Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Resensi Buku Romansa Americana
    Article

    Resensi Buku Romansa Americana

    Chappy HakimBy Chappy Hakim01/20/2026No Comments8 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Bila mencermati rak buku keluarga, ada jenis buku yang tak pernah sepenuhnya bisa dinilai dengan ukuran akademik.  Akan tetapi justru karena itu ia memiliki daya hidup yang panjang. Romansa Americana karya Chappy Hakim termasuk di dalamnya. Ia lahir sebagai buku perayaan, Celebration of the 37th Wedding Anniversary di tahun 2015, tetapi tampil melampaui fungsi seremoni. Ini bukan sekadar album foto yang dibukukan, bukan pula catatan wisata yang berisi daftar tempat dan jam buka museum. Ia lebih mirip perjalanan yang disusun dari lapisan lapisan waktu, dari jejak kedinasan hingga jejak batin, dari logika institusi hingga kelembutan dalam rumah tangga.

    Sampul depannya sudah memberi isyarat tentang cara buku ini “berbicara”. Sepasang suami istri berdiri di depan White House, simbol kekuasaan yang begitu ikonik. Namun di sisi kanan foto ada papan protes dengan kalimat yang menggugat, seruan pelarangan senjata nuklir, atau setidaknya sindiran getir tentang “hari kiamat yang menyenangkan”. Kontras itu terasa seperti kebetulan yang cerdas. Di satu frame kita melihat negara adidaya, di frame yang sama kita melihat suara jalanan yang menolak untuk tunduk. Di situ, Amerika tidak tampil sebagai panggung steril, melainkan sebagai ruang yang selalu diperdebatkan, selalu hidup, selalu penuh paradoks. Dan buku ini memang bergerak dalam arus yang sama. Ia merayakan, tetapi juga mengamati. Ia hangat, tetapi tidak kehilangan jarak yang kritis.

    Pada sampul belakang, nada buku menjadi lebih personal, lebih domestik, lebih “rumah”. Ada potongan testimoni keluarga, suara anak anak dan cucu cucu, yang menyebut ayah dan mama sebagai pasangan yang saling menopang, supportive, bahkan “power couple”. Mereka menggoda sekaligus memuji, memberi kesan bahwa perayaan 37 tahun perkawinan bukan sekadar angka, melainkan kisah yang betul betul dialami oleh sebuah keluarga. Sentuhan seperti ini sering dianggap remeh dalam kritik sastra, padahal justru di situlah energi isi bukunya. Pembaca menangkap bahwa yang dirayakan bukan kemewahan perjalanan, melainkan daya tahan sebuah kebersamaan.

    Dari bagian kata pengantar, penulis membuka dengan pengantar ringkas tentang Amerika Serikat. Ia menyebut Amerika sebagai negara super power berbentuk republik yang merdeka pada 4 Juli 1776, menyebut Washington DC sebagai ibu kota dan New York City sebagai kota besar, juga menyebut beberapa tujuan wisata populer seperti Hawaii, Los Angeles, dan Las Vegas. Pendahuluan semacam ini bukan hal baru, tetapi fungsinya jelas. Ia menempatkan pembaca yang awam di landasan yang sama terlebih dahulu sebelum diajak berjalan lebih jauh.

    Yang menarik, setelah pembukaan umum itu, penulis segera menggeser pusat cerita pada pengalaman pribadinya. Amerika dalam Romansa Americana adalah Amerika yang dijumpai berkali kali, dengan motif yang berbeda pada tiap periode kehidupan. Ada kunjungan dalam konteks pelatihan dan dunia penerbangan, ada kunjungan dalam konteks jabatan dan diplomasi pertahanan, ada kunjungan dalam konteks pensiun dan perjalanan yang lebih santai. Pembaca seolah menyaksikan peta yang sama, tetapi dilihat dengan usia yang berbeda, tanggung jawab yang berbeda, dan tentu saja, rasa yang sangat berbeda.

    Di sinilah kelebihan utama buku ini. Banyak catatan perjalanan terasa seragam karena perspektif penulisnya serupa. Mereka memotret tempat, memuji makanan, mengeluhkan cuaca, lalu selesai. Chappy Hakim membawa perspektif yang jarang dimiliki penulis travelogue biasa. Ia datang dari dunia penerbangan, dunia yang membentuk cara pandang tentang disiplin, ketepatan, prosedur, dan kesadaran bahwa ruang udara bukan sekadar langit biru, melainkan sebuah sistem. Maka ketika penulis bercerita tentang Amerika, kita tidak hanya diajak melihat gedung, melainkan juga jaringan pengalaman yang melekat pada institusi institusi tertentu, seperti pelatihan simulator, misi penerbangan, kunjungan kerja, konferensi, dan pertemuan profesional. Ini membuat Amerika dalam buku ini terasa “berstruktur”, bukan sekadar “berwarna”.

    Buku ini tidak terjebak menjadi laporan kedinasan. Ia tetap perayaan. Perjalanan tidak hanya berfungsi sebagai catatan tempat, tetapi sebagai latar untuk melihat hubungan suami istri yang telah menempuh rentang waktu 37 tahun. Pada usia perkawinan seperti itu, romansa tidak lagi hadir sebagai letupan. Ia hadir sebagai kebiasaan yang dipilih berulang ulang. Ia hadir sebagai kesediaan untuk memahami kekurangan yang sama, berkali kali, tanpa bosan. Di sini, buku ini memberi definisi romansa yang lebih dewasa. Romansa bukan lagi soal kata manis, tetapi soal ketabahan, humor kecil, dan kemampuan menertawakan diri sendiri.

    Ada daya tarik tersendiri ketika penulis, yang dikenal publik sebagai figur yang tegas dalam urusan strategi dan kebangsaan, memilih menulis buku perayaan perkawinan dengan latar Amerika. Seolah ada pesan halus bahwa kehidupan manusia tidak pernah tunggal. Kita bisa berbicara tentang banyak negara, kekuasaan, dan keamanan, tetapi kita juga tetap manusia yang pulang ke rumah, meneguk teh, dan merapikan kenangan bersama pasangan. Di titik ini Romansa Americana terasa seperti penyeimbang. Ia menampilkan wajah lain dari seorang tokoh publik, tanpa harus menjadi format curhat yang murahan. Buku ini tetap menjaga martabat narasi, tetapi tidak takut menjadi hangat.

    Secara gaya, Romansa Americana cenderung mengalir, mudah dibaca, dan tidak membebani pembaca dengan teori. Ini gaya yang cocok untuk buku perayaan. Pembaca tidak datang untuk diuji, melainkan untuk diajak berjalan. Tetapi justru karena ia memilih gaya yang ringan, tantangannya juga muncul. Buku semacam ini rentan terperosok menjadi terlalu “internal”, terlalu cocok untuk keluarga sendiri, kurang menggigit bagi pembaca umum. Pertanyaannya, apakah Romansa Americana berhasil keluar dari jebakan itu.

    Jawabannya tentu saja sangat bergantung pada apa yang dicari pembaca. Jika pembaca mencari informasi detail ala guidebook, tentu tidak. Jika pembaca mencari analisis sosial politik Amerika yang tebal, juga tidak. Tetapi jika pembaca mencari kisah perjalanan yang memadukan pengalaman profesional, potret budaya, dan gema kehidupan keluarga, buku ini punya daya yang kuat. Ia menawarkan pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh artikel wisata di internet. Keistimewaannya ada pada “konteks hidup”. Amerika yang dilihat seorang penulis yang pernah terlibat dalam dunia penerbangan dan hubungan kelembagaan tentu berbeda dari Amerika yang dilihat turis biasa. Dan perbedaan perspektif itu adalah sebuah nilai tambah.

    Salah satu aspek yang patut dicatat ialah keberhasilan sampul depan sebagai “pintu makna”. White House dan papan protes tentang nuklir bukan sekadar ornamen visual. Ia menyiratkan tema besar yang bisa terus ditarik sepanjang pembacaan bahwa di balik kemegahan, selalu ada kegelisahan. Negara adidaya pun menyimpan ketakutan, memproduksi kritik, dan memelihara debat. Jika pembaca peka, mereka akan membaca foto itu sebagai metafora. Bahwa romansa pun demikian. Di balik foto perayaan, selalu ada sejarah panjang negosiasi batin, masa sulit, dan pilihan pilihan yang tidak terlihat.

