggunakan daya dorong dari mesin jet “full jet engine” akan tetapi sudah menggunakan mesin yang dikenal sebagai mesin jet dari jenis “turbo fan”. Ini adalah jenis mesin Jet yang dapat lebih menghemat bahan bakar.

Persaingan yang terjadi dalam produksi pesawat terbang angkut sipil komersial semakin hari semakin berkembang dan seiring dengan itu telah memacu para ilmuwan untuk bekerja lebih keras dalam melayani permintaan pasar global angkutan udara.

Pada intinya yang terjadi adalah pertandingan besar untuk menciptakan pesawat terbang yang terbang lebih cepat dan yang lebih besar daya angkutnya, dalam membawa penumpang dan barang.

Pada sisi lainnya penggunaan pesawat terbang dihadapkan kepada terbatasnya persediaan bahan bakar yang bisa digunakan dalam penerbangan. Pada akhirnya yang akan berbicara tentu saja masalah efisiensi dalam menekan biaya operasi penerbangan dalam hubungannya dengan pengembangan kemampuan membawa penumpang dan barang serta kecepatan pesawat terbang itu sendiri.

Pada titik inilah kemudian dunia penerbangan sipil komersial juga akan berhadapan dengan bagaimana sebuah fasilitas take off dan landing pesawat serta gedung terminal dapat memfasilitasi hal itu semua.

Menjadi menarik untuk dicermati kemudian, tentang bagaimana persaingan yang terjadi dalam hal meningkatkan kecepatan pesawat terbang sipil komersial.

Dalam hal ini, kita dapat menengok sejenak pada “keberhasilan” Inggris dan Perancis dalam menciptakan pesawat angkut komersial tercepat di dunia. Sebuah pesawat terbang angkut sipil komersial dengan kemampuan terbang melampaui dua kali kecepatan suara atau 2 Mach telah berhasil diproduksi bersama oleh Inggris dan Perancis.

Concorde, adalah sebuah nama yang diberikan bagi pesawat terbang ini. Concorde dapat juga atau bisa berarti: Agreement, Harmony atau Union.

Concorde telah menjadi sebuah pesawat terbang angkut sipil komersial pertama didunia, sebuah pesawat SST, “super sonic transport” idaman para pencinta kedirgantaraan.

Inggris dan Perancis membutuhkan waktu yang tidak kurang dari 12 tahun untuk menciptakan Concorde. Sayangnya kisah sukses itu tidak mengiringi perjalanan pesawat Concorde dalam kiprahnya sebagai pesawat angkut sipil komersial super cepat.

Concorde hanya diproduksi sebanyak 20 pesawat yang 6 diantaranya adalah pesawat yang non komersial.

Dengan hanya digunakan oleh dua Maskapai saja, yaitu British Airways dan Air France, pada rute yang sangat terbatas, Concorde hanya mampu bertahan selama lebih kurang 26 tahun saja sejak terbang perdana pada tanggal 21 Januari 1976 .

Sebuah pesawat terbang angkut sipil komersial yang sangat canggih dengan kemampuan terbang melebihi kecepatan suara ternyata tetap kalah bersaing memperebutkan pasar angkutan udara global.

Tanggal 24 Oktober tahun 2003 tercatat sebagai hari terakhir misi penerbangan pesawat SST produksi bersama Inggris Perancis, Concorde. Sebuah kisah singkat dari ambisi besar sebuah pesawat angkut sipil komersial yang berkecepatan melebihi dari kecepatan suara.

Namun bila kita mencermatinya dari perspektif kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan , kiranya harus diakui bahwa kehadiran Concorde telah mencatatkan sebuah sejarah dalam penerbangan sipil komersial, sebagai pesawat tercepat yang pernah dihasilkan umat manusia penghuni bumi ini.

Catatan lain mengenai pesawat angkut sipil komersial, dunia penerbangan juga mencatat kehadiran pesawat terbang SST lainnya yang pernah dihasilkan oleh Rusia bernama sandi yang diberikan NATO (North Atlantic Treaty Organnization) “Charger” yaitu jenis TU-144.

Bila Concorde diproduksi sebanyak 20 pesawat, maka Charger TU-144 hanya diproduksi sebanyak 16 pesawat saja.

Itulah sekedar gambaran dari ambisi manusia dalam bersaing untuk mewujudkan pesawat penumpang tercepat yang dapat menembus kecepatan suara, namun pada realitanya masih tidak mudah untuk meraih sukses yang setara dengan beberapa jenis pesawat penumpang lainnya.

Ambisi dan realita, adalah dua hal yang tidak mudah untuk dipadukan. Akan tetapi ambisi harus tetap dipelihara untuk mengiringi perjalanan dari kemampuan intelegensi yang dimiliki, seperti yang pernah ditekankan oleh seorang penulis buku kenamaan Walter H. Cottingham, bahwa “Intelligence without ambition is a bird without wings.”

Jakarta 17 Januari 2017
Editor : Wisnubrata