Mark Twain, yang bernama asli Samuel Langhorne Clemens, adalah salah satu figur paling berpengaruh dalam sastra dan budaya Amerika. Lahir di Florida, Missouri, pada 30 November 1835 dan tumbuh besar di kota kecil Hannibal di tepi Sungai Mississippi, Twain mengubah pengalaman masa kecilnya di sungai, pelabuhan, dan kota pinggiran itu menjadi bahan baku kisah-kisah yang hingga kini dianggap klasik dunia. Di balik rambut putih acak-acakan dan jas putih yang ikonik, tersembunyi sosok penulis yang tajam, jenaka, sekaligus getir dalam memandang bangsanya sendiri.
Sebagai penulis, Twain mengawali kariernya sebagai jurnalis dan penulis cerita pendek. Ia memakai nama pena “Mark Twain”, istilah dari dunia pelayaran sungai yang berarti kedalaman aman bagi kapal. Dari profesi itu ia membangun gaya bertutur yang khas yaitu lugas, penuh dialog hidup, dan sarat humor. Karya-karya besarnya seperti The Adventures of Tom Sawyer dan Adventures of Huckleberry Finn tidak hanya bercerita tentang petualangan anak-anak, tetapi juga menyingkap wajah Amerika dalam kemunafikan sosial, rasisme, kekerasan, dan pertarungan antara hati nurani dengan aturan-aturan yang korup. Banyak kritikus menyebut Huckleberry Finn sebagai “novel Amerika pertama yang sejati” karena keberaniannya memotret realitas dengan bahasa rakyat biasa, bahasa sehari hari.
Humor adalah senjata utama Mark Twain. Ia membuat pembacanya tertawa, namun di balik tawa itu selalu ada sindiran yang menyengat. Lewat ceramah, esai, dan novel-novelnya, ia mengkritik perbudakan, perang, kolonialisme, dan kerakusan kapitalisme. Ironi dan sarkasme menjadi cara Twain mengajak masyarakat bercermin. Ia tidak menggurui secara langsung, tetapi menampilkan situasi yang begitu konyol hingga pembaca sendiri menyadari absurditasnya. Humor Twain bukan sekadar hiburan, itu adalah bentuk perlawanan halus terhadap kebodohan dan ketidakadilan. Kehidupan Twain sendiri penuh kontradiksi. Di satu sisi, ia menikmati popularitas besar sebagai “humorist nasional” dan sering berkeliling memberikan ceramah yang selalu penuh penonton. Di sisi lain, ia mengalami pukulan-pukulan berat berupa kebangkrutan karena investasi bisnis yang gagal, kematian istri dan anak-anak, serta rasa pahit terhadap perang dan politik yang ia lihat kian korup. Dalam tulisan-tulisan akhir hidupnya, nada Twain berubah semakin gelap dan sinis. Di sana tampak seorang moralist yang kecewa terhadap bangsanya, namun tetap tak henti menguliti kemunafikan dan kebiadaban yang diselubungi retorika kemajuan.
Warisan terbesar Mark Twain bukan hanya deretan judul bukunya, tetapi dari caranya memandang dunia. Dari dirinya kita belajar bahwa sastra bisa menjadi cermin yang jujur namun juga lucu bahwa humas bisa menyelamatkan akal sehat di tengah zaman yang absurd. Twain mengajarkan pentingnya keberanian untuk menertawakan diri sendiri, masyarakat, dan kekuasaan bukan demi sinisme, melainkan untuk memaksa kita berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya dianggap normal. Ia juga menunjukkan betapa kuatnya suara dari pinggiran, kisah bocah liar di tepi Mississippi bisa mengguncang cara satu bangsa memahami dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Mark Twain adalah contoh bagaimana seorang penulis dapat menjadi sekaligus penghibur dan pengganggu kenyamanan. Kalimat-kalimatnya yang tajam, jenaka, dan sering dikutip hingga hari ini, mengingatkan bahwa bahasa dapat menjadi alat untuk membuka topeng kemunafikan. Melalui tokoh-tokoh seperti Tom Sawyer dan Huckleberry Finn, ia mengajukan pertanyaan sederhana tetapi mendasar yaitu apakah kita berani mengikuti suara hati nurani, sekalipun bertentangan dengan arus besar zaman? Itulah pelajaran abadi dari Mark Twain bahwa di balik tawa yang lepas, selalu ada undangan untuk menjadi manusia yang lebih jujur dan merdeka.
Yang menarik dari Mark Twain bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga bisa ditiru sikap dan caranya memandang hidup. Dari Twain, kita bisa belajar untuk berani jujur dan apa adanya dalam menulis maupun berbicara, menggunakan bahasa sehari-hari yang dimengerti orang banyak, tanpa merasa harus terdengar “pintar” atau elitis. Ia menunjukkan bahwa gagasan besar justru sering lahir dari kejelasan, bukan dari kalimat berbelit-belit. Cara ini bisa kita terapkan dalam tulisan akademik, pidato, atau sekadar percakapan yang jelas, jujur, dan tidak pura-pura yang penuh kemunafikan.
Hal kedua yang bisa ditiru adalah kemampuannya mengkritik dengan humor. Twain tidak diam melihat ketidakadilan, tetapi ia memilih cara yang cerdas dengan menyindir sambil membuat orang tertawa. Itu mengajarkan kita untuk tidak mudah marah atau mengutuk, melainkan mengolah kegelisahan menjadi kritik yang tajam namun tetap manusiawi. Sikap mental seperti ini penting dalam iklim sosial-politik yang mudah panas dengan berani bersuara, tapi tetap berangkat dari kejernihan isi kepala. Terakhir, Twain memberi teladan tentang mengangkat yang lokal menjadi universal. Ia mengambil dunia kecil di tepi Sungai Mississippi dan mengubahnya menjadi cerita yang dipahami seluruh dunia. Dari situ kita bisa belajar untuk tidak minder dengan pengalaman sendiri dengan kampung halaman,bahasa sehari-hari, dan realitas sekitar bisa menjadi bahan karya atau refleksi yang bernilai, asalkan diolah dengan jujur dan mendalam. Dengan kata lain, meniru Mark Twain bukan berarti menulis seperti dia, melainkan mengembangkan keberanian untuk menjadi diri sendiri yang jujur, lucu, kritis, dan terutama selalu berpihak pada kemanusiaan.Top of Form
Jakarta 3 Desember 2025
Chappy Hakim
Kutipan dari berbagai sumber
Bottom of Form

