Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • Biography
    • Photo
    • Books CH
    • Video
    • Around The World
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Chappy HakimChappy Hakim
    Subscribe
    Chappy HakimChappy Hakim
    Home»Article»Das Kapital
    Article

    Das Kapital

    Chappy HakimBy Chappy Hakim01/04/2026No Comments7 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Karl Marx adalah salah satu pemikir paling berpengaruh sekaligus paling diperdebatkan dalam sejarah modern. Ia bukan sekadar “tokoh komunisme” seperti cap yang sering disederhanakan dalam percakapan sehari hari. Marx adalah filsuf, ekonom politik, jurnalis, dan pengamat tajam pergolakan sosial abad ke sembilan belas, masa ketika Eropa diguncang Revolusi Industri, urbanisasi besar besaran, lahirnya kelas buruh pabrik, dan menguatnya kapitalisme sebagai mesin produksi sekaligus mesin ketimpangan. Ia hidup di tengah zaman yang sedang mengganti wajah manusia dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, dan di situlah ia meletakkan pertanyaan besarnya tentang dari mana kekayaan lahir, siapa yang menikmati hasilnya, dan mengapa kemajuan teknologi justru bisa berjalan beriringan dengan kemiskinan serta keterasingan.

    Marx lahir di Trier, wilayah Prusia, tahun 1818. Ia menempuh pendidikan filsafat dan terlibat dalam tradisi pemikiran Jerman yang kuat, terutama dialektika Hegel, tetapi kemudian berbelok ke kritik sosial yang lebih “mendarat” pada kenyataan ekonomi dan kehidupan kelas pekerja. Ia bekerja sebagai jurnalis, berkali kali berbenturan dengan sensor politik, dan akhirnya menjalani hidup panjang sebagai pengasing politik, berpindah dari satu negeri ke negeri lain hingga menetap di London. Di sana ia menulis, meneliti, dan menyusun karya karya yang menjadi fondasi analisisnya atas kapitalisme modern, dari Manifesto Komunis bersama Friedrich Engels, hingga Das Kapital yang menjadi proyek intelektual raksasa. Hidupnya tidak selalu mulus. Ia sering jatuh bangun dalam kesulitan ekonomi, tetapi justru dari keterdesakan itulah lahir disiplin riset yang keras kepala, karena ia menulis sambil membaca laporan pabrik, data upah, statistik perdagangan, dan debat ekonomi pada zamannya.

    Yang membuat Marx terus relevan bukan karena semua orang harus setuju dengannya, melainkan karena ia menawarkan cara membaca masyarakat secara struktural. Marx memandang sejarah bukan sebagai deretan raja dan perang semata, melainkan sebagai pertarungan kepentingan dalam relasi produksi, siapa menguasai alat produksi dan siapa menjual tenaga kerja. Ia memperkenalkan konsep kelas sosial sebagai realitas politis, memperbincangkan eksploitasi sebagai mekanisme sistemik, dan menyoroti bagaimana krisis serta ketimpangan bukan sekadar “kecelakaan”, melainkan kecenderungan yang bisa muncul dari cara kapitalisme bekerja. Karena itu, Karl Marx tidak hanya menjadi nama dalam buku teori, tetapi menjadi simpul perdebatan panjang tentang ekonomi, keadilan, kekuasaan, dan masa depan masyarakat modern.

    Das Kapital adalah satu dari karya besar Karl Marx yang membedah cara kerja kapitalisme dari dalam, bukan sebagai ceramah moral, melainkan sebagai analisis tentang bagaimana kekayaan diproduksi, dibagi, dan diakumulasikan dalam masyarakat modern. Judul lengkapnya dalam bahasa Jerman adalah Das Kapital. Kritik der politischen Ökonomie, yang berarti kritik atas ekonomi politik, yakni kritik terhadap cara para ekonom klasik menjelaskan pasar, upah, laba, dan pertumbuhan seolah semuanya berjalan alamiah tanpa relasi kuasa. Das Kapital ditulis oleh Karl Marx dan Ia menulisnya dalam rentang panjang yang melelahkan, sambil meneliti data industri, laporan pabrik, statistik upah, dan dinamika perdagangan pada zamannya. Jilid pertama terbit tahun 1867 saat Marx masih hidup. Jilid kedua dan ketiga baru diterbitkan setelah Marx wafat, disunting dan disusun dari manuskripnya oleh Friedrich Engels, sahabat sekaligus kolaborator intelektualnya. Karena itu, ketika orang menyebut “Das Kapital”, biasanya yang dimaksud adalah proyek besar Marx, dengan tiga jilid sebagai rangka utamanya.