    Dalam konteks Indonesia, buku seperti ini juga menarik karena memberi contoh tradisi yang belum cukup mapan di kita, tradisi menuliskan perjalanan hidup tanpa harus menunggu menjadi “sejarah besar”. Banyak orang Indonesia menyimpan perjalanan sebagai cerita lisan, sebagai album yang menua di lemari. Romansa Americana menunjukkan bahwa pengalaman personal, jika ditulis dengan niat yang rapi, dapat menjadi bacaan yang memberi inspirasi tanpa perlu berkhotbah. Ia memberi pesan halus bahwa keluarga pun berhak punya arsip, berhak punya narasi, berhak merayakan dirinya sendiri.

    Tentu saja ada beberapa hal yang bisa dipertajam jika buku ini ingin menembus pembaca yang lebih luas. Misalnya, pembaca koran biasanya menyukai detail detail kecil yang tajam, yang membuat suatu tempat terasa hidup. Aroma, bunyi, percakapan singkat, kejadian remeh yang justru membuka makna. Bila detail semacam ini lebih banyak, buku akan makin “mengikat” pembaca yang tidak memiliki kedekatan personal dengan penulis. Selain itu, refleksi refleksi yang muncul bisa dibuat lebih “menohok” pada beberapa bagian, bukan dalam arti menyerang, tetapi dalam arti memberi simpul simpul pemikiran yang membuat pembaca  terpaksa untuk berhenti sejenak.

    Namun, kritik itu harus ditempatkan dengan adil. Romansa Americana bukan proyek ambisius untuk memenangkan perdebatan intelektual. Ia adalah buku perayaan yang ingin menyimpan jejak, mengabadikan kebersamaan, dan menutup sebuah bab kehidupan dengan nada syukur. Dalam tujuan itu, ia bekerja dengan baik. Ia terasa seperti surat cinta yang sopan. Bukan surat cinta yang meledak ledak, melainkan surat cinta yang sudah matang, yang tidak perlu banyak kata untuk menyatakan kesetiaan.

    Ada satu hal lagi yang membuat buku ini relevan di tengah zaman yang serba cepat. Kita hidup di era hubungan pendek, serba instan, dan mudah dibuang. Perkawinan 37 tahun dalam lanskap sosial kita hari ini adalah sebuah prestasi sosial sekaligus prestasi psikologis. Romansa Americana tidak menggurui pembaca dengan resep. Ia hanya menunjukkan bahwa ketahanan itu mungkin, bahwa kebersamaan bisa dipelihara, dan bahwa merayakan perjalanan bersama pasangan bukan tindakan sentimentil, melainkan tindakan bermartabat.

    Demikianlah, buku ini mengajak pembaca untuk melihat romansa sebagai perjalanan panjang, semacam penerbangan jarak jauh. Kadang cuaca cerah, kadang turbulensi. Kadang kita menatap keluar jendela dan merasa dunia indah, kadang kita menunduk dan lelah. Tetapi pesawat tetap harus dijaga agar stabil, bukan oleh satu orang, melainkan oleh kerja sama, kepercayaan, dan prosedur yang disepakati berdua. Jika analogi ini terasa dekat dengan penulis, itu karena latar hidupnya memang membuat “penerbangan” menjadi bahasa kedua. Dan mungkin itulah inti yang paling halus dari Romansa Americana. Ia mengingatkan kita bahwa cinta pun butuh navigasi.

    Bagi pembaca yang ingin bacaan ringan namun berkelas, yang memberi rasa hangat tanpa kehilangan konteks pengalaman dunia, Romansa Americana bisa menjadi teman yang menyenangkan. Ia tidak menuntut, tidak mengintimidasi, tetapi memberi sesuatu yang jarang sekali yaitu kesaksian tentang kebersamaan yang menua dengan anggun. Dan di zaman ketika banyak orang menertawakan komitmen sebagai beban, buku ini diam diam menunjukkan bahwa komitmen justru bisa menjadi bentuk kebebasan yang paling dewasa.

    Jakarta  10 Januari 2026

    Tim Editor NetralNews.com

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticlePerkembangan Global Pasca Perang Dunia II Antara Multilateralisme dan Gelombang Nasionalisme Baru
    Next Article Apa itu Cape Town Convention
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Rafale dan Makna “Generasi 4,5” dalam Modernisasi serta Diversifikasi Sistem Senjata

    01/20/2026
    Article

    Rafale, Diversifikasi Armada AU, dan Ujian Nyata Kemandirian Industri Pertahanan

    01/20/2026
    Article

    Apa itu Cape Town Convention

    01/20/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.