Buku berjudul Filsafat Intelijen, Kritik terhadap Praktik Intelijen Global karya A M Hendropriyono ini sejak sampulnya sudah memberi isyarat bahwa yang dibahas bukan sekadar teknik pengumpulan informasi atau cerita operasi rahasia belaka. Visual bumi yang terhubung oleh titik-titik cahaya seperti jejaring digital itu seolah berbicara bahwa intelijen hari ini hidup di ruang tanpa batas, bergerak melampaui pagar negara, menyeberang moral, dan kadang melompati hukum. Judulnya sangat tegas, bahkan cenderung agak provokatif, karena mengawinkan dua kata yang jarang duduk sejajar dalam percakapan populer kita yaitu filsafat dan intelijen. Yang satu dianggap wilayah renungan, yang satu lagi identik dengan dunia sunyi, keras, dan penuh rahasia.
Pada bagian pengantar, penulis menancapkan argumen utamanya dengan nada yang sangat lugas. Di tengah derasnya globalisasi dan persaingan geopolitik yang kian brutal, intelijen tidak lagi sekadar alat bantu negara, melainkan kerap tampil sebagai alat kekuasaan yang bisa mengubah nasib dari sebuah bangsa. Pada titik tertentu, intelijen bahkan disebut dapat melampaui batas, memproduksi destabilisasi, kekerasan, dan penderitaan massal di berbagai penjuru dunia. Dari sini pembaca akan segera paham bahwa buku ini bukan puja-puji dunia intelijen, melainkan justru sebuah ajakan untuk mengauditnya secara moral. Ada semacam kegelisahan yang terasa sangat personal, tetapi kemudian dibingkai sebagai tanggung jawab akademik, sebuah seruan agar praktik intelijen tidak dibiarkan berjalan hanya dengan logika menang kalah, salah atau benar.
Menariknya adalah penulis tidak berhenti pada sekedar kritik. Ia mengusulkan sebuah disiplin yang ia sebut Filsafat Intelijen, sebuah cara berpikir yang menyelidiki bagaimana intelijen bekerja, untuk apa ia bekerja, dan untuk siapa ia bekerja. Kalimat terakhir itu, untuk siapa, terasa seperti sebuah kunci yang menentkan. Sebab banyak tragedi politik dunia bukan lahir dari ketiadaan informasi, melainkan dari informasi yang sengaja diarahkan, dipelintir, atau dioperasionalkan untuk tujuan yang tidak pernah diumumkan ke publik. Buku ini seperti ingin menegaskan bahwa masalah utama intelijen bukan selalu soal akurasi data, melainkan soal orientasi kekuasaan ditengah dinamika power struggle yang bergulir tiada henti.
Kerangka pembahasan diperlihatkan lewat daftar isi yang padat. Setelah pendahuluan yang memuat urgensi filsafat intelijen dan kesadaran moral, pembaca diajak masuk ke bab tentang paradigma intelijen global dan krisis etika. Di sini penulis menghadirkan rentetan studi kasus yang menyapu beberapa dekade dan beberapa benua, dari Iran 1953, Guatemala 1954, Chile 1973, Vietnam dan Laos, sampai Haiti 1991. Ia juga menyentuh operasi operasi yang sudah menjadi mitologi gelap dunia intelijen modern seperti Operasi Gladio, juga tema yang sering memancing debat panjang seperti operasi Israel, peristiwa Tiananmen, Libya 2011, Arab Spring, Rusia Ukraina, sampai episode kontemporer yang menunjukkan wajah baru pertarungan informasi di era digital. Kehadiran kasus-kasus itu memberi kesan bahwa buku ini memang sengaja disusun sebagai semacam atlas etika yang tengah retak, peta tentang bagaimana negara kuat dan berbagai aktor dapat membengkokkan realitas melalui kerja intelijen kapan saja.
Bagi pembaca Indonesia, bagian yang terasa dekat dipastikan adalah ketika daftar isi memuat topik Operasi CIA di Indonesia, Tragedi 1965, isu Papua, serta pembacaan kritis mengenai manipulasi pasca 1998 melalui lembaga donor, LSM, dan media. Ini bukan bagian yang netral secara emosi, karena sejarah Indonesia memang menyimpan banyak ruang gelap yang selalu menggoda untuk ditafsir berulang-ulang. Kehadiran topik-topik itu memberi sinyal bahwa penulis ingin membawa diskusi intelijen turun dari langit teori dan masuk ke tanah air, ke luka dan pelajaran yang masih hidup dalam ingatan kolektif. Pada saat yang sama, pilihan tema ini juga menuntut pembaca bersikap dewasa, karena buku semacam ini akan memancing perbedaan tafsir, bahkan perdebatan ideologis yang sangat tajam.
Bab berikutnya menjadi bagian yang paling khas Indonesia. Penulis menempatkan Pancasila bukan sebagai slogan upacara, melainkan sebagai paradigma intelijen Indonesia. Ada pembahasan tentang Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 sebagai kompas moral dan peta jalan, lalu analisis filosofis per sila yang diarahkan dapat menjadi etika intelijen. Ia bicara implementasi, perbedaan paradigma Indonesia dan Barat, sampai gagasan kerangka etika operasional intelijen Pancasilais. Di titik ini, buku ini tampil seperti manifesto, Indonesia tidak boleh sekadar menjadi penonton praktik intelijen global yang keras, melainkan harus punya tata nilai sendiri yang berakar pada moral publik dan mandat konstitusional khas bumi Nusantara.
Yang lebih tidak lazim lagi, dan justru menjadi menarik adalah bab mengenai metafisika dan ontologi dalam intelijen. Penulis mengajak pembaca memikirkan kedudukan metafisika dan ontologi sebagai fondasi cara berpikir, bahkan membawa nama-nama dari Plato hingga Ranggawarsita. Lalu muncul istilah ontologi strategis, juga gagasan bahwa kegagalan operasi intelijen dapat terjadi bukan semata karena kesalahan teknis, tetapi karena kesalahan ontologis, salah memahami apa yang sungguh ada, siapa aktornya, bagaimana niat tersembunyi bekerja, dan bagaimana realitas sosial politik dibentuk. Ini bagian yang membuat buku tersebut berbeda dari buku intelijen yang biasanya hanya menonjolkan metode atau kisah kisa operasi saja. Penulis seakan berkata bahwa perang paling berbahaya tidak selalu terjadi di lapangan, melainkan di kepala, pada cara kita mendefinisikan kenyataan. Manajemen konflik memang berawal dari pikiran sendiri, orang per orang secara individual.
Nada penutup yang tercetak di halaman awal juga menguatkan semangat itu. Ada motto Pacem et Lumen ex Corde Indonesiae, damai dan cahaya dari hati Indonesia, serta harapan agar buku ini menjadi bagian dari ikhtiar kolektif membangun tatanan dunia baru yang lebih adil, rasional, dan bermartabat serta manusiawi. Ini bukan kalimat kecil. Ia menaruh Indonesia bukan di pinggir, melainkan di tengah, sebagai subjek moral yang berani menawarkan arah di tengah dunia yang sering memuja efektivitas tetapi lupa kebajikan, lupa aspek kemanusiaan.
Sebagai sebuah resensi, saya melihat kekuatan utama buku ini ada pada keberaniannya membuka ruang yang jarang disentuh secara terang, intelijen sebagai wilayah etik, bukan hanya wilayah taktik. Struktur yang dipenuhi studi kasus membuat pembaca punya jangkar empiris, sementara bab Pancasila dan ontologi memberi kedalaman konseptual yang tidak umum. Tantangan bukunya juga jelas. Karena medan intelijen sarat kontroversi, pembaca yang berharap narasi serba final mungkin akan tergoda untuk menerima atau menolak secara emosional. Padahal nilai buku ini justru terletak pada ajakannya untuk berpikir panjang, menguji motif, menimbang dampak, dan mengembalikan praktik intelijen ke pertanyaan paling dasar tentang keadilan, martabat manusia, dan kepentingan bangsa.
Buku ini cocok dibaca oleh mahasiswa ilmu politik, hubungan internasional, studi keamanan, hukum, jurnalis investigasi, juga para pengambil kebijakan yang ingin memahami bahwa perang modern tidak selalu berwujud peluru. Ia juga relevan bagi publik yang ingin melihat bagaimana kekuasaan bekerja melalui jalur sunyi dan senyap. Buku Filsafat Intelijen mengingatkan kita bahwa negara boleh punya rahasia, tetapi negara tidak boleh kehilangan kompas. Intelijen boleh bekerja dalam senyap, tetapi moral bangsa tidak boleh ikut menghilang dalam gelap. Buku ini seolah memgingatkan kepada kita semua bahwasanya : ”Kita bukanlah apa yang kita ketahui, akan tetapi apa yang kita mau pelajari” Itulah yang akan menjadi pedoman arah kemana kita akan pergi. Arah yang menjurus menuju pengabdian kepada Negeri. Country Before Self ! Bukan seperti yang diingatkan Bung Karno : USDEK, Untuk Saya Dulu Engkau Kemudian.
Selamat Membaca !
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia
Top of Form
Bottom of Form