    Apa isi garis besarnya

    Jika diringkas, Das Kapital menjelaskan satu gagasan kunci. Kapitalisme bukan sekadar pasar bebas, melainkan sistem sosial yang membuat uang berkembang menjadi lebih banyak melalui proses produksi, dengan kerja manusia sebagai sumber nilai yang menentukan. Marx memulai dari benda paling sehari hari, yaitu komoditas. Dalam kapitalisme, banyak hal hadir sebagai komoditas, barang atau jasa yang diproduksi untuk dijual. Komoditas punya dua wajah. Ada nilai guna, kegunaan nyata bagi manusia. Ada pula nilai tukar, bagaimana ia dipertukarkan di pasar. Marx lalu masuk ke pertanyaan yang tampak teknis namun menentukan, dari mana nilai tukar itu berasal. Di sinilah ia mengajukan teori nilai kerja, bahwa nilai sebuah komoditas terkait dengan kerja sosial rata rata yang dibutuhkan untuk memproduksinya.  Dari komoditas, Marx bergerak ke uang. Uang bukan hanya alat tukar, melainkan bentuk umum dari nilai. Uang memungkinkan pertukaran melampaui barter dan memberi ilusi bahwa kekayaan lahir dari perputaran uang itu sendiri. Namun dalam kapitalisme, uang mendapat peran yang lebih agresif. Ia bukan lagi sekadar perantara, tetapi menjadi kapital, yakni uang yang dipakai untuk menghasilkan uang yang lebih besar.  Bagaimana uang bisa “bertambah” secara sistematis. Marx menjawabnya lewat konsep nilai lebih atau surplus value. Seorang buruh menerima upah untuk bekerja sekian jam. Tetapi dalam jam kerja itu, buruh menciptakan nilai yang lebih besar daripada upah yang ia terima. Selisihnya menjadi nilai lebih yang diambil oleh pemilik modal. Inilah inti eksploitasi dalam arti Marx, bukan sekadar perlakuan kasar atau niat jahat individual, melainkan mekanisme struktural yang dilegalkan oleh hubungan kerja upahan.

    Marx kemudian menunjukkan cara nilai lebih diperbesar. Ada nilai lebih absolut, yakni memperpanjang jam kerja atau memperkeras intensitas kerja. Ada nilai lebih relatif, yakni menaikkan produktivitas melalui teknologi dan organisasi kerja sehingga kebutuhan hidup buruh dipenuhi dengan biaya lebih rendah, membuat bagian nilai yang “kembali” sebagai upah relatif mengecil. Dari sini pembahasan melebar ke mesin, pabrik, disiplin kerja, pembagian kerja, dan lahirnya tentara cadangan pengangguran yang membuat posisi tawar buruh lemah.  Masuk ke tingkat sistem, Das Kapital membahas akumulasi kapital. Kapital cenderung menumpuk, membesar, dan terkonsentrasi. Perusahaan kecil tersisih, modal besar menyerap yang kecil, dan persaingan melahirkan monopoli atau oligopoli. Akumulasi ini juga menghasilkan paradoks sosial. Kekayaan meningkat, tetapi ketimpangan dan kerentanan kelas pekerja tidak otomatis hilang, sebab tujuan produksi ditentukan oleh laba, bukan oleh kebutuhan.

    Marx juga membahas krisis. Kapitalisme, menurutnya, membawa benih krisis berkala karena produksi berjalan mengejar keuntungan, sementara daya beli massa dibatasi oleh upah yang ditekan. Ada kecenderungan overproduksi, barang melimpah tetapi pasar tidak mampu menyerap, lalu terjadi pemutusan kerja, kebangkrutan, dan koreksi keras yang berulang. Dalam jilid berikutnya, Marx membahas skema reproduksi sosial, bagaimana ekonomi mempertahankan dirinya dari tahun ke tahun, serta mengapa ketidakseimbangan antar sektor bisa memicu krisis.  Ada pula gagasan penting lain yang sering dikutip, kecenderungan turunnya tingkat laba. Saat kapitalis berlomba meningkatkan teknologi, porsi investasi pada mesin dan bahan baku meningkat relatif terhadap tenaga kerja. Karena nilai lebih bersumber dari kerja, tingkat laba cenderung tertekan dalam jangka panjang, meski bisa ditahan sementara dengan berbagai “penangkal” seperti memperluas pasar, menekan upah, atau meningkatkan eksploitasi. Bagian yang paling historis dan politis adalah tentang akumulasi primitif. Marx menolak anggapan bahwa kapitalisme lahir dari kerja keras dan hemat semata. Ia menekankan proses kekerasan dan pemaksaan dalam sejarah, perampasan tanah, pengusiran petani, kolonialisme, dan pembentukan kelas buruh bebas secara hukum namun terpaksa menjual tenaga kerjanya demi hidup.

    Kenapa buku ini terus dibicarakan

    Das Kapital tetap hidup karena ia menawarkan “cara melihat” yang berbeda. Ia mengajak pembaca menembus permukaan harga dan transaksi, lalu memeriksa relasi sosial di baliknya, siapa menguasai alat produksi, siapa menjual tenaga kerja, dan bagaimana laba terbentuk. Banyak pembaca setuju, banyak pula yang mengkritik, terutama soal teori nilai kerja, prediksi historis, dan keragaman bentuk kapitalisme modern. Tetapi sebagai karya yang memaksa ekonomi berbicara dengan sejarah, politik, dan struktur kekuasaan, Das Kapital tetap menjadi rujukan besar dalam diskusi ketimpangan, kerja, krisis, dan perubahan sosial.

    Namun harus diakui, di ruang publik terutama di Indonesia tulisan Karl Marx sering langsung divonis sebagai “paham komunis” yang berbahaya, antiagama, bahkan identik dengan ateisme, seakan setiap halaman yang ia tulis adalah manifesto untuk meniadakan Tuhan dan merobohkan seluruh tatanan. Vonis semacam ini kerap lahir dari pengalaman sejarah politik abad ke dua puluh, ketika nama Marx dipakai sebagai bendera oleh rezim dan gerakan tertentu, lalu dibaca secara serba hitam putih dalam perang ideologi. Akibatnya, yang sering dibahas bukan lagi argumen, melainkan stigma, bukan lagi kritik ekonomi politiknya, melainkan label yang sudah diputuskan sebelum dibaca. Di titik inilah perdebatan menjadi penting, sebab satu hal adalah menilai dampak politik dari “Marxisme” dalam praktik, dan hal lain adalah membaca Marx sebagai pemikir yang mencoba menjelaskan mekanisme kapitalisme, ketimpangan, dan relasi kuasa dalam masyarakat modern.

    Jakarta  31 Desember 2025

    Chappy Hakim

    Dari Berbagai sumber

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleBali yang Sepi di ujung tahun 2025 ?
    Next Article Penerbangan Indonesia di tahun 2026
    Chappy Hakim

    Related Posts

    Article

    Penerbangan Indonesia di tahun 2026

    01/04/2026
    Article

    Resensi Buku Filsafat Intelijen

    01/04/2026
    Article

    Donald Trump, Venezuela,  Minyak dan Nobel

    01/04/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 Dunia Penerbangan Chappy Hakim. All Rights Reserved. Dev sg.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.