Banyak cara dari lahirnya sebuah lagu. Ada lagu yang lahir bukan dari agenda rapat, bukan dari kalkulasi pasar, bahkan bukan dari ambisi untuk “mencetak hit”. Ia lahir dari sesuatu yang lebih manusiawi, lebih sunyi, dan justru karena itu terasa abadi. Let It Be adalah salah satunya. Menjelang akhir dekade 1960-an, The Beatles sedang berada di persimpangan yang tidak nyaman. Mesin kreatif mereka masih kuat, tetapi suasana batin di dalam band mulai retak oleh kelelahan, perebutan arah, dan urusan bisnis yang kian menyita energi. Proyek yang semula bernama Get Back dirancang sebagai “kembali ke akar”, kembali bermain seperti dulu, sederhana, live, tanpa terlalu banyak lapisan studio. Namun kenyataan di ruang latihan tidak selalu seindah niat. Hari-hari di Twickenham pada Januari 1969 terekam kamera dalam atmosfer yang kaku, dingin, dan sering terasa seperti orang bekerja sambil menahan napas.
Di tengah tekanan itu, Paul McCartney membawa sebuah “pegangan” yang datang bukan dari manajer, bukan dari produser, melainkan dari mimpi. Ia pernah bercerita bahwa pada masa yang gelap dan penuh kecemasan itu, ia bermimpi bertemu ibunya. Nama ibunya Mary, Mary Mohin McCartney, yang wafat ketika Paul masih remaja. Dalam mimpi itu, sang ibu hadir menenangkan, seolah berkata tidak perlu panik, tidak perlu memaksa, biarkan saja mengalir. Dari rasa teduh itulah muncul kalimat yang kemudian jadi inti lagu, “let it be”.
Karena itulah “Mother Mary” di pembuka liriknya menjadi salah satu baris paling sering disalahpahami. Banyak orang mengaitkannya dengan figur religius yang lain. Paul sendiri beberapa kali menegaskan bahwa inspirasi awalnya sangat literal dan personal, ibunya bernama Mary, sebuah kunjungan singkat dalam mimpi yang memberi rasa damai di tengah situasi yang bising. Selebihnya, ia membiarkan publik menafsir, sebab lagu yang baik memang sering punya ruang bagi pendengar untuk menemukan cermin dirinya sendiri.
Let It Be tumbuh sebagai lagu yang membawa watak “doa” tanpa harus menggurui. Struktur harmoni dan alurnya sederhana, nyaris seperti himne, tetapi justru kesederhanaan itu yang membuatnya kuat. Ia tidak memamerkan kerumitan, ia menawarkan kalimat pendek yang bisa dipakai siapa saja saat hidup terasa buntu. Ketika malam sedang keruh, “there will be an answer” adalah kalimat yang terdengar seperti pegangan kecil agar orang tidak jatuh.
Lagu itu kemudian masuk ke arus kerja Get Back. Kamera merekam band yang berusaha menghidupkan kembali kebersamaan, berpindah dari Twickenham ke Apple Studio, dan suasana sempat membaik terutama setelah Billy Preston ikut bergabung di kibor. Dalam rentang sesi inilah Let It Be dibentuk, diulang, disederhanakan, dicari nadinya. Ia bukan lagu yang jatuh dari langit dalam bentuk final ia ditempa lewat latihan, pengambilan ulang, dan keputusan-keputusan kecil tentang tempo, rasa vokal, sampai penempatan solo gitar.
Secara rekaman, Let It Be punya jejak yang agak berliku, seperti kisah The Beatles sendiri pada fase akhir itu. Versi dasar direkam di Apple pada 1969, lalu ada sesi tambahan dan perbaikan pada 1970. Catatan rilis menunjukkan single Let It Be keluar lebih dulu pada 6 Maret 1970, dengan produser George Martin, sebelum album Let It Be menyusul pada 8 Mei 1970 yang kemudian diproduseri Phil Spector. Di sinilah bagian “drama studio” ikut menempel pada cerita lahirnya lagu. Versi single yang ditangani George Martin cenderung lebih “rapi” dan lebih hemat dalam menonjolkan orkestrasi. Sementara versi album, saat proyek diserahkan kepada Phil Spector, menghadirkan pendekatan yang lebih besar dan lebih teatrikal, dengan orkestrasi dan paduan suara yang lebih menonjol, juga perbedaan nuansa pada bagian solo gitar. Perbedaan ini kelak menjadi salah satu pemantik perdebatan internal, karena tidak semua personel menyukai arah “diperbesar” itu, meski di sisi lain publik mendengar hasil akhirnya sebagai sesuatu yang megah dan emosional.
Kalau kita mundur sedikit dari urusan teknis, inti kisah Let It Be tetap kembali ke satu hal yang sederhana. Lagu ini lahir saat sebuah kelompok yang paling terkenal di dunia sedang mengalami kelelahan yang paling manusiawi. Di puncak reputasi, mereka justru sedang mencari cara untuk bertahan sebagai teman kerja, sebagai sahabat lama, sebagai empat orang yang pernah berbagi mimpi yang sama. Proyek Get Back sendiri pada dasarnya adalah upaya “mengembalikan kewarasan”, kembali bermain bersama tanpa terlalu banyak ornamen. Dalam konteks itu, Let It Be terasa seperti surat kecil dari Paul untuk dirinya sendiri, dan tanpa sengaja menjadi surat berupa pesan untuk dunia.
Barangkali itulah mengapa Let It Be tidak pernah benar-benar menua. Ia tidak terikat pada satu peristiwa politik, tidak tergantung pada mode musikal tertentu, tidak juga memerlukan pengetahuan tentang sejarah The Beatles untuk bisa dirasakan. Ia bekerja pada level yang paling dasar. Saat orang kehilangan pegangan, kalimat “let it be” bukan ajakan menyerah, melainkan ajakan berhenti sejenak agar kepala tidak pecah, agar hati tidak membatu, agar kita bisa melihat pintu keluar dengan lebih jernih. Untuk maju kembali.
Ketika orang bertanya bagaimana Let It Be tercipta, jawabannya bukan sekadar daftar tanggal rekaman atau nama produser. Lagu ini tercipta karena di tengah badai, seseorang bermimpi didatangi ibunya, lalu bangun dengan rasa tenang yang jarang datang pada masa itu. Rasa tenang itu yang ia jadikan melodi, ia jadikan kata-kata, lalu ia nyanyikan bersama tiga orang lain yang sedang sama-sama lelah. Selebihnya adalah sejarah, dan sejarah kadang memang dimulai dari hal yang sangat kecil, sebuah mimpi, sebuah bisikan, dan keberanian untuk percaya bahwa “akan ada jawaban”. There will be an answer.Let it Be. Let it Be !
Jakarta 27 Desember 2025
Chappy Hakim, penggemar The Beatles

