Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Obituari Jürgen Habermas (1929-2026)
    Article

    Obituari Jürgen Habermas (1929-2026)

    Chappy HakimBy Chappy Hakim03/18/2026No Comments5 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pada tanggal 14 Maret 2026, dunia intelektual berduka. Jürgen Habermas, filsuf dan sosiolog Jerman yang pengaruhnya menembus batas-batas disiplin ilmu dan generasi, telah meninggal dunia di usia 96 tahun di Starnberg, dekat Munich . Kepergiannya menandai pupusnya satu era pemikiran kritis yang telah membentuk wajah demokrasi modern, tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Eropa dan dunia. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dengan tepat menyebutnya sebagai “salah satu pemikir paling penting di zaman kita” . Namun, gelar tersebut terasa dangkal jika tidak menyelami kedalaman sumbangsihnya bagi peradaban. Habermas lahir di Düsseldorf pada 18 Juni 1929, di tengah gejolak Republik Weimar dan kebangkitan Nazisme . Masa mudanya diwarnai oleh pengalaman traumatis ketika ia menjadi anggota Deutsches Jungvolk, sayap Pemuda Hitler, dan menyaksikan secara langsung kekejaman rezim Nazi . Kekalahan Jerman pada 1945, saat ia berusia 15 tahun, menjadi titik balik fundamental. Kesadaran bahwa ia hidup dalam “sistem kriminal politik” membawanya pada pertanyaan mendasar tentang bagaimana sebuah peradaban bisa terjerumus ke dalam barbarisme? Pertanyaan inilah yang kemudian mengantarnya ke dunia filsafat dan teori sosial, dengan misi seumur hidup untuk memastikan Holocaust tidak terulang kembali .

    Menariknya, fondasi pemikirannya tentang komunikasi juga dibentuk oleh pengalaman pribadi yang menyakitkan. Habermas lahir dengan langit-langit mulut sumbing yang memerlukan operasi berulang kali dan menyebabkan gangguan bicara . Pengalaman sulit untuk dipahami orang lain ini justru membuatnya menyadari betapa pentingnya bahasa sebagai “lapisan kesamaan yang tanpanya kita sebagai individu tidak dapat eksis” . Ironisnya, seorang pemikir yang karyanya terkenal padat dan sulit dicerna ini justru mendasarkan seluruh proyek intelektualnya pada kekuatan dialog yang jernih. Karier akademiknya dimulai di Frankfurt, di mana ia bergabung dengan Institut für Sozialforschung (Institut untuk Penelitian Sosial), pusat dari Mazhab Frankfurt . Bersama pendahulunya seperti Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, Habermas mewarisi tradisi “teori kritis”. Namun, ia membawa tradisi ini ke arah baru yang lebih optimis. Jika generasi pertama Mazhab Frankfurt pesimis melihat nalar telah gagal dan berubah menjadi alat dominasi, Habermas justru mencari sisi terang nalar. Ia membedakan antara “nalar instrumental” yang digunakan untuk menguasai alam dan manusia, dengan “nalar komunikatif” yang berpotensi membawa manusia pada konsensus dan emansipasi .  Puncak dari pemikirannya terangkum dalam karyanya yang monumental, The Theory of Communicative Action (Teori Tindakan Komunikatif) terbitan 1981 . Dalam karya dua jilid ini, Habermas membangun teori masyarakat yang kompleks, di mana interaksi sosial tidak hanya digerakkan oleh kekuasaan dan uang, tetapi juga oleh tindakan komunikatif, sebuah interaksi yang diarahkan untuk mencapai pemahaman bersama. Ia percaya bahwa dalam setiap tindak tutur, sebenarnya tersirat klaim-klaim universal tentang kebenaran, ketepatan, dan ketulusan yang dapat diuji dalam diskusi rasional. Inilah yang menjadi fondasi bagi etika diskursusnya yakni sebuah norma hanya sah jika mendapat persetujuan dari semua pihak yang terlibat dalam dialog yang bebas dan setara.

    Karya yang paling abadi dan relevan hingga saat ini mungkin adalah konsep “ruang publik” (public sphere) yang ia perkenalkan dalam buku pertamanya, The Structural Transformation of the Public Sphere (1962) . Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai ranah kehidupan sosial di mana warga negara dapat berkumpul, berdiskusi, dan membentuk opini publik yang bebas dari kontrol negara dan kepentingan ekonomi semata . Di sinilah demokrasi yang sehat menemukan denyut nadinya. Ia mengkritik bagaimana industri budaya dan media massa modern justru “mengkolonisasi” ruang publik ini, mengubah warga negara yang aktif dan kritis menjadi konsumen pasif yang menerima opini dari atas . Gagasannya tentang ruang publik ini menjadi sangat relevan di era media sosial saat ini, di mana ruang dialog begitu terfragmentasi dan dibanjiri disinformasi. Sepanjang hidupnya, Habermas tidak pernah menjadi pemikir yang berdiam diri di menara gading. Ia adalah intelektual publik sejati yang kerap memberikan pendapatnya tentang isu-isu politik paling krusial . Pada 1980-an, ia menjadi tokoh sentral dalam Historikerstreit (Perselisihan Para Sejarawan), dengan gigih menentang upaya sejarawan konservatif untuk merevisi sejarah dan mengecilkan keunikan kejahatan Nazi dengan membandingkannya dengan rezim lain seperti Stalinis . Ia adalah pendukung kuat integrasi Eropa, melihat Uni Eropa sebagai benteng terbaik melawan kebangkitan nasionalisme . Ia juga tidak segan mengkritik kanselir negaranya sendiri, dari Angela Merkel yang ia anggap terlalu teknokratis hingga kebijakan luar negeri yang dinilainya kurang visioner .

    Bahkan di usia senja, nalar kritisnya tidak pernah padam. Pada 2021, ia menolak hadiah bergengsi senilai €225.000 dari Uni Emirat Arab karena dinilai bertentangan dengan prinsip kebebasan berpendapat dan demokrasi yang ia junjung . Hingga akhir hayatnya, ia terus menulis. Buku terakhirnya, Things Needed to Get Better, terbit pada Desember 2025, menjadi bukti bahwa ia tidak pernah membiarkan pesimisme menguasai kata terakhirnya . Ia percaya, demokrasi bergantung pada keyakinan masyarakat bahwa masih ada ruang untuk secara kolektif membentuk masa depan yang menantang . Dengan kepergian Jürgen Habermas, dunia kehilangan seorang raksasa pemikiran yang warisannya akan terus terpatri. Ia mewariskan kepada kita sebuah perangkat analisis yang tajam untuk membaca realitas sosial, dan yang lebih penting, sebuah optimisme metodologis, bahwa melalui komunikasi yang bebas, rasional, dan setara, manusia dapat melampaui kepentingan sempitnya dan membangun konsensus untuk kehidupan bersama yang lebih baik. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin terpolarisasi, seruan Habermas untuk kembali berdialog adalah warisan yang tak ternilai. Suaranya akan sangat dirindukan, walau jasadnya telah tiada.

    Jakarta  15 Maret 2026

    Chappy Hakim

    Disusun dari berbagai sumber

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleAmerica versus Iran
    Next Article Obituari Dudi Sudibyo
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Belajar dari Iran

    03/18/2026
    Article

    Perkuat Sumber Daya Insan Dirgantara, PSAPI Hibahkan Buku ke Dinas Psikologi TNI AU

    03/18/2026
    Article

    Obituari Dudi Sudibyo

    03/18/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.