Kemarin, 1 April, bukan sekadar tanggal yang identik dengan gurauan. Bagi saya, hari itu justru menjelma menjadi sebuah peristiwa yang diam-diam menggeser cara pandang. Saya mendapat kesempatan duduk berhadapan dan berbincang langsung dengan Pak Setyono Djuandi Darmono, sosok di balik lahir dan tumbuhnya Jababeka sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Saya datang dengan ekspektasi yang barangkali terlalu umum. Seorang pengusaha besar, penuh kalkulasi, terukur, dan mungkin menjaga jarak. Namun yang saya temui justru sebaliknya. Selama lebih dari dua jam, percakapan mengalir ringan, bahkan hangat. Beliau mendengar dengan penuh perhatian, sesekali tertawa, melontarkan pertanyaan, lalu menjawab dengan kedalaman yang terasa jujur dan tidak dibuat-buat. Tidak ada jarak. Tidak ada kesan ingin mengesankan apalagi menggurui. Dari situlah pelan-pelan saya menangkap sesuatu yang lebih bernilai dari sekadar cerita sukses. Pengalaman yang beliau miliki jelas bukan pengalaman biasa. Ia telah melewati berbagai fase sulit ekonomi Indonesia, berinteraksi dengan banyak pelaku industri kelas dunia, dan membangun jejaring yang bagi sebagian orang mungkin sulit dibayangkan. Semua itu tidak pernah disampaikan sebagai kebanggaan kosong. Justru yang muncul adalah kesadaran bahwa keberhasilan sejati lahir dari kemampuan bertahan, beradaptasi, dan terus membangun meski kerap berhadapan atau berada dalam keterbatasan.
Menjelang akhir pertemuan, beliau menyerahkan sebuah buku ke tangan saya. Sebuah karya yang tidak hanya penting bagi dirinya, tetapi juga mencerminkan perjalanan panjang yang ia tempuh. Judulnya Build a Ship While Sailing. Sebuah judul yang sederhana namun sarat makna. Buku tersebut ternyata telah dicetak sembilan kali. Bagi saya, itu bukan sekadar angka, melainkan penanda bahwa gagasan di dalamnya hidup dan pasti sangat dibutuhkan. Sepulang dari pertemuan itu, saya langsung membuka halaman demi halaman. Isinya jauh dari teori yang sering terdengar rapi namun hampa. Buku ini berbicara dari pengalaman nyata. Tentang bagaimana membangun sesuatu di tengah ketidakpastian, tentang memimpin ketika kondisi tidak pernah benar-benar ideal, dan tentang keberanian untuk tetap bergerak saat ombak belum juga reda. Seperti seorang kapten yang tidak menunggu kapal sempurna untuk berlayar, tetapi justru membangunnya di tengah perjalanan. Dari sana saya semakin memahami bahwa keberhasilan Pak Darmono bukanlah hasil kebetulan. Ia adalah akumulasi dari ketekunan, kecerdasan, keberanian mengambil risiko, dan yang paling jarang dimiliki, kerendahan hati. Sebuah kombinasi yang tidak hanya melahirkan kesuksesan, tetapi juga kebijaksanaan.
Ada satu hal yang kemudian saya bawa pulang dari pertemuan itu. Jika suatu hari kita dipertemukan dengan seseorang yang telah mencapai banyak hal namun tetap bersahaja, maka yang paling berharga bukan sekadar cerita yang ia bagikan, tetapi cara ia memandang hidup. Dan jika ada kesempatan untuk belajar dari karya atau pemikirannya, jangan disia-siakan. Kadang, dua jam bersama orang yang tepat bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi diam-diam mengubah arah berpikir kita. Dan perubahan seperti itu sering kali bertahan jauh lebih lama daripada yang kita duga. Berikut ini kesan sekilas isi buku dari Pak Darmono hasil dari “Skimming” , karena saya memang belum sempat membaca detil isi buku tersebut.
Membangun di Tengah Arus: Indonesia dalam Pelayaran Global
Di tengah lanskap global yang semakin kompetitif dan tidak pasti, gagasan pembangunan tidak lagi dapat bertumpu pada perencanaan yang serba sempurna. Buku Building a Ship While Sailing karya S. D. Darmono mengajukan tesis yang sederhana namun mendasar yakni bangsa harus bergerak maju sambil membangun dirinya sendiri. Metafora “membangun kapal sambil berlayar” menemukan relevansinya dalam konteks geopolitik mutakhir. Dunia kini ditandai oleh rivalitas kekuatan besar, disrupsi teknologi, serta pergeseran pusat gravitasi ekonomi ke Asia. Dalam situasi ini, Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk menunggu kesiapan total. Justru, ketangkasan beradaptasi menjadi prasyarat utama. Pak Darmono mengurai perjalanan Indonesia dari akar historis hingga tantangan kontemporer, seraya menekankan pentingnya budaya unggul sebagai fondasi daya saing. Namun, lebih dari itu, buku ini secara implisit menawarkan kerangka berpikir strategis yakni pembangunan nasional harus ditempatkan dalam orbit global. Indonesia bukan sekadar objek dari dinamika internasional, melainkan subjek yang harus mampu memanfaatkan peluang. Di sinilah dimensi geopolitik buku ini menjadi penting. Ketika negara-negara seperti Jepang dan Australia dijadikan rujukan pembelajaran, yang sesungguhnya ditawarkan bukan sekadar imitasi kebijakan, melainkan kemampuan membaca konteks global dan menerjemahkannya ke dalam strategi nasional. Dalam dunia yang saling terhubung, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh sumber daya semata, tetapi oleh kecerdasan dalam mengelola jejaring.
Buku ini masih menyisakan ruang untuk pendalaman, khususnya dalam aspek implementasi kebijakan. Meski begitu, kekuatannya terletak pada daya dorong intelektualnya: mengajak pembaca keluar dari jebakan status quo. Pak Darmono mengingatkan bahwa pembangunan adalah proses yang tak pernah benar-benar selesai. Dalam arus global yang terus bergerak, Indonesia tidak hanya dituntut untuk bertahan, tetapi juga untuk menentukan arah pelayarannya sendiri. Inilah tantangan besar sebenarnya yang tengah menghadang negeri ini dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka.
Jakarta 2 April 2026
Chappy Hakim
Pusat Studi Air Power Indonesia

