Donald Trump adalah tipe pemimpin yang sulit dipisahkan dari gaya bertindak. Ia bukan hanya politisi Partai Republik yang menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat dua kali secara tidak berurutan, 2017–2021 lalu kembali memegang jabatan pada 20 Januari 2025 sebagai presiden ke-47. Ia datang dengan naluri bisnis, bahasa yang lugas-kasar bila perlu, dan keyakinan bahwa politik luar negeri harus dibaca sebagai transaksi kepentingan. Di bawah label “America First”, ia cenderung memandang dunia bukan sebagai ruang seminar moral, melainkan papan catur yang harus menghasilkan “deal” yang menguntungkan Amerika, cepat atau lambat, dengan cara yang terkadang membuat sekutu pun ikut menelan ludah.
Karena itu, saat Trump bicara Venezuela, nada bicaranya jarang berhenti pada demokrasi sebagai slogan. Ia mengikatnya pada keamanan, migrasi, narkotika, dan pada akhirnya energi. Pada 3 Januari 2026, ia bukan sekadar mengancam atau memperketat sanksi, melainkan melangkah ke tindakan militer yang dramatis, operasi yang menangkap Nicolás Maduro, lalu Trump menyatakan AS akan “menjalankan” Venezuela untuk sementara sambil menyinggung pemanfaatan cadangan minyaknya. Kalimat semacam itu khas Trump: blak-blakan, berani menabrak pakem diplomasi, dan sengaja “menarik kamera” agar pesan politiknya sampai ke publik domestik sebelum sampai ke meja perundingan.
Venezuela bagi Trump juga bukan sekadar rezim yang ia cap bermasalah. Venezuela adalah titik temu berbagai hal yang ia suka jadikan panggung, unjuk kekuatan, pembuktian kepemimpinan, dan perebutan pengaruh di kawasan yang ia anggap halaman belakang Amerika, terutama ketika pengaruh China dan Rusia ikut menempel lewat jalur ekonomi dan keamanan. Maka pendahuluan ini penting sebagai kunci baca, kalau kita ingin mengerti mengapa kebijakan AS terhadap Venezuela bisa meloncat dari tekanan ekonomi ke aksi militer, kita harus lebih dulu mengerti “watak keputusan” Donald Trump watak yang menjadikan politik luar negeri bukan hanya kebijakan, melainkan pertunjukan kekuasaan yang sengaja dibuat terdengar keras.
Pada 3 Januari 2026, Washington mengubah ketegangan bertahun-tahun menjadi aksi yang terdengar seperti bab terakhir sebuah operasi rahasia, pasukan Amerika menangkap Nicolás Maduro dan membawanya ke AS, lalu Presiden Donald Trump berkata Amerika akan “menjalankan” Venezuela untuk sementara, sambil terang-terangan menyinggung pemanfaatan cadangan minyaknya. Tetapi Venezuela bukan panggung kosong. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Maduro bertemu utusan khusus China, momen yang membuat Beijing bereaksi keras dan menyebutnya pelanggaran serius hukum internasional. Di belakang layar yang sama, dokumen yang terungkap sebelumnya menggambarkan Caracas pernah menyiapkan permintaan bantuan militer ke Moskow, dari radar sampai rudal dan peremajaan pesawat, seolah Venezuela sedang menyiapkan payung bagi badai yang ia rasakan akan datang.
Mengapa Amerika melakukan itu. Versi resmi yang selalu dikedepankan ialah “penegakan hukum” yang dibungkus jargon keamanan nasional. Maduro dituding terkait narco-terrorism dan berbagai kejahatan lintas negara, sehingga operasi dipresentasikan sebagai tindakan menangkap tersangka yang kebetulan sedang menjabat kepala negara. Namun di titik itulah kontroversi meledak. Banyak pakar menilai alasan “penangkapan” ini sulit dipakai untuk membenarkan penggunaan kekuatan militer menurut hukum internasional, apalagi tanpa mandat Dewan Keamanan PBB dan tanpa otorisasi Kongres AS.
Lapisan berikutnya adalah minyak, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai struktur kepentingan. Venezuela memegang cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi industrinya lama membusuk karena salah urus, kurang investasi, dan tekanan sanksi, sehingga produksi anjlok jauh dari masa kejayaannya. Ketika Trump berbicara soal “memperbaiki” infrastruktur minyak sekaligus memanfaatkan cadangan, itu mengubah banyak orang dari sekadar membaca operasi ini sebagai “law enforcement” menjadi membaca sebagai perebutan pengaruh ekonomi-strategis dengan cara yang paling telanjang.
Di mata Washington, Caracas bukan hanya “rezim bermasalah”, tetapi simpul tempat dua kekuatan pesaing menancapkan pijakan di kawasan yang secara historis dianggap halaman belakang Amerika. China menjadi mitra ekonomi kunci melalui skema minyak untuk pinjaman dan posisi sebagai pembeli penting minyak Venezuela, sementara Rusia berperan melalui relasi strategis dan urusan pertahanan, dari dukungan politik sampai penguatan sistem militer. Karena itu, serangan dan penangkapan Maduro juga dapat dibaca sebagai pesan geopolitik yang bukan hanya menjatuhkan satu rezim, tetapi memotong saluran pengaruh lawan di titik yang dianggap rawan.
Di sinilah “hubungan dengan Nobel” menjadi menarik, karena Nobel memberi dua cermin yang saling bertolak belakang. Cermin pertama adalah Nobel Perdamaian 2025 yang diberikan kepada tokoh oposisi Maria Corina Machado. Nobel Committee menyebut penghargaan itu untuk kerja panjangnya memperjuangkan hak-hak demokratis dan transisi damai di Venezuela. Dalam politik internasional, cap moral semacam ini bukan sekadar pita penghias. Ia bisa menjadi legitimasi narasi bahwa perubahan rezim adalah “pertolongan demokrasi”, meski cara yang ditempuh adalah operasi militer lintas batas dan serta merta tetap memicu kritik keras sebagai preseden intervensi.
Cermin kedua datang dari Nobel yang lebih sunyi, jauh dari panggung kekuasaan. Baruj Benacerraf, kelahiran Caracas, peraih Nobel Kedokteran 1980, yang pada saat penghargaan berafiliasi dengan Harvard Medical School. Keterkaitannya dengan “serangan Amerika” bukan pada politik praktis, melainkan pada ironi peradaban. Venezuela melahirkan kapasitas kelas dunia, tetapi kiprah puncaknya justru tumbuh di ekosistem ilmu pengetahuan di luar negeri. Maka ketika sebuah negeri terus hidup dalam pusaran sanksi, konflik, dan pertarungan pengaruh, kerusakan yang terjadi bukan hanya pada istana dan kilang, tetapi juga pada masa depan manusianya.
Jika kita menyatukan seluruh kepingan, alasan “mengapa Amerika menyerang”, maka tidak bisa diperas menjadi satu kalimat tunggal. Ada klaim penegakan hukum, ada kalkulasi minyak, ada demonstrasi kekuatan, ada pertarungan pengaruh melawan Rusia-China, dan ada kebutuhan membangun legitimasi moral yang, sadar atau tidak, ikut dipengaruhi oleh sorotan dunia pada oposisi pemenang Nobel. Tetapi satu hal tetap menggantung dan tidak bisa ditiup angin adalah legalitas dan presedennya yang dipersoalkan luas, dan jika model ini dianggap “normal”, maka batas antara hukum, kekuatan, dan kedaulatan akan makin kabur untuk semua negara dan bukan hanya tentang Venezuela.
Jakarta 4 Januari 2026
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia

